“Kirain gak pulang!”
Ucapan itu terdengar saat Yuwin baru saja membuka pintu rumahnya.
“Pengennya sih gitu, tapi belum punya rumah, jadi masih numpang,” jawabnya tersenyum manis pada Cindy.
“Keluyuran jam segini, dari mana?” tanya Cindy menatapnya tajam.
“Khawatir mah bilang aja, kan ada telepon. Tanya anaknya di mana? Pulang jam berapa?”
Bukannya menjawab, Yuwin malah menyikapinya dengan santai.
“Chayra Yuwina Vellin! Jawab aku yang benar! Jangan selalu membangkang!” seru Cindy.
“Aku nggak membangkang, memang itu jawabannya kok!” kata Yuwin lagi. Ia menyimpan sepatu di dalam rak, lalu berjalan menuju kamarnya.
“Sikapmu tidak beda jauh dengan ayahmu yang bajingan!”
“Sayangnya aku tidak pernah tahu ayahku yang mana!”
“YUWIN!”
Cindy geram setiap kali Yuwin mengatakan hal itu.
“Itu fhakta!!!” kata Yuwin santai, seolah ia sedang berbicara dengan sahabatnya sendiri.
“Aku tidak ada waktu untuk ke rumah sakit,” lanjutnya.
“Buat apa kamu pergi ke rumah sakit? Nggak ada yang peduli dengan kesehatan kamu!” kata Cindy.
“Nggak peduli kok nanya,” sahut Yuwin terkekeh kecil.
“YUWIN!”
Lagi-lagi Cindy membentak.
“Tes DNA! Karena sekali lagi aku tegaskan, Kaisan, aku yakin dia bukan ayahku yang sebenarnya!” jawab Yuwin kali ini menatap mata Cindy dengan tajam. Sedetik kemudian ia kembali pada tatapan innocent-nya dan tersenyum manis.
“Aku mau istirahat, bye besti!” lanjutnya dan segera masuk ke dalam kamar, tidak lupa dengan menutup pintu kamar sekeras mungkin.
Hubungannya dengan ibunya memang tidak pernah akur. Cindy selalu melontarkan kata-kata menyakitkan.
Awalnya Yuwin mengambil hati semua itu dengan cara menangis dan terpuruk. Ia masih bertanya apakah ia benar-benar anak Cindy atau bukan. Namun, lambat laun, Cindy semakin kasar padanya dalam bicara. Maka Yuwin pun berusaha tidak peduli dan membalas semua itu seperti yang Cindy lakukan.
Baginya, tidak ada seorang ibu di dunia ini. Ia lahir ke dunia hanya menjadi titipan, dan hubungannya dengan Cindy pun hanya sebatas transaksional.
Di usianya kini, Cindy bertanggung jawab untuk membiayai keperluannya, termasuk sekolah. Di masa mendatang nanti, Yuwin tidak akan lupa cara membayar semua ini. Makanya dia menuliskan uang masuk pemberian dari Cindy, begitu pun dengan apa yang dia makan.
Selebihnya Yuwin malah sering memakan mie instant daripada masakan Cindy. Bukan karena Cindy tidak menawarinya makan, melainkan jika makanan itu terlalu mewah, Yuwin urung memakannya karena itu pasti harganya mahal dan Yuwin memikirkan tagihannya yang semakin melonjak untuk ia kembalikan nanti.
Hal itu menjadi alasan kenapa ia lebih memilih memakan roti dan susu di sekolah, sementara Arle dibekali makanan buatan Cindy.
Arle itu orang lain, Yuwin tidak peduli. Sedangkan dirinya harus membalas jasa Cindy selama ini. Jadi, ia harus irit.
Demi apa pun, Yuwin bukan tipikal orang yang tidak enakan. Dia akan menerima pemberian apa pun dari orang lain, terkecuali Cindy, ibunya sendiri.
“Tabunganku belum cukup untuk ngekos sendiri,” ucap Yuwin saat melihat buku tabungannya.
Sebenarnya tabungannya cukup untuk biaya kos satu tahun. Namun, Yuwin memikirkan untuk biaya sehari-harinya. Tidak mungkin ia harus menahan lapar setiap waktu.
