Breezy Arlea Almas

Ayang Afrianti
Chapter #1

1.

Namanya Breezy Arlea Almas, tapi sering dipanggil Arle ole h teman-temannya. Tubuhnya tegap, tinggi, kurus, dengan rambut sedikit panjang yang menambah ketampanan dan menegaskan wajah tirusnya.

Arle ini masih duduk di bangku SMA. Ia menempati sebagai siswa berprestasi di kelasnya, yaitu kelas dua IPA 1.

Bukan hanya di bidang akademik saja, Arle juga sangat bagus di bidang non-akademik. Ia mengikuti klub musik di sekolahnya, menjadi drumer dan sering pentas di berbagai lomba dan meraih juara.

Tidak ayal jika Arle menjadi salah satu human terfavorit di sekolahnya. Hehe...

Selain kepintarannya, sikap Arle yang seperlunya membuat siapa pun kagum padanya. Arle sudah seperti kulkas berjalan yang banyak peminatnya.

“Le, hari ini latihan?” tanya Lukas, salah satu teman bermusik Arle.

“Kayaknya iya,” jawab Arle melirik sedikit dan kembali fokus pada ponselnya.

“Nonton apa sih, Le? Serius amat,” tanya Victo sengaja ia menyenggol bahu Arle. Namun, tidak ada respons.

“Iya, gue lihat daritadi lu fokus terus sama hape. Nonton apa, sih? Jadi penasaran sampe lu gak pernah ngomong,” timpal Arkan.

“Pita suara diciptakan buat dipake, Le. Manfaatin, jangan cuman dianggurin, kesian!” tambah Bobby pula.

Di saat teman-temannya menyindir dan menjahilinya, Arle hanya mendengus geli tanpa mempedulikan atau menjawab apa yang mereka ucapkan.

Sementara itu, sejak tadi ia hanya menggulir laman sosial medianya tanpa minat. Sebenarnya tidak ada yang bisa ia tonton, karena reels instagramnya terlalu membosankan.

Hanya saja Arle tidak tahu harus melakukan apa di sela waktu istirahatnya. Ia terlalu malas untuk keluar dan berbaur dengan teman lainnya. Toh tanpa pergi keluar pun teman-temannya sudah datang merecoki Arle dengan mandiri, dan tanpa diundang.

“DI SINI SIAPA YANG NAMANYA ARLE?”

Di saat mereka sedang mengobrol dan bercanda, tiba-tiba di depan kelas sudah berdiri seorang siswi berambut panjang menatap ke segala penjuru kelas dengan tajam. Di tangannya ia membawa sebuah kotak bekal, terlihat lucu, tapi berbeda dengan raut wajahnya.

“Wah, lu ada main cewek, Le?” bisik Bobby yang duduk di samping Arle.

“Nggak!” jawab Arle singkat dan tanpa ekspresi.

“Terus itu cewek siapa nyariin lu?”

Sebelum Arle menjawab, siswi tersebut sudah berjalan menghampiri bangku Arle yang kini sedang ramai dengan teman-temannya.

“Lu Arle?” tanyanya menunjuk Arkan.

“Bukan, gue Arkan!” jawab Arkan sebal ditunjuk seperti itu.

“Lu?” tanyanya lagi seraya menatap Victo.

“Bukan, anjir!” jawab Victo cepat.

“Terus siapa yang namanya Arle? Gue capek banget nyarinya!” keluh siswi tersebut membuat semuanya terdiam bingung.

“Lu seriusan gak kenal sama orang yang lu cari?” tanya Lukas menatapnya tidak percaya.

“Kagak kenal! Gak penting juga!” jawab siswi tersebut membuat mereka riuh tidak percaya dengan jawabannya.

“Terus buat apa lu nyari si Arle, anjir, kalau nggak kenal dan gak penting?!” tanya Victo pula seraya mengikuti nada bicara siswi tersebut di bagian akhir kalimat.

“Ck, banyak nanya!” jawab siswi itu lagi mendelik sebal. “Cepet, di mana si—“

“Gue Arle! Ada apa?” potong Arle seketika membuat siswi itu terdiam menatapnya dengan mulut terbuka.

“Lo serius Arle?” tanyanya seraya mendekati Arle dan membuat Arle tidak nyaman.

“Iya,” jawab Arle.

“Wah, pantesan! Jadi elo si Arle Arle itu?”

Tiba-tiba semua orang yang ada di dalam kelas tersentak kaget saat siswi tersebut menggebrak meja seraya bicara lantang.

“Lu bikin susah gue! Nih, makan! Dari nyokap gue!” lanjutnya seraya menyimpan kotak bekal yang ia bawa ke hadapan Arle.

“Nyokap gue namanya Cindy! Dan gue anaknya yang selalu bosan denger nama lu dipanggil terus nyokap! Gue Yuwin!”

Tatapan siswi yang bernama Yuwin itu sangat tajam saat menatap Arle. Seperti kesal dan murka karena sejak tadi ia mencari-cari keberadaan Arle.

“Udah, selesai! Gue mau balik! Bhay!” kata Yuwin lagi seraya berlalu. Namun, baru beberapa langkah, ia sudah berhenti lagi dan segera membalikan tubuhnya kembali menatap Arle.

“Bekasnya simpan di kolong meja lu, besok pagi gue ambil!” lanjutnya dan berlalu.

Sepersekian detik, suasana hening. Mereka hanya menatap kotak bekal berwarna biru tua di atas meja. Seakan kotak bekal itu menampilkan tontonan menarik dan membuat mereka terlena di dalamnya.

Sampai pada akhirnya, Arkan berseru membuat suasana kembali gaduh.

“Woah, Arle mainannya tante!” serunya seraya menunjuk kotak bekal.

“Gila sih, gak nyangka, pendiem gini mainannya tante, sampe dianterin ke sekolah bekalnya!” timpal Bobby mendramatisir.

“Ya ampun, Le! Lu ganteng, masih banyak cewek yang mau, muda pula! Kenapa milih tante-tante?” kata Lukas menepuk pundak Arle seolah prihatin.

“Tapi keknya cantik, ye! Secara anaknya aja bening bener,” timpal Victo pula dengan wajah mesumnya.

“Siapa tadi namanya? Yuwin?” lanjutnya.

“Iya bener, cantik dia. Kelas apa ya?”

Lalu pembahasan pun beralih pada Yuwin dan silsilahnya.

Sementara itu Arle masih terdiam menatap kotak bekal tersebut tanpa berniat membukanya.

Tante Cindy masih ingat padanya? Lalu anaknya pun kini sekolah di tempat yang sama bersama Arle? Lantas bagaimana Arle harus bersikap?

Entah ini kebetulan, atau memang sudah direncanakan oleh ayahnya. Arle tidak tahu.


------------


Lihat selengkapnya