Siang setelah sholat zhuhur kak Rio mencoba mendekati bu Ida, kak Rio mencoba untuk meminjam kunci UKS yang sekarang menjadi gudang penyimpanan barang-barang bekas.
Aku mengamati kak Rio dari kejauhan, nampak nya dia berusaha dengan sangat keras merayu bu Ida agar meminjamkan kunci tersebut. Kemudian, entah kenapa kak Rio membalikan badan dengan ekspresi murung.
Dari jauh dia mulai menghampiri ku yang sedang mengamati di balik tembok pilar.
Kemudian kak Rio menggelengkan kepala, seperti nya tidak berhasil.
"Hmm.. bagaimana kita mengunakan cara ke dua kak?" Aku memegang dagu ku agar tampak keren.
"Emang nya ada cara ke dua ?" Kak Rio bertanya sambil garuk-garuk kepala dan mengerutkan dahi nya.
"Bagaimana kalau kita ambil kunci nya diam-diam, saat bu Ida sedang meleng. Terus kita kembalikan lagi bilang aja kunci nya jatoh"
"Ide bagus!"
"Jadi siapa yang mau ngebuntutin bu Ida sampai meleng?" Tanya kak Rio.
"Ya kakak hehe"
"Iih! Terus kamu ngapain ?"
"Aku mau keperosotan."
Aku menjelaskan dengan rinci kepada kak Rio bahwa, beberapa kali aku melihat penampakan hantu Alya di perosotan saat baru datang ke panti. Jadi aku fikir ada petunjuk lain di sana tepat nya di bawah perosotan.
Kak Rio pun mengangguk dan bilang aku harus berhati-hati dengan mang Asep. Karna dia memang terkenal sensitif dengan anak yang suka main ke bawah perosotan.Aku pun pergi menuju pintu depan panti dan mulai membuka pintu nya dengan hati-hati.
Sambil melihat dengan seksama ke kiri dan ke kanan, memastikan kalau keadaan aman dari mang Asep. Aku mulai keluar dari pintu dan berjalan pelan-pelan. Ku lihat pintu gerbang panti terbuka lumayan lebar namun, keadaan sedang sepi.sekarang aku memberanikan diri untuk berlari ke perosotan.