Break My Loneliness

nur aeni
Chapter #7

Perosotan

Siang itu selesai olahraga pagi, semua anak panti sarapan dan dilanjutkan dengan kerja bakti. Semua bersuka cita membersihkan panti, ada yang kebagian membersihkan di dalam kamar dan ada yang membersihkan kamar mandi.Tapi anak-anak yang masih kecil biasa nya hanya di suruh main saja di taman termasuk aku.


Jadi saat itu semua yang masih kecil Raka,Rehan,Budi,Haris,kak Rio dan aku. Kami ber enam memutuskan bermain polisi dan maling di taman. Kemudian saat kami sedang bermain anak-anak perempuan menghampiri kami,mereka bermaksud untuk ikut bermain bersama.


"Ayo! gambreng dulu." Kata Rehan. lalu kami semua berkumpul membentuk lingkaran.


"Hompimpa Alaium gambreng!"


"Zain sama vio jadi polisi!" Kata kak Rio.


"CIEEEEEE!" Semua nya heboh.


Kenapa sih! ini harus terjadi kepadaku. wajah ku mulai memerah lagi dan viona juga terlihat begitu.


Kami pun melanjutkan permainan.


Di sela permainan karna tugas ku adalah menjadi polisi, aku bertugas menangkap anak lain nya selain viona.


Permainan pun berlangsung, kali ini aku sedang menargetkan rehan yang sedang berlari menuju perosotan. Rehan berlari, memasuki kolong perosotan.dengan cepat aku pun aku berlari kesana dan menarik sedikit baju nya. Sampai saat kaki ku menginjak tanah di bawah perosotan,tiba-tiba pandangan ku kabur.


Seperti kilatan masa lalu saat ini sedang terjadi di depan mata ku,membuat ku sedikit mual. Waktu seakan berhenti berputar. potongan demi potongan kejadian masalalu yang sedang berulang. Aku pun mencoba memejamkan mata,mencoba menjelajahi arti semua ini.


Di penglihatan ku, Aku melihat senyuman seorang lelaki yang jahat sedang mengayunkan cangkul.


Tanah di sekitar nya mulai berhamburan dia terbu-buru menyeret tubuh anak perempuan itu dengan cepat di keheningan malam.


"To...looongggg"


telinga ku mendengar suara yang sangat serak dan berat.


Tatapan ku menuju kedepan. bukan baju rehan yang sedang ku pegang saat ini namun, gaun seorang anak perempuan dengan darah mengalir di antara kaki nya. Terus mengalir menjadi hitam. Dengan wajah yang pucat dan air mata darah menghiasi dia tersenyum ke arah ku.


"Kamu, bisa melihat ku kan."


Lihat selengkapnya