Di sudut aku menatap langit. Ini di luar. di teras depan asramah panti yang bersebelahan dengan taman bermain.
Tes..tes perlahan air mata ku jatuh memenuhi pipi. Hari ini tidak ada kegiatan ..hari ini bebas karna para pengurus panti sedang kerumah sakit karna kejadian tadi pagi.
Di saat seperti ini aku merasa kalau seperti nya aku tidak perlu dekat dengan siapapun,kalau menjadi dekat dengan ku hanya membuat orang yang ku sayang di sekitar ku menghilang. Dari orang tua ku,olive lalu sekarang kak Rio pun mengalami kesialan karena dekat dengan ku.
Aku hanya berharap kalau kak Rio akan segera membaik, namun bayangan senyum mang Udin membuat ku takut. Apa harus nya aku tidak membantu Alya ?
Alya kan memang sudah mati.
Kenapa aku harus repot-repot membantu nya. Lihat kak Rio jadi korban. Ini pasti ulah mang udin kan ? Secara tidak langsung dia memperingatkan ku untuk diam saja. Untuk jangan berisik tentang perbuatan nya atau orang di sekitar ku akan jadi korban berikut nya.
Jadi tidak apa-apa kan, kalau ada korban selanjut nya yang mengalami apa yang Alya rasakan ?
Ughh...
Tiba-tiba aku merasa mual karna terlalu banyak pikiran. Karna aku tidak sanggup berfikir lagi tapi aku juga tidak mau ada korban lagi yang seperti Alya.
"Masih kecil udah banyak pikiran"
Aku menoleh ke depan. mang asep menyodorkan pelastik kecil hitam di hadapan ku.
"Jajan nih, jangan bilang yang lain ya. Nnti mamang di bilang pilih kasih"
Aku hanya terdiam menatap mang Asep. Tapi entah kenapa air mata ku malah mengalir lagi. Ini seperti kebaikan kecil yang membuatku terharu.
Di dalam plastik kecil itu ada ice cream dengan wadah kecil rasa coklat dan vanilla, ada juga wafer coklat dan beberapa permen.
"Yeeehhh....malah makin nangis. Malu ih masa anak cowok nangis. Udah..udah! "
Aku tidak bisa berhenti menangis, sampai-sampai mang Asep duduk di sebelah ku memeluk ku lalu mengusap punggungku. Menenangkan kan ku.
"Bagaimana pun kamu masih kecil, sekarang mengerti kan kalo kamu bisa membahayakan orang sekitar dan membahayakan diri kamu sendiri dengan ikut campur urusan orang lain ?"
"Tapi aku cuma mau bantu Alya mang."
"Iya ngerti dan memang kasus ini harus di selesaikan dan mang Udin harus bertanggung jawab dengan perbuatan nya. Dan seperti nya Rio itu mengalami keracunan yang di buat oleh mang Udin."
Aku mengangguk sambil menatap mang Asep.Dan mang Asep tersenyum kecil.lalu mengacak-acak rambut ku.
"Bahkan kamu udah menebak nya kalau ini perbuatan mang Udin, keren loh."
"Terus kita harus gimana mang ? Kita berhenti aja. Aku takut kak Rio nnti di apa-apa in lagi."