Jika di rumah ini, anggap saja jatah makannya sebagai kasbonan. Dan dia akan membayarnya nanti setelah ia bekerja.
“Hidup itu membosankan. Tapi mati lebih membosankan, nggak ada wifi di sana!” ucap Yuwin seraya menjatuhkan tubuhnya pada kasur kesayangannya.
“Apa minta Kaisan kirim uang, ya?” pikirnya lagi.
“Ah, nanti malah enak aku. Dia kalau kirim gak pernah nanggung abisnya!” lanjutnya lagi. Meski bibirnya berucap demikian, tapi jemarinya sibuk menari indah merangkai kata untuk dikirimkan pada Kaisan, terduga sebagai ayahnya saat ini—menurut Yuwin.
“Papa, aku butuh uang 100 juta buat menampar mulut Cindy agar dia menghargaiku,” ucap Yuwin lagi lalu ia terkekeh sendiri.
“100 juta upil kecil bagi si yang katanya ibu kandung itu. Jadi berapa, ya? 5 M? Mati aja Kaisan, matii!!!”
Lantas Yuwin tergelak oleh pikirannya sendiri.
----------
Sementara itu Arle baru tiba di rumah, ia sedang menyantap makan malamnya bersama Sani. Ibunya tidak pernah tidur sebelum memastikan Arle pulang dan makan dengan benar.
“Gimana di sekolah tadi?” tanya Sani.
“Baik, Ma,” jawab Arle tersenyum lebar.
Iya, dia mencair hanya pada ibunya. Orang yang sangat ia cintai.
“Bandnya lancar?”
“Lancar. Kami baru merekrut vokalis cewek tadi, dan dia bagus sesuai yang kami cari.”
“Wah, siapa namanya?”
Arle terdiam. Apakah harus membahas Yuwin saat ini? Bagaimana jika Sani bertanya silsilah Yuwin? Mungkinkah Arle harus mengatakan jika Yuwin anak Cindy?
“Yuwin.”
Pada akhirnya ia pun tidak bisa berbohong.
Sani tersenyum. “ Pasti keren dia. Secara, sekarang ini sudah jarang perempuan bisa nyanyi lagu yang kamu bawain,” katanya.
“Iya, dia screamnya bagus,” puji Arle.
“Kapan-kapan ajak dia main ke sini, Mama mau kenal,” kata Sani pula membuat Arle terdiam.
“Iya, Ma,” jawabnya kemudian.
“Ayah pulang!” ucap Farhan dari arah pintu utama.
Sani tersenyum menyambut kedatangan suaminya. Farhan pun mencium kening Sani penuh sayang. Lalu mengusak rambut Arle yang hanya diam tanpa merespons sedikit pun.
“Brownies dari Cindy, makanlah!” ucap Farhan seraya menyimpan satu kotak kue brownies.
“Wah, terima kasih,” kata Sani seraya membuka kue yang Farhan bawa.
“Enak, coba aja. Manisnya pas, cokelatnya kerasa,” kata Farhan memberitahu rasa kue tersebut pada Sani. Namun, terdengar seperti memuji di telinga Arle.
“Jangan kebanyakn makan manis,” katanya menatap ibunya. Sebenarnya itu ucapan sarkas pada ayahnya agar ia tidak membawa apa pun pemberian dari Cindy.
“Ibumu bebas dari gula darah, jadi masih aman makan yang manis-manis,” kata Farhan.
“Enak, Breez. Coba kamu makan,” kata Sani seraya menghabiskan satu potong brownies tadi.
“Aku gak suka kue,” jawab Arle.
“Ya sudah buat Mama saja,” kata Sani sangat paham jika itu sebuah penolakan.
Sedangkan Farhan hanya menghela nafasnya lelah. Hari ini ia tidak mau berdebat, melihat Arle mau berada satu mobil dengan Cindy saja sudah membuatnya senang. Itu cukup untuk membeli hati Farhan. Jadi, masalah kue itu menjadi pengecualian malam ini.
Selesai makan, Arle pamit untuk istirahat. Setelah mencium Sani, ia pergi begitu saja tanpa mempedulikan Farhan yang sudah siap meregangkan kedua tangan untuk menerima pelukan.
----------