Breezy Arlea Almas

Ayang Afrianti
Chapter #8

8.

“Kamu tu anak siapa, sih? Bebal banget!”

Cindy kesal karena Yuwin telat pergi ke rumah sakit. Harusnya ia tidak masuk sekolah hari ini.

“Lho kok tanya saya? Saya juga tidak tahu saya anak siapa!” balas Yuwin menatap sebal ke arah ibunya.

Mereka sedang berada di lobby rumah sakit. Sepulang sekolah, Yuwin langsung pergi ke rumah sakit yang di mana Cindy sudah menunggunya sejak tadi.

“Kamu tuh kalau dibilangin nurut, udah mah kabur, sekarang malah gak dengerin apa kata dokter,” omel Cindy.

“Ma, yang penting aku udah datang. Apa, sih, kok ribet banget,” jawab Yuwin. Ia mengaku salah, tapi ucapan Cindy itu yang membuat Yuwin berani membantah.

“Gak beda jauh sama Kaisan,” kata Cindy lagi mengakhiri omelannya.

Beberapa saat kemudian, Yuwin mendapat giliran untuk di periksa. Hari ini dokter menyarankan agar ia melepas perbannya. Karena lukanya pun sudah cukup kering dan bisa memakai perban kecil tanpa harus melilit di kepalanya.

Luka Yuwin itu berada di samping kepalanya. Saat itu pendarahan cukup banyak, untuk saja Yuwin tidak gegar otak. Kini setelah perbannya dilepas, Yuwin bingung sendiri.

Bagaimana ia menjelaskan pada teman-temannya di sekolah akan keberadaan luka yang berpindah dari dahi ke kepala samping? Terlebih Arle. Pasti pria itu mengintimidasinya.

“Bisa nggak gak pakai perban?” tanya Yuwin menatap dokter penuh harap.

“Bisa kalau kamu mau jahitannya terbuka akibat tidur kamu yang berantakan,” jawab Cindy ketus.

Dokter terkekeh kecil.

“Bisa saja, asalkan kamu tidak memainkan lukanya agar jahitannya tetap kering. Lalu harus kamu urus lukanya agar tidak infeksi,” jawab dokter akhirnya.

“Perban aja, Dok,” kata Cindy yang langsung mendapat tatapan mematikan dari Yuwin. “jANGAN RIBET, NURUT AJA!” sentak Cindy yang pada akhirnya Yuwin pun tidak bisa membantah lagi.

Setelah urusan di rumah sakit selesai, Cindy dan Yuwin pun pulang memakai mobil yang Cindy bawa. Sebenarnya Yuwin enggan satu mobil dengan ibunya itu. Namun, bisa apa dia selain menurut titah Kanjeng Ratu?

“Mau makan apa? Sekalian beli, Mama nggak masak,” tanya Cindy tanpa menoleh pada Yuwin. Fokusnya masih pada setir dan jalanan di depannya.

“Apa aja, asal jangan sampah,” jawab Yuwin tak berminat.

Akhirnya Cindy memarkirkan mobilnya di sebuah restoran ayam cepat saji, ia memakai pesanan drive thru agar bisa dibawa ke rumah. Meski berusaha tidak peduli, tapi hati Yuwin berdebar saat mendapatkan perhatian kecil seperti itu dari Cindy. Ternyata ibunya ada guna juga untuk hidupnya. Terlebih saat Yuwin sedang sakit begini. Namun, pikiran Yuwin malah berpusat pada berapa tagihan yang harus ia catat untuk makanan mewah yang sekarang Cindy beli?

Iya, Yuwin tidak ingin berhutang budi. Apalagi menjadi investasi masa depan ibunya itu. Yuwin malas dan lebih baik di cap sebagai anak durhaka. Tentunya dengan segala macam alasan untuk pembelaan yang siap ia lontarkan jika kalian menyebutnya jahat dan tidak tahu berterima kasih pada ibunya itu.

“Motor kamu, udah selesai di bengkel?” tanya Cindy membuka obrolan selagi menunggu pesanan mereka selesai.

“Belum,” jawab Yuwin.

“Berapa biayanya?”

“Goceng.”

“Yuwin!”

Cindy menatap Yuwin kesal.

“Gak usah, aku punya duit sendiri,” kata Yuwin pula, sebal.

“Dari mana?”

“Kaisan.”

Cindy terdiam. Setelahnya ia tidak ingin lagi membuka obrolan bersama Yuwin dan fokus mengemudi hingga mereka sampai di rumah.

Sebelum turun, ponsel Yuwin berdering nyaring. Melihat nama di layar membuat Yuwin berdecak.

Itu Arle.

“Kenapa?” tanyanya malas.

Entah kenapa Yuwin jadi sebal pada pria itu. Biasanya Yuwin akan senang menjahili, tapi kali ini malah Yuwin yang seperti dijahili balik. Meski ia tahu sikap dan perhatian Arle itu tulus dan baik, tapi ini berlebihan. Yuwin bukan wanita manja yang hanya bisa berpangku tangan pada orang lain, apalagi pria. Ia bisa mengatur semuanya sendiri.

“Di mana?” tanya Arle pula.

“Rumah.”

“Abis dari mana?”

“Rumah sakit.”

“Ngapain?”

“Dagang panci.”

“Yuwin!”

“Abis kontrol, lepas perban! Apa sih, ribet dah!” maki Yuwin kesal.

“Oh, ya udah, istirahat.”

“Le, lama-lama lu yang baper deh kalau gini terus,” kata Yuwin saat Arle akan menutup sambungan teleponnya.

“Gak akan!” jawab Arle santai.

“Yakin lu?”

“Yakin. Ngapain gue baper sama lo?”

“Segitu gak diinginkannya gue sama semua orang?”

“Berisik! Jangan mulai mendramatisir,” kata Arle lalu mematikan telepon secara sepihak.

“Memang anjing!” maki Yuwin pula.

Yuwin akhirnya turun menyusul Cindy yang sudah berdiri di depan pintu rumah. Tidak lupa ia mengunci mobil yang ditinggalkan oleh Cindy. Memang jika urusan anak muda, Cindy cukup pengertian, ia tidak pernah mengganggu dan selalu memberikan Yuwin ruang untuk obrolannya bersama teman atau orang lain yang menghubunginya. Yuwin akui jika untuk hal ini, Cindy keren.

“Siapa?” tanya Cindy saat Yuwin memberikan kunci mobilnya.

“Pacar,” jawab Yuwin pula.

Sebenarnya ia hanya asal menyahut, karena ingin menyelesaikan semua obrolan hari ini bersama Cindy. Namun, tiba-tiba Cindy menjelma menjadi makhluk paling menyebalkan dan Yuwin harus menarik ulang pujian untuk ibunya itu tadi.

“Siapa pacarmu? Memang ada yang mau?”

Niatan Cindy sih untuk menggoda anak perawannya yang sudah beranjak dewasa. Namun, sikap dan senyuman kecil di wajahnya malah terkesan meledek dan menghinakan Yuwin jika Yuwin itu memang tidak pantas untuk dicintai siapa pun.

Lihat selengkapnya