“Lele, hehe,” ucap Yuwin menyembulkan kepala ke dalam kamar Arle yang tidak dikunci.
“Kenapa?” tanya Arle, ia mengalihkan fokus belajarnya untuk menunggu Yuwin bicara.
“Mama bilang gue istirahat di kamar lo, Le. Percaya deh, beliau khawatir sama kondisi kepala gue, takut geger otak,” jawab Yuwin merocos cepat seraya masuk dan berbaring di kasur milir Arle.
“Ah, nyamannya,” ucap Yuwin tidak peduli jika orang di sekitarnya adalah pria. Ia malah tidur telentang dengan kaki menjulur ke bawah.
Meski Arle diam, ia tetap pria normal yang tertarik dengan lawan jenis, bukan seperti yang Yuwin gosipkan dulu. Melihat tingkah Yuwin seperti itu, ia akhirnya membuang muka dengan wajah bersemu merah.
Sejak kapan kamarnya bebas untuk orang lain? Sejak kapan Arle berpikir akan memasukkans eornag gadis ke kamarnya? Bahkan mereka tidak memiliki hubungan apa pun, kenapa bisa Yuwin lolos aksesnya?
“Lo pusing banget?” tanya Arle tanpa menatap Yuwin, ia hanya menatap pada buku pelajaran di hdapannya.
“Hmm? Kenapa?” Yuwin malah balas bertanya seraya menatap Arle.
“Kalau gak pusing, mending lo duduk,” jawab Arle sedikit ragu untuk mengatakannya.
Awalnya Yuwin terdiam, tapi lama-lama ia mengerti jika Arle sedang guugp. Maka senyuman jahil pun terukir di wajahnya yang manis.
“Lele, lu gugup, ya?” tanya Yuwin dengan wajah jahil.
“Ck, ngapain gugup?” jawab Arle mendelik sebal, tapi bisa ia rasakan sendiri jika hatinya berdebar tidak karuan.
“Lo horny?”
“HAH?”
Arle sukses menatap Yuwin dengan mata membelalak tidak percaya akan ucapan yang gadis itu katakan. Bahkan kini wajah Arle memerah tanpa bisa disembunyikan lagi.
“Wajah lu merah, Le,” kata Yuwin bersikap dramatis dan polos seolah bukan ia dalangnya.
Mendengar itu tentu saja Arle semakin salah tingkah. Namun, beruntungnya ia bisa menguasai keadaan lagi dengan baik.
“Gue keluar kalau lu mau istirahat,” ucap Arle beranjak dari duduknya.
“Yah, Lele gak seru!” keluh Yuwin malah kembali berbaring misuh-misuh.
“Ya udah lu duduk gak usah tiduran begitu!” kata Arle kesal.