“Hai, Yuwin!” sapa Arkan saat ia bertemu dengan Yuwin di gerbang sekolah.
“Hai—“
Senyum ceria Yuwin hilang berganti dengan raut wajah yang bingung.
“Arkan, gue Arkanavaleno,” ucap Arkan paham betul jika Yuwin tidak tahu namanya.
“Oh, iya. Sorry, gue lupa!” ucap Yuwin tersenyum lebar.
“Aman.”
Mereka pun berjalan bersama menuju sekolah.
“Lo sekelas sama si Lele?” tanya Yuwin.
“Nggak. Gue IPA 3,” jawab Arkan.
“Oh, kirain sekelas. Kok bisa kenal si Lele?”
“Satu hobi.”
“Um.”
Yuwin mengangguk paham.
“Hobi lo apa?” tanya Arkan pula.
“Nyanyi?” balas Yuwin tidak yakin dengan hobinya sendiri.
“Beneran? Wah, cocok banget! Kita lagi nyari vocalis cewek!” seru Arkan, tiba-tiba tertarik. Sedangkan Yuwin tersenyum ragu seraya menggaruk lehernya yang tidak gatal.
“Eng, gitu, ya?” ucap Yuwin tersenyum hambar. Dia sendiri bingung harus menjawab apa.
“Nanti pulang sekolah ikut latihan aja!” ucap Arkan lagi penuh semangat.
“Nggak deh kayaknya—“
“Gapapa, Win. Lo harus pede! Siapa tahu cocok dan kita bisa jadi keluarga di band!”
Yuwin tertawa hambar mendengar ucapan Arkan.
“Gue tunggu nanti pas pulang, ya! Gapapa, ini jadi kejutan buat anak-anak lain,” kata Arkan lagi.
Yuwin hanya tersenyum tanpa menjawab iya. Dirinya terlalu bingung harus mengatakan apa, jawabannya tadi hanya jawaban refleks saja. Aslinya Yuwin sendiri tidak tahu hobinya apa.
Baru saja Arkan pamit lebih dulu ke kelasnya, Yuwin malah harus kembali ke gerbang. Ia lupa membawa baju olahraganya.
Hari ini pelajaran olahraga, dan bajunya masih ada di bagasi motor. Lantas Yuwin pun segera berlari kembali ke parkiran.
“Hampir lupa, inces ini,” ucapnya tersenyum sendiri saat mengambil baju olahraganya.
Namun, senyuman itu harus pupus saat melihat sebuah mobil terparkir di depan gerbang sana.
Di sana bisa ia lihat Arle turun dari mobil tersebut. Sebenarnya itu bukan menjadi alasan senyum Yuwin luntur, tapi kehadiran ibunya yang duduk di jok depan bersama seorang pria, itulah alasannya.
Cindy menurunkan kaca mobilnya, lalu tersenyum hangat menatap Arle yang berjalan menjauh, seolah tidak peduli dengan kehadirannya.
Entah kenapa melihat hal itu, hati Yuwin merasa perih. Tidak pernah sekali pun di dalam hidupnya Cindy mengantar Yuwin ke sekolah. Bahkan sejak kepergian ayahnya, sikap Cindy berubah drastis pada Yuwin.
Namun, kini Yuwin melihat Cindy mengantarkan Arle dengan seorang pria berkacamata yang memegang kemudi.
Mendadak matanya berembun, Yuwin iri pada Arle. Arle sendiri tahu jika Yuwin melihatnya, tapi tidak ada sedikit pun niatan untuk menyapa atau membuat pernyataan. Arle hanya berjalan berlalu begitu saja tanpa melirik Yuwin sedikit pun.
“Peduli katanya? Peduli taik kucing!” gumam Yuwin saat melihat sikap Arle seperti itu.
Lantas ia pun kembali ke dalam sekolah untuk menuju kelasnya.
------------
“ARKAN!!!!” seru Yuwin saat ia melihat Arkan yang berjalan bersama teman-temannya menuju kelas Arle.
“Yuwin!!!” balas Arkan gembira seraya melambaikan tangannya.
Victo, Lukas, dan Bobby yang berada di dekat Arkan pun terheran melihat interaksi mendadak antara Arkan dan Yuwin.
Mata mereka melirik Arkan dengan raut wajah bingung. Sejak kapan mereka kenal dan akrab?
“Lo mau ke mana?” tanya Yuwin saat menghampiri mereka.
“Kelasan Arle. Ikut?”
“Boleh, deh!”
“Gas!”
Mulut ketiga teman Arkan itu diam, tapi mata mereka saling bicara. Melirik satu sama lain seolah bertanya apa sebenarnya yang terjadi antara Arkan dan Yuwin. Namun, masing-masing menggelengkan kepala tanda tidak tahu apa penyebabnya.
Mereka hanya mengikuti langkah Arkan dan Yuwin di depan sana yang kini mengobrol seraya sesekali tertawa.
“Wassap, bro!” seru Victo saat ia melangkah masuk ke kelas Arle.
Arle hanya menoleh dan tersenyum tipis. Selebihnya ia menatap Yuwin yang kini berdiri berdampingan dengan jarak dekat bersama Arkan. Sejak kapan mereka akrab?
“Le, si Arkan ada pengumuman,” ucap Bobby, duduk di kursi depan meja Arle.
Seperti biasa, tanpa menjawab, Arle hanya menoleh sebagai isyarat pertanyaan.
“Gue ada kejutan buat kalian,” ucap Arkan tersenyum lebar.
“Kejutan apa?” tanya Victo.
“Gue udah nemu vocalis cewek yang lagi kita butuhin buat lagu baru kita,” jawab Arkan membuat mereka terkejut.
“Hah? Siapa? Di mana lo nemu?” tanya Victo lagi mewakili teman-temannya yang lain.
“Ada lah pokoknya. Nanti pas latihan gue bawa,” jawab Arkan seraya berkedip pada Yuwin yang tersenyum canggung.