Breezy Arlea Almas

Ayang Afrianti
Chapter #5

5.

“Le, gue kepikiran buat panggilan baru kita.”

Arle terdiam saat menatap ponselnya. Ada pesan dari nomor baru yang masuk dan berisi pesan yang tidak Arle pahami.

“Siapa?”

“Yuwin.”

Dalam hati Arle ber-oh ria saat mengetahui orang yang mengiriminya pesan. Namun, ada satu pertanyaan yang Arle heran, dari mana Yuwin tahu nomor ponselnya?

Sepulang mencari kosan sore tadi, Arle mengantarkan lagi Yuwin ke sekolah untuk mengambil motornya. Hari ini mereka belum menemukan kosan yang cocok untuk Yuwin tempati.

Selain harganya yang terlalu mahal, jarak dari sekolah pun cukup jauh. Maka dari itu, Yuwin masih diam di rumahnya bersama Cindy, ibunya.

“Kenapa?”

Arle kembali membalas pesan Yuwin.

“Gue bakalan panggil lo Ayah, dan lo panggil gue Bunda. Seru, kan?”

Membaca pesan dari Yuwin, bukan lagi rasa penasaran dari mana Yuwin mendapat nomornya, melainkan kenapa gadis itu berkata demikian?

Ayah? Bunda? Kenapa? Memang mereka siapa? Lagi pun terlau cringe jika mereka harus memanggil dengan sebutan seperti itu.

“Jangan ganggu gue! Gak ada waktu buat layanin lo!” jawab Arle lebih tajam seperti biasa.

“Bunda lagi gak mau dilayanin, Ayah! Cuman pengen manggil aja!” kata Yuwin pula.

Bukan Yuwin namanya kalau tidak membuat Arle kesal dan merasa terganggu.

“Ayah?”

“Ayah?”

“Ayah tolong Bundaaa!!!!”

Ponsel Arle terus bergetar, tapi di telinga Arle terdengar jelas suara Yuwin saat bicara. Dengan cepat Arle kembali menyambar ponselnya dan memblokir nomor Yuwin. Dia terlalu seram meladeni sikap aneh Yuwin, apalagi ini malam.

Sedangkan di sisi lain, Yuwin berdecak kesal. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan dikala waktu bosannya ini.

Sengaja siang tadi meminta nomor Arle pada Arkan, tapi malah berujung nomornya di blok oleh Arle.

Dengan kesal, Yuwin bangkit dari kasur dan berjalan menuju kamar Cindy.

“Ma! Pinjem hape!” seru Yuwin saat melihat ponsel ibunya berada di atas meja.

Tidak ada sahutan dari Cindy, Yuwin pun segera membuka pesan dan mengirimkan nomor Arle pada nomor ibunya.

Namun, saat akan menyimpan nomor Arle, ternyata nomor pria itu sudah ada di sana dengan nama Tampanku.

Sedetik alis Yuwin mengernyit ngeri.

“Tampanku?” gumamnya.

Lalu membaca isi chat yang ada di sana. Obrolan mereka hanya sebatas Cindy memberitahu jika ia memesankan makanan, tapi Arle tidak membalas. Lalu Cindy membuka obrolan, tapi Arle menjawabnya dengan singkat.

“Ini masalahnya di mana sih? Si Cindy jadi tante gatel, apa si Arle yang suka tante-tante tapi sikapnya sok cool?” tanya Yuwin bingung sendiri.

Pada akhirnya ke esokan harinya, Yuwin mendatangi kelas Arle dengan wajah beringas. Ia harus mendapatkan klarifikasi dari pria itu.

“HEH, LELE!” seru Yuwin membuat Arle menoleh ke arahnya.

Arle pikir Yuwin akan memarahinya karena ia memblokir nomor gadis itu. Namun, ternyata jauh dari perkiraan Arle.

“Lo mainannya tante-tante?”

Pertanyaan Yuwin bukan hanya mengejutkan Arle, tapi sebagian siswa yang ada di sana.

“Apa lagi? Lo udah sebar berita kalau gue suka sesama jenis, sekarang sama tante-tante,” kata Arle lama-lama ia jengah juga dengan akal-akal Yuwin.

“Jawab aja, lu ada main sama nyokap gue? Lu mau jadi ayah tiri gue?”

Mendengar pertanyaan itu membuat Arle mendecak sebal. Bukan dirinya yang jadi ayah tiri Yuwin, melainkan Farhan, ayah Arle.

“Gak penting!” ucap Arle dan mulai mengabaikan Yuwin.

“Le, lu tu ganteng, ganteng banget malah. Tapi please, jangan mau sama nyokap gue! Dia bener-bener bego kalau udah bucin! Gue gak mau makin sengsara ni idup gegara dia bucin lu!” ucap Yuwin lagi kali ini dengan wajah memelas.

Arle terdiam mendengar ucapan Yuwin tersebut. Ia tidak lagi mengatakan apa pun, hanya memainkan ponsel dan menunjukkan layar ponsel pada Yuwin.

Di sana bisa Yuwin lihat jika Arle sudah memblokir nomor telepon Cindy. Kemungkinan wanita itu tidak akan lagi menghubunginya. Namun, berbeda dengan Farhan. Ayah Arle pasti akan berusaha menekan Arle agar berhubungan baik dengan Cindy, ibu tirinya.

“Terima kasih banyak Lele tanpa kumisku!” ucap Yuwin tersenyum riang.

Arle hanya mengangguk kecil dan melanjutkan membaca buku pelajarannya lagi.

Sementara Yuwin masih duduk menatap Arle dengan senyuman mengembang.

Merasa risih karena terus diperhatikan, Arle akhirnya menatap Yuwin.

“Apa?” tanyanya.

“Buka blokiran nomor gue!” jawab Yuwin. Raut wajahnya manis, menggemaskan, tapi sorot matanya tajam dengan ucapannya yang terdengar tegas.

“Ck, males!”

“Arle!!!!”

“Apa sih? Lo cuman ganggu gue!”

“Gue tahu dan gue suka!”

“Gak penting!”

Lihat selengkapnya