Breezy Arlea Almas

Ayang Afrianti
Chapter #7

7.

“Le, kenapa langit biru?”

Pertanyaan Yuwin terdengar saat mereka sedang dalam perjalanan menuju sekolah. Arle benar menepati ucapannya untuk menjemput Yuwin. Meski tidak tepat di depan rumahnya karena enggan bertemu Cindy.

“Biar lu nanya,” jawab Arle ketus seperti biasa.

“Ya kenapa?” tanya Yuwin lagi.

Namun, tidak ada jawaban apa pun dari Arle. Pria itu sedang malas berbicara.

Hingga akhirnya mereka sampai di parkiran sekolah. Kedatangan keduanya cukup menyita perhatian, terlebih saat kedua tangan Yuwin dengan bebas memeluk pinggang ramping Arle, impian semua siswi yang mengidolakan Arle selama ini. Perhatian mereka pun terfokus pada perban yang masih melilit kepala Yuwin, tentu saja dengan pertanyaan kenapa bisa diperban? Apa yang terjadi dengan gadis bar-bar itu?

“Makasih, Lele sayang,” ucap Yuwin seraya menyerahkan helm.

“Hmm.”

Hanya gumaman sebagai jawaban.

Arle pun tidak serta pergi begitu saja, ia malah berjalan bersama dengan Yuwin dan berniat untuk mengantar Yuwin ke kelasnya.

“Mau ke mana lo? Kelas lo beda arah sama kelas gue,” kata Yuwin mulai curiga.

“Nganterin lo,” jawab Arle dengan tatapan datarnya.

“ARLE LUKA GUE DI KEPALA, BUKAN LUMPUH DAN HILANG INGATAN!” seru Yuwin semakin menyita perhatian banyak orang.

“Ck, orang niatan baik.”

“Ya emang niatan lo baik, tapi lo ngehina gue!”

“WIII ADA PENDEKAR DI SEKOLAH KITA GENGS!!!”

Arle dan Yuwin menoleh ke asal suara, di sana berdiri Arkan, Victo, dan Bobby yang sedang menatap mereka dengan tatapan berbeda.

“Lo naikin ilmu, Win?” tanya Victo setelah berseru tanpa dosa.

“IYE!” jawab Yuwin, ketus.

“Udah tahap ke berapa sekarang? Keren, udah kain putih aja yang lu pake,” timpal Bobby tersenyum lebar.

“Iya nih, Yuwin 212, keren gak?” jawab Yuwin dengan kedua alis terangkat.

Victo dan Bobby tertawa.

“Lo kenapa, Win?” tanya Arkan akhirnya.

“Iya memang lu doang yang waras, Nav. Nanya gue kenapa, bukan nyangka gue lumpuh dan jadi pendekar,” kata Yuwin menyindir Arle, Bobby, dan Victo.

“Gue kepentok pintu,” lanjutnya.

“Sampe perban melilit gitu? Kepentok gimane?” tanya Arkan lagi tidak percaya.

“Mau gue tunjukin? Sini, Vic, giliran lo jadi pendekar!” kata Yuwin meminta Victo mendekat.

“Serius, ege!” ucap Arkan sebal.

“Iya, pokoknya kejedot pintu dan perban ini melilit di kepala gue biar otak gue gak geser,” jawab Yuwin pula.

“Lu berharap jawaban apa dari si Yuwin yang emang udah gila itu, Kan?” tanya Victo dan menjulurkan lidah pada Yuwin.

“Ya kali lo kenapa-kenapa,” kata Arkan pula.

“Nggak sih, tapi kalau mau open donasi, boleh aja. Gue terima dengan senang hati,” kata Yuwin pula dengan senyuman lebar.

Lihat selengkapnya