Breezy Arlea Almas

Ayang Afrianti
Chapter #2

2.

“Akhirnya lo makan juga bekalnya, thanks, ya Le!” ucap Yuwin tersenyum lebar saat ke esokan harinya ia datang untuk mengantarkan makanan.

Arle hanya mengangguk kecil. Lalu ia meraba laci mejanya dan mengeluarkan satu buah rice bowl lengkap dengan beef bulgogi yang wangi tercium.

“Buat lo!” ucap Arle menyodorkan makanan tersebut.

“Woah apa nih? Sogokan buat gue?” tanya Yuwin. Ia duduk di bangku meja Arle dan membuka makanan tersebut tanpa malu. Lalu menyuapnya hingga beberapa suapan.

“Enak, Le,” ucapnya mampu membuat bibir Arle tertarik meski samar.

“Lo gak makan bekalnya?” tanya Yuwin. Mendadak hari ini dia jinak.

“Nggak,” jawab Arle.

“Enak itu, ada udang asam manis, cumi balado, sama ayam geprek.”

Yuwin berbinar saat mengatakan hal itu.

“Lo, makan?” tanya Arle tiba-tiba membuat Yuwin terdiam.

“Makanlah! Makanya gue tahu itu enak!” ucapnya kemudia seraya kembali menyuap.

Arle mendengus geli. Ternyata Yuwin pintar bersandiwara. Mungkin jika Arle tidak mendengar percakapannya kemarin, ia tidak akan peduli pada Yuwin. Namun, karena Arle mendengar, Arle memutuskan untuk iba.

Iya, hanya sebatas kasihan.

Namun, disertai rasa benci beribu kali lipat untuk Cindy, yang lebih mengutamakan menjilat Arle daripada harus memperhatikan anaknya sendiri. Sampai kapan pun Arle tidak akan pernah mau memakan masakan buatan wanita itu.

“Le, lo anak pindahan apa gimana, sih? Kok gue gak tahu lo hidup di sekolah ini,” tanya Yuwin.

“Kepo,” jawab Arle yang membuat Yuwin kesal dan berdecih sebal.

“Woah, mukbang!!!!”

Komplotan Victo datang menghampiri Arle.

“Makan, makan! Dikasih si Lele nih, enak!” kata Yuwin seolah menawarkan makanannya yang tinggal sesuap itu.

“Nawarin gaib lu, Win!” decak Victo.

“Belilah, jangan mau gratisan,” kata Yuwin.

“Lo sendiri gratis,” ujar Bobby.

“Si Lele kasih, kalau dia gak kasih, mana mau gue ambil,” jawab Yuwin lagi menghabiskan makanannya hingga tidak tersisa.

“Lo laper apa gimana, Win? Makan kek orang yang gak pernah nemu nasi aja,” kata Lukas agak aneh melihat cara makan Yuwin yang cepat.

“Gue sangsi kalau lo cewek, gak ada anggun-anggunnya,” timpal Arkan.

“Up to you! Yang penting gue kenyang. Jaman sekarang jaim, gak bakalan makan lu pada!” jawab Yuwin lagi.

“Bener sih!” kata Lukas diangguki mereka semua.

Melihat itu Arle malah semakin iba pada gadis itu. Entah apa yang sudah ia alami. Arle tidak tahu.

“Kapan-kapan, kalau ada makanan enak lagi, kasih tahu gue, ye, Le,” ucap Yuwin.

“Iya,” jawab Arle pula.

“Gak sadar diri, padahal dia bawain makanan enak tiap hari. Dasar orang kaya, merendah untuk meroket,” cibir Victo.

“Rakyat diem aja!” kata Yuwin, lalu pergi setelah melambaikan tangan pada Arle.

“Sejak kapan kalian dekat?” tanya Bobby mulai menginterogasi Arle.

“Gak dekat,” jawab Arle pula.

“Kenapa lu kasih makanan? Di rumahnya aja banyak makanan enak pasti,” tanya Victo pula.

Lihat selengkapnya