Selesai makan malam, Arle tidak langsung membawa Yuwin pulang ke kosan. Ia malah membawa Yuwin pergi ke sebuah tempat ngopi yang cukup terkenal di daerah Bandung. Malam ini, Arle setidaknya ingin mencoba menghibur Yuwin dan mengatakan jika dirinya tidak sendirian. Masih ada orang yang peduli meski Arle tidak mengucapkannya secara langsung.
“Punclut?” tanya Yuwin girang.
Ia melihat jajaran warung ngopi dengan berbagai lampu hias. Terlihat estetik, terlebih pemandangan malam kota Bandung akan terlihat dari atas sini.
“Iya, gue mau ngopi,” jawab Arle.
“Wah, baru pertama gue ke sini!!!” seru Yuwin lagi.
“Kok bisa tahu ini Punclut?”
“Dari video orang.”
Lalu Yuwin dengan senang menceritakan apa saja yang ia lihat dari sosial medianya mengenai tempat ini. Arle hanya mendengarkan, sesekali bergumam saat Yuwin bertanya macam hal.
“Wah dingin coy!!!” seru Yuwin seraya menggosok kedua lengannya. Namun, wajahnya tidak menunjukkan jika ia kedinginan. Malah tersenyum lebar dengan mata yang berbinar saat melihat lampu malam di kejauhan sana.
“Pake nih!” kata Arle memberikan jaket yang ia bawa.
“Wah, persiapan banget lo, Le. Sweet!!!!” kata Yuwin bertingkah meleleh saat menerima jaket dari Arle.
“Lebay!” dengus Arle.
Keduanya masuk ke sebuah warung kopi dan memesan dua gelas minuman hangat. Lama mereka terdiam untuk menikmati suasana Bandung yang dingin. Meski bintang berkelip terang malam ini, tapi hawa di sana sangat dingin. Anehnya, banyak orang yang rela kedinginan untuk ngopi di temapt ini, sama halnya dengan Arle dan Yuwin. Mungkin karena pemandangannya bagus menjadi salah satu alasan mereka.
“Makasih, ya, Le,” ucap Yuwin menatap Arle sekilas.
“Iya, sama-sama,” jawab Arle tersenyum tipis.
“Gue gak tahu maksud lo bawa gue ke sini itu apa, tapi gue seneng.”
“Jangan baper!”
Lagi-lagi Arle melontarkan dua kata tersebut pada Yuwin.
“Lo tuh aneh! Bilang jangan baper, tapi lo yang ajak gue pacaran, terus lo perlakuin gue baik-baik nyerempet ke manis, gimana gue gak baper?”
Yuwin dengan segala omelannya.
“Gue cuman mau jagain lo.”
“Jagain dari apa? Lo cuman mau mainin gue, ya?”
“Sembarangan!”
Arle kembali menyentil kening Yuwin. Meski pelan, tapi mampu membuat Yuwin mengaduh sakit.
“Kenapa, sih, Le?” tanya Yuwin pada akhirnya. Kali ini ia menatap Arle dengan serius. Yuwin harus meminta kejelasan dari niatan dan tujuan Arle yang sebenarnya.