Break My Loneliness

nur aeni
Chapter #11

Busa putih

Aku coba berontak.

Suasana mencekam di antara kegelapan dan bau debu yang bertaburan di sekitar kami.Dia terus membekap ku mencoba melumpuhkan ku.nafas ku naik turun dan keringat ku deras bercucuran.

Panik.menyerang ku membuat ku cemas akan kematian yang terbayang di depan mata.


"Ssst..! Diam dulu !! Diam !"


Seperti nya aku mengenal suara ini.


Aku mencoba diam, coba menurut dengan tetap waspada. Dan dia merenggangkan dekapan nya memberiku sedikit ruang untuk bernafas.

"Jangan teriak ya. Ini mamang."

Aku mengangguk.itu adalah mang Asep. Saat ini tangan nya sudah tidak membekap mulut ku dan aku mulai membalikan badan ku menghadap nya.

"Kamu ngapain di sini malam-malam ?"

Dia menunggu jawaban ku dengan tangan yang terlipat. Dia menyipitkan mata membuat ku ciut. "Kalau kamu mencurigakan terus, nanti mamang adukan pada pak kyai. Mau apa anak kecil malam-malam ke sini ? Kamu bahkan bisa masuk kesini. Dan jangan coba-coba menangis lagi."

Aku menelan ludah. Aku berusaha menatap mamang di antara kegelapan dan sedikit cahaya dari pintu yang sedikit terbuka.

"Mamang.. aku di sini mau bantu Alya." Terdengar suara helaan nafas dari mang Asep.


Seperti muak.


"Kalau mamang tidak percaya aku punya bukti kalau Alya di jahatin di sini. Di ruangan ini."

"Di jahatin siapa sih maksud kamu ? Kemarin nuduh mang Asep. Padahal mamang ga tau apa-apa."

"Aku sekarang tau bukan mang Asep pelaku yang mengubur alya.jadi mang Asep bukan penjahat nya.mang Asep ga punya tato di pinggang."


Mang Asep terdiam.


"Tato di pinggang ?"


"Iya .." aku ragu-ragu.


"Iya.... Itu pelaku nya yang jahatin Alya, yang mengubur Alya malam-malam." Muka mang Asep mulai berubah seperti nya dia mulai mempercayai ku.


"Oke baiklah Zain. Terus mana bukti nya ? Kalau betul mamang akan bantu kamu."


"Aku bisa percaya mamang ? Apa mamang kenal orang dengan tato di pinggang ?"

Lihat selengkapnya