BREGADA LULUHAN

PapaDi_YSELnury
Chapter #1

BAB 1.1 TITIK LEBUR

Tulang rusuk Gana rasanya bukan lagi miliknya. Rasanya seperti ada besi cair yang dipompa paksa ke dalam paru-parunya, menggantikan oksigen dengan api murni.

Dia meringkuk di sudut kamar, menggigit ujung bantal agar tidak berteriak. Sreet. Suara kain robek terdengar basah di dalam mulutnya. Sarung bantal itu hangus.

Tapi itu belum seberapa.

Kemeja seragam putih yang masih melekat di badannya sudah tidak berbentuk. Kain itu tidak kuat menahan panas tubuhnya. Bagian punggung kemeja sekolahnya sudah menjadi abu, rontok ke lantai. Bagian dada meleleh, kancing-kancing plastiknya meliuk cair dan menempel ke kulit Gana yang melepuh.

"Hareudang... lepas..."

Gana merobek sisa seragam sekolahnya dengan panik. Kain itu terlepas membawa lapisan kulit ari, meninggalkan luka bakar merah menyala, menambah jumlah luka di seluruh badannya. Kini dia bertelanjang dada, kurus, berkeringat, dan berasap. Celana abu-abunya hangus sebatas paha, compang-camping seperti kain lap kotor, sisa dari pelariannya dari sekolah tadi siang.

Di luar jendela, badai mengamuk mengguyur kota Bandung, petir menyambar-nyambar seolah langit sedang berusaha memadamkan kebakaran yang terjadi di dalam kamar ini—di dalam tubuh Gana.

Tapi air hujan dari langit manapun tidak bisa memadamkan api yang berasal dari darah.

Gana mencengkeram seprai dengan putus asa. Asap tipis mengepul dari sela-sela jarinya, meliuk-liuk naik ke langit-langit kamar. Bau daging terbakar—baunya sendiri—mulai memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma ozon yang tajam dan menyengat, seperti bau kabel konslet yang siap meledak.

"Sialan," desisnya. Suaranya parau, hancur, seperti gesekan kertas pasir kasar. "Berhenti... berhenti atuh... eureun…"

Tapi rasa sakit itu tidak peduli pada permohonan. Ia justru melonjak, mengirimkan gelombang panas yang membuat pandangan Gana memutih. Dinding kamarnya seolah meleleh. Realitas melengkung. Dan di tengah putihnya rasa sakit itu, ingatan kejadian tadi siang kembali menghantamnya seperti palu godam, menyeretnya paksa ke masa lalu yang baru saja terjadi beberapa jam lalu.

SMA Negeri Bandung. Kantin Belakang. Jam 10.00.

Gana duduk sendirian di meja pojok yang agak tersembunyi, jauh dari hiruk-pikuk siswa lain yang berebut gorengan. Di hadapannya, tergeletak sebuah buku sketsa bersampul biru muda yang terlihat polos. Itu milik Kanti. Gana mencurinya diam-diam dari tas kakaknya tadi pagi sebelum berangkat sekolah, didorong oleh firasat buruk yang mengganjal di ulu hatinya sejak subuh.

Dia harus tahu. Dia harus memastikan kecurigaannya salah. Dia berharap isinya hanya gambar bunga atau desain baju seperti biasa.

Tangan Gana yang sedikit gemetar membuka halaman pertama. Gambar pemandangan Dago Pakar saat senja. Indah. Arsiran pensilnya halus, proporsinya sempurna. Khas Teteh banget. Tenang, damai, penuh perasaan. Gana menghela napas lega—awalnya.

Halaman 5. Gambar kucing persia tetangga. Masih lucu, tapi matanya... Gana menyipitkan mata, mendekatkan wajah ke kertas. Mata kucing itu diarsir terlalu tebal, terlalu hitam, seolah ada lubang tanpa dasar di sana yang menyedot cahaya.

Gana membalik halaman lebih cepat. Halaman 10. Halaman 15.

Napas Gana mulai tertahan. Udara di kantin yang panas mendadak terasa dingin di tengkuknya.

Gambar-gambar itu berubah drastis. Pemandangan indah mulai membusuk. Pohon-pohon pinus digambar meliuk seperti tentakel gurita yang menjijikkan. Wajah orang-orang di pasar digambar tanpa mata, mulutnya meleleh seperti lilin yang terbakar. Ada kekerasan dalam goresan pensilnya, seolah Kanti menekan kertas itu dengan amarah atau ketakutan yang luar biasa.

Dan halaman terakhir... Halaman 20.

Itu bukan gambar. Itu amukan.

Kertasnya nyaris sobek, permukaannya kasar karena tekanan pensil yang brutal. Arsirannya hitam pekat, ruwet, kacau. Bentuknya abstrak—seperti bayangan makhluk tinggi kurus yang berdiri di sudut kamar, atau asap hitam yang mencekik leher seseorang. Tidak ada keindahan di sana. Hanya ada teror.

Melihat gambar itu membuat dada Gana terasa sesak secara fisik. Ada hawa panas yang tidak wajar menjalar di tulang rusuknya, seolah gambar itu memancarkan radiasi tak kasat mata yang bereaksi dengan darahnya.

"Gan..."

Gana teringat percakapan mereka kemarin malam. Saat dia memergoki Kanti menangis di meja makan, menatap tangannya sendiri dengan horor.

"Teteh kayaknya harus ke psikolog deh, Gan," bisik Kanti waktu itu, matanya kosong menatap gelas air. "Tangan Teteh... dia gerak sendiri. Teteh gak mau gambar setan itu, tapi dia muncul terus. Tiap Teteh tutup mata, Teteh liat mereka. Teteh gila ya, Gan?"

Gana menutup buku itu dengan kasar. Brak. Beberapa siswa menoleh, tapi Gana tidak peduli. Jantungnya berdegup kencang, memompa adrenalin panas ke seluruh tubuh. Panas di dadanya makin menjadi-jadi, membuatnya harus melonggarkan dasi seragam yang tiba-tiba terasa mencekik.

"Teteh gak gila, Teh," bisik Gana pada udara kosong, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Aku gak bakal biarin Teteh gila. Kita cuma... kurang tidur. Ya, cuma kurang tidur."

Lapangan Basket. Jam 13.45.

Dunia Gana saat itu masih berusaha terlihat normal. Terdiri dari suara decit sepatu kets di aspal panas, pantulan bola oranye, bau keringat remaja, dan sorak-sorai anak-anak kelas satu di pinggir lapangan. Matahari Bandung sedang terik-teriknya, tapi Gana merasa kedinginan di dalam.

"Gana! Oper!"

Lihat selengkapnya