Gana merangkak keluar kamar seperti binatang yang terluka. Di seberang lorong, pintu kamar Kanti terbuka sedikit, menguarkan hawa dingin yang tidak wajar, seolah-olah kamar itu adalah pintu kulkas raksasa yang lupa ditutup.
"Teh..." panggil Gana lirih.
Tidak ada jawaban, hanya suara gigi gemeletuk yang konstan dan mengerikan.
Klatak-klatak-klatak.
Gana menyeret tubuhnya mendekat dan mengintip ke dalam. Pemandangan itu membuat rasa sakit di kulitnya terlupakan sejenak. Kanti sedang berdiri mematung di tengah kamar, memeluk dirinya sendiri. Kulitnya membiru pucat, bibirnya ungu tua. Tapi yang paling mengerikan adalah matanya. Matanya melotot tapi tak melihat lorong. Pupilnya mengecil seolah sedang menatap tekanan kedalaman palung laut yang gelap. Dari hidungnya, menetes air jernih yang terus menerus keluar—bukan ingus, melainkan air asin yang berbau amis. Dada Kanti naik turun tersentak-sentak, megap-megap mencari udara, seolah-olah paru-parunya sudah penuh terisi cairan. Kanti sedang tenggelam di daratan, paru-parunya dibanjiri ilusi samudra yang dibawa oleh darahnya sendiri.
"Teh Kanti..." Gana ingin meraihnya, tapi panas tubuhnya sendiri membuatnya takut akan melukai kakaknya lebih parah.
Gana memaksakan diri berdiri, berpegangan pada dinding lorong. Di dinding itu, seekor cicak yang menempel di dekat bahu Gana tiba-tiba jatuh ke lantai. Mati. Tubuh kecil itu kering kerontang dan hangus dalam sekejap hanya karena terkena radiasi panas tubuh Gana. Dia adalah monster sekarang. Dia malu. Dia sakit. Dia ingin Ayah melihatnya dan memperbaiki ini.
"Ayah... Ibu..."
Ruang tengah remang-remang, hanya diterangi kilatan petir dari jendela besar yang tirainya belum ditutup. Suasana di ruangan itu begitu padat, seolah udara telah disedot habis.
Surya berdiri di dekat pintu depan. Dia mengenakan jaket lapangan tebal yang jarang sekali dia pakai. Wajahnya—biasanya tenang, hangat, dan penuh senyum saat mengajar fisika—kini kaku, sepucat kertas, dengan rahang yang mengeras menahan sesuatu yang meledak di kepalanya.
Di tangannya, dia memegang sebuah tas kanvas tua berwarna hijau lumut. Tas itu terlihat berat dan padat. Surya menyerahkan tas itu kepada Sekar. Gerakannya lambat, namun penuh perhitungan. Saat tas itu berpindah tangan, Gana bisa mendengar bunyi klontang logam berat yang beradu di dalamnya, diredam oleh kain tebal. Bau aneh menguar dari tas itu saat bergesekan—bukan bau baju, melainkan bau apek campuran antara tanah kuburan basah dan bahan kimia pengawet logam yang menyengat hidung.
Di hadapannya, Ibu—Sekar—berdiri tegak. Matanya merah menahan tangis, tapi rahangnya mengeras seperti batu karang. Dia menerima beban tas itu tanpa goyah, seolah dia sudah melatih momen ini ribuan kali di dalam mimpinya.
"Ayah..." panggil Gana lagi, suaranya pecah.
Surya menoleh. Tangannya sudah digagang pintu.
Kilatan petir menerangi ruangan, memperlihatkan kondisi Gana dengan jelas.
Gana berdiri di sana, gemetar. Kulitnya merah melepuh, uap mengepul dari bahunya yang telanjang. Sisa celana abu-abunya menggantung menyedihkan, memperlihatkan luka bakar di kakinya. Dia tidak terlihat seperti Gana si jagoan basket kebanggaan sekolah. Dia terlihat seperti pengemis yang baru saja lolos dari gedung terbakar. Menyedihkan. Hina. Rusak.
Ada jeda satu detik yang terasa selamanya. Petir menyambar di luar, menerangi wajah Ayah dalam kilatan biru pucat.
Ingatan masa kecil menyerbu benak Gana tanpa permisi, kontras yang menyakitkan dengan realita saat ini. Dia ingat saat umurnya tujuh tahun. Badai besar memadamkan listrik di komplek Dago. Gana kecil menangis ketakutan di pojok sofa. Waktu itu, Surya datang dengan senyum hangat, membungkus Gana dengan selimut tebal berbau lavender, dan memangku Gana sampai pagi.
"Jangan takut, Jagoan," bisik Ayah waktu itu, tangannya hangat dan kokoh mengusap punggung Gana. "Selama Ayah ada, badai gak bakal berani masuk rumah kita. Ayah ini pawang badai."
Gana mengharapkan sosok pawang badai itu sekarang. Gana mengharapkan Ayah yang hangat itu lari memeluknya, memadamkan api di kulitnya, mengatakan semua akan baik-baik saja.