Boundless

Suci Asdhan
Chapter #25

The Great Cook-Off

Dapur di kontrakan Niko tidak pernah dirancang untuk menjadi medan perang, namun pagi ini, ruangan seluas tiga kali empat meter itu terasa lebih panas daripada ruang interogasi.


Uap mengepul tebal dari dua kuali besar yang beradu di atas kompor gas dua tungku. Kombinasi aroma santan kental yang mulai pecah dan mendidih berpadu dengan uap pedas cabai giling merah menyala, menciptakan sensasi menusuk hidung yang membuat siapa pun ingin bersin.


Di sudut kiri dapur, Ibu Niko berdiri tegak mengenakan celemek kuning terang bermotif bunga matahari. Rambutnya digelung kencang menggunakan jepit badai. Di tangannya, sebuah alu batu menghantam cobek besar dengan ritme konstan yang bertenaga—menghaluskan cabai, bawang merah, lengkuas, dan jahe dengan kekuatan penuh.


Di sudut kanan, Sarah berdiri dengan postur setegak penggaris, memancarkan aura profesional yang intimidatif. Tangannya yang biasanya menatap laporan strategis perusahaan kini memegang spatula silikon abu-abu, sementara mata tajamnya fokus mengamati layar tablet yang terlindung plastik kedap air di atas meja. Di layar itu terpampang grafik termal tingkat kematangan daging sapi secara real-time, terhubung langsung dengan termometer bluetooth berujung jarum baja yang tertancap di tengah kualinya.


"Mbak Sarah, masak itu pake perasaan, bukan pake kalkulator," sindir Ibu Niko tanpa mengalihkan pandangan dari cobeknya. Beliau memasukkan sebatang serai yang digeprek dengan sekali hantam ke dalam kuali miliknya. "Daging sapi itu makhluk hidup dulunya, dia butuh diajak ngobrol lewat api kecil berjam-jam, bukan dihitung pake rumus fisika kayak mau bikin roket!"


Sarah tersenyum tipis, menjaga wibawanya sebagai seorang Vice President. "Saya sedang memastikan kolagen dalam serat daging ini terurai secara sempurna di suhu konstan 80 derajat Celsius, Bu. Dengan teknik controlled slow-cooking ini, dagingnya akan menjadi sangat empuk tanpa harus dimasak sampai kering kerontang."


Niko berdiri di ambang pintu dapur, memegang segelas air putih dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia merasa seperti wasit tinju yang lupa membawa peluit, terjebak di tengah medan tempur antara tradisi leluhur ibunya dan inovasi sains modern calon istrinya.


Ketegangan di dapur itu mendadak terinterupsi ketika bel pintu kontrakan berbunyi nyaring.


Sinta masuk dengan tergesa-gesa, membawa sebuah tas kamera besar. Di belakangnya, melangkah seorang wanita berpenampilan modis dengan riasan wajah sempurna dan ring light portabel di tangan—Dina, mantan pacar Niko semasa kuliah yang kini sukses berkarier sebagai seorang food vlogger kuliner kenamaan ibu kota.


"Hai, semuanya!" sapa Dina ceria, langsung mengarahkan kamera ponselnya ke arah dapur. "Wah, aromanya luar biasa kontras ya? Yang satu bau rempah tradisional pekat, yang satu lagi... bau apa nih, kok harumnya mirip karamel?"


Niko memejamkan mata sejenak, merutuki takdir ibunya yang benar-benar mendatangkan Dina sebagai juri independen.


Sarah menoleh sekilas, memberikan anggukan profesional. "Selamat datang, Dina. Silakan letakkan kamera Anda. Rendang saya akan siap dalam waktu dua jam."


"Dua jam?!" Ibu Niko melengking kaget, hampir menjatuhkan ulekan batunya. "Rendang sejati butuh waktu minimal enam jam sampai warnanya hitam legam dan minyaknya keluar maksimal! Kalau cuma dua jam, itu namanya semur daging, Mbak Sarah!"


"Kita buktikan nanti, Bu," jawab Sarah tenang, jarinya mengetuk layar tablet untuk menaikkan suhu kompor induksi portabelnya sebesar dua derajat.


Lihat selengkapnya