“Makasih ya, Le, udah ajak gue jalan,” kata Yuwin saat Arle mengantarkannya sampai ke depan pintu kamar kosnya.
“Iye,” jawab Arle.
“Malam ini gue jadi tahu kalau lo juga bawel, gak sedingin yang gue lihat di sekolah.”
“Apa sih, gue bukan kulkas.”
“Ya abis lo dingin banget kalau di sekolah,” kata Yuwin mendelik sebal.
“Gue gak sembarangan ngomong banyak sama orang,” ucap Arle malah membuat Yuwin menjerit kesenangan.
“Aaa Arle, gue baper!!!” jeritnya dan langsung mendekap mulutnya sendiri. Takut ia malah membuat kegaduhan.
“Gue balik!” kata Arle pula.
Namun, sebelum ia membalikan badannya, Yuwin tiba-tiba menarik lengan Arle dan memeluk tubuh pria itu dengan cepat.
Seketika Arle membeku. Pertama kalinya Arle dipeluk oleh seorang gadis, dan bukan hanya ini saja, Yuwin menjadi wanita pertama yang datang ke rumahnya, ke kamarnya, serta yang ia ajak interaksi secara intens.
Arle masih berpikir jika ia peduli karena Yuwin adalah anak angkat dari Farhan. Meski ia tidak pernah mau mengakui untuk menjalin hubungan keluarga dengan Cindy, tapi pengecualian untuk Yuwin.
Namun, kenapa hatinya berdebar? Kenapa jantungnya berdetak cepat saat Yuwin memperlakukannya layaknya pasangan?
“Hehe makasih, Le. Jepretan gue emang gak pernah gagal,” kata Yuwin pada akhirnya melepaskan pelukannya.
Arle terpaku mendengar ucapan Yuwin, ternyata pelukan ini hanya untuk bahan rencananya pada Cindy.
Ada rasa kesal di hati Arle, bukan karena jadi bahan balas dendam Yuwin. Arle malah kesal pada dirinya sendiri. Ia yang meminta Yuwin agar tidak baper, tapi ia sendiri yang mati kutu saat Yuwin bersikap agresif.
Lantas apakah ucapannya pada Yuwin hanya untuk menyadarkan dirinya sendiri?
“Hati-hati, ya, Lele!!!” seru Yuwin dengan senyuman lebar terlukis di wajahnya.
Arle pun hanya mengangguk canggung, lantas ia pun pergi dengan keadaan jantung yang masih berdegup kencang.
----------
“Breezy!!!”
Baru saja Arle memejamkan mata, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dengan keras dari luar. Dibarengi dengan suara Farhan yang menggelegar.
“Breezy Arlea Almas! Bangun kamu!!!” seru Farhan lagi.
“Ada apa, Yah? Breezy sudah tidur,” kata Sani terdengar dari lantai bawah.
Sebelum Farhan kembali mengetuk pintu kamar Arle, pintu kamar itu pun perlahan terbuka dan Arle muncul dengan wajah mengantuknya.
“Ada apa?” tanyanya menatap datar ayahnya itu.
“Kamu ngapain aja sama Yuwin?” tanya Farhan membuat kening Arle mengerut bingung.