“Eh, Yuwin datang?”
Sani menyambut Arle dan Yuwin di ruang tamu. DI sana pun ada Farhan yang sedang menemani istrinya bercerita.
“Halo, Mama. Apa kabar?” kata Yuwin berhambur memeluk Sani dengan riang.
Tingkahnya membuat Sani terkekeh. Ia baru tahu jika Yuwin adalah anak angkat dari Farhan. Namun, tidak jadi masalah, malah ia senang karena ternyata yang menjadi teman Arle adalah saudaranya sendiri. Meski sekarang mereka terlibat dalam hubungan asmara, Sani tidak ingin ikut campur. Ia percaya pada Arle jika anaknya itu tahu apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan.
“Mama sehat. Kamu sudah makan?” tanya Sani pula.
“Belum, Ma. Arle ajak ke sini biar makan siang bareng,” jawab Yuwin tanpa malu.
“Bibi udah masak, Sayang. Nanti kita makan bersama, ya!” kata Sani yang langsung diangguki oleh Yuwin.
“Ekhem.”
Farhan berdehem meminta perhatian mereka yang sejak tadi mengabaikan kehadirannya.
“Oh iya, ini ayah Breezy. Ayah Farhan namanya,” kata Sani tersenyum lembut.
“Oh, halo, Ayah!” kata Yuwin menyalami Farhan dengan sopan.
Farhan sendiri tersenyum lebar. Tidak menyangka jika anak angkatnya bisa cantik dan sopan pada orang tua, berbanding terbalik dengan apa yang sering Cindy keluhkan.
“Halo, Yuwin. Gimana sekolah kamu?” tanyanya.
“Baik, Ayah, hehe.”
Melihat interaksi itu, Arle tertawa di dalam hati. Sudah pasti Farhan kebingunganbagaimana ia mengambil sikap. DI satu sisi Yuwin adalah anak angkatnya yang belum pernah ia temui sebelumnya. Di sisi lain, Yuwin menjadi pacar Arle yang sangat ia tentang. Sudah pasti ia tidak bisa menekan Yuwin dan berkata kasar padanya karena pencitraan seorang ayah angkatnya akan tercoreng saat Yuwin tahu nanti.
“Ibu dan ayah sehat, Yuwin?” tanya Farhan lagi sebagai basa-basi.
“Em, alhamdulillah hehe.”
Yuwin hanya menjawab seperlunya karena ia bingung harus mengatakan apa. Cindy sudah tidak tinggal bersamanya, bahkan Kaisan sudah lama pergi. Jadi Yuwin tidak tahu kabar mereka berdua meski tadi ia melihat Cindy di sekolah. Ya kelihatannya sih baik-baik saja.
“Ya sudah, ayo makan!” ajak Sani pula meminta Farhan mendorong kursi rodanya menuju ruang makan.
Siang itu mereka makan bersama di ruang makan keluarga Arle. Sesekali Sani berbincang tentang perkembangan sekolah Arle dan Yuwin. Bahkan ia menanyakan perihal band sekolah yang akan tampil dalam waktu dekat.
“Jadi Yuwin ikut dalam acara itu?” tanya Farhan.
“Iya, Yah. Iseng aja ikut Arle dan tahunya cocok diangkat jadi vocalis, hehe,” jawab Yuwin selalu menyertakan tawa di akhir ucapannya.
“Bagus kalau gitu, lanjutkan lagi hobinya,” kata Farhan dengan senyuman hangat yang langsung diangguki oleh Yuwin.
Sebenarnya Arle tidak tahu bagaimana perasaan Yuwin nantinya setelah mengetahui jika pria tua yang sedang mengajaknya ngobrol adalah ayah angkatnya selama ini. Pernikahan Cindy dan Farhan masih disembunyikan pada Yuwin dan Arle tidak tahu apa alasannya.
Bisa saja Arle memberitahu sekarang agar Yuwin tidak terlalu terkejut dengan kenyataan pahit di depan sana. Namun, Arle tidak ingin ikut campur terlalu dalam meski nanti pun ia harus rela dibenci oleh Yuwin karena dianggap tidak mau memberitahu lebih dulu.
Lagi pun kenapa harus disembunyikan? Arle pikir Yuwin sudah besar dan bisa menerima pernikahan mereka. Atau mungkin mereka takut penolakan Yuwin sama dengan Arle? Yang tidak menerima jika harus berpoligami.
“Breezy, ajak Yuwin istirahat,” kata Sani.