Breezy Arlea Almas

Ayang Afrianti
Chapter #12

12.

Kedekatan Arle dan Yuwin semakin terasa intens. Entah bagaimana awalnya, Yuwin seolah memasrahkan dirinya agar bisa dilindungi oleh Arle.

Setiap hari mereka akan pergi dan pulang bersama, kali ini memakai motor Arle tanpa repot harus membawa motor sendiri.

Bahkan sesekali Arle selalu membawakan Yuwin makanan ke kosannya dan mereka mengobrol atau mengerjakan tugas bersama.

Tidak ada yang terjadi lagi setelah itu. Bahkan Cindy pun seakan lelah saat ini. Ia tidak lagi meminta Arle untuk menjauhi Yuwin. Tidak juga meminta Yuwin untuk pulang. Begitu pun dengan Farhan, melihat Yuwin sering bermain ke rumahnya sudah cukup meyakinkan Cindy jika Yuwin baik-baik saja.

Namun, hari itu ada yang berbeda. Saat Yuwin masuk kelas dan mengikuti pelajaran pertamanya. Yuwin tidak ada dalam absensi siswa. Namanya seakan dilewat oleh guru yang berdiri di depan kelas.

“Bu, aku nggak diabsen?” tanya Yuwin membuat seisi kelas menatapnya.

“Oh, Yuwin?” tanya guru tersebut dan kembali mengecek daftar nama siswa di buku absen.

“Di sini tidak ada nama kamu, Yuwin,” jawabnya membuat seisi kelas riuh.

“Kok bisa?”

Alis Yuwin mengerut heran. Ia melihat sekelilingnya, takut jika ia salah kelas. Namun, benar ini kelasnya. Bahkan hari kemarin masih ada namanya dipanggil, kenapa hari ini mendadak tidak ada?

Akhirnya guru tersebut mencoba untuk menanyakan pada staf tata usaha dan kembali membawa kabar yang tidak pernah Yuwin sangka sebelumnya.

“Yuwin kan sudah pindah sekolah, kenapa masih datang ke sekolah ini?” tanya Bu Desi sebagai salah satu staf.

“HAH? PINDAH SEKOLAH?”

Suara Yuwin menggelegar saat mendengar penjelasan itu. Bahkan seisi kelas pun ikut terkejut mendengarnya.

“Iya, pemindahan ini sudah diajukan dua minggu lalu. Sekolah baru kamu baru acc kemarin, harusnya kamu sudah masuk di sana.”

“Kok tiba-tiba pindah sekolah? Aku gak ada niat pindah sekolah, Bu!”

Dada Yuwin sesak, ia tidak tahu apa yang terjadi. Kepanikan mulai menyerang dirinya hingga tubuhnya bergetar hebat. Berita ini terlalu mendadak.

“Ibu kamu yang ajukan, Yuwin.”

Mendengar itu semakin membuat Yuwin sesak. Cindy melakukan ini secara diam-diam? Ia memindahkan sekolah Yuwin tanpa diskusi terlebih dahulu dengannya? Apakah ini salah satu cara Cindy memisahkannya dengan Arle?

Pada akhirnya Bu Desi membawa Yuwin ke ruang konseling untuk ditenangkan dan dipinta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi.

Bukan hanya Bu Desi, tapi guru konseling, dan kepala sekolah pun ikut turun tangan. Di sini Yuwin tidak menangis meski dadanya sudah sangat sesak, ia hanya menatap kosong pada semua guru yang hadir dan mendengarkan dengan otak yang lama untuk memeroses setiap ucapan yang ia dengar.

Cindy memindahkannya ke SMA Nusa yang dekat dengan rumahnya. Dengan alasan agar Yuwin tidak mengalami kecelakaan lagi saat pulang. Tentu saja mendengar alasan itu kepala sekolah menyetujui perpindahan tersebut. Beliau pun khawatir dan ingin memberikan hal terbaik untuk Yuwin.

“Apa tidak bisa dibatalkan?” tanya Yuwin tanpa ekspresi.

“Tidak bisa, Yuwin. Kamu sudah diterima di sekolah itu,” jawab kepala sekolah.

“Ya sudah terima kasih, Pak, Bu,” ucap Yuwin pula lalu pamit untuk mengemasi barang-barangnya.

Berita kepindahan secara mendadak itu dengan cepat menyebar ke setiap penjuru sekolah. Bahkan sampai di telinga Victo dan Bobby yang langsung mengirimkan pesan pada Lukas, Arkan, dan Arle agar mereka berkumpul dan menemui Yuwin.

Tentu saja mereka terkejut dengan berita dadakan ini. Yuwin tidak ada obrolan apa pun untuk kepindahannya.

Saat istirahat tiba, mereka mendatangi kelas Yuwin. Namun, Yuwin masih berada di ruang konseling hingga akhirnya mereka menunggu di depan ruang konseling dengan gusar.

Yuwin menutup pintu ruangan itu dan berbalik. Ia menatap nanar pada teman-temannya yang balas menatapnya tanpa berkata apa pun.

Victo dan Bobby duduk di kursi tanpa ekspresi, Lukas berdiri bersama Arkan di dekat pintu, sedangkan Arle kini berdiri berhadapan dengan Yuwin.

Pria itu menatap Yuwin meminta penjelasan. Namun, Arle malah mendapatkan air mata Yuwin yang mengalir dengan senyuman lebar terbit di wajahnya.

“Gue pindah sekolah,” ucapnya begitu terasa sakit saat mendengarnya.

Arkan, Victo, Bobby, dan Lukas tidak bisa berkata apa-apa saat melihat keadaan Yuwin sekarang. Mereka hanya bisa menunduk sedih. Sedangkan Arle memeluk Yuwin yang kini menangis keras untuk pertama kalinya.

“Gue benci ibu gue sendiri, Le!” ucap Yuwin disela tangisannya.

“Gue tahu,” jawab Arle terlalu bingung untuk berucap. Ia sendiri semakin benci pada Cindy.

Dengan tingkahnya seperti ini, tidak akan pernah membuat Arle menyerah untuk berdekatan dengan Yuwin. Malah akan semakin ia lakukan. Semata karena Cindy berulah, memukul Yuwin dengan mudah tanpa ada rasa kasih sayang seorang ibu pada anaknya.

Mungkin jika Cindy tidak bersikap demikian, Arle akan menuruti kemauannya menjauhi Yuwin. Namun, melihat Yuwin menderita sendiri hingga kabur dari rumah, membuat Arle urung untuk berjauhan dengan gadis itu.

Arle ingin melindungi Yuwin, bagaimana pun caranya. Karena di sini Yuwin adalah korban dari keegoisan orang tua, sama seperti dirinya.

Bagaimana pun hubungannya nanti bersama Yuwin, Arle hanya ingin memberikan keamanan untuk gadis itu, saudara angkatnya.

Mereka berkumpul di ruang musik. Sejak tadi kelima pria itu hanya mendengarkan tangisan dan makian Yuwin untuk ibunya.

Arkan, Victo, Lukas, dan Bobby tidak mengerti dengan keadaan sebenarnya. Mereka hanya paham jika hubungan Arle dan Yuwin tidak direstui tanpa alasan yang jelas.

“Jalani aja, gue bakalan tetep ada buat lo,” kata Arle seraya mengusap kepala Yuwin.

Biasanya teman-teman mereka akan riuh saat melihat perlakuan Arle yang manis pada Yuwin. Namun, kali ini mereka diam.

“Gue gak mau, Le!”

“Gimana lagi? Apa gue harus ikut pindah sekolah?”

Yuwin terkekeh di sela tangisannya.

Lihat selengkapnya