Gana gemetar. Dia tidak pernah melihat Ibunya semengerikan ini. Biasanya Ibu menyetir pelan, hati-hati sekali, sambil bersenandung lagu Sunda yang menenangkan. Sekarang, Ibu menyalakan mesin dengan buas, matanya liar menatap kegelapan di luar.
Dengan tangan kaku yang sulit ditekuk, Gana melilitkan tasbih itu ke pergelangan tangan kanannya.
Sreeet.
Sensasi dingin seketika menjalar dari kayu tasbih itu ke dalam nadinya. Bukan dingin biasa, tapi dingin yang spiritual. Rasanya seperti disiram air es di tengah gurun pasir yang tandus. Rasa sakit yang membakar tulang rusuknya mereda sedikit—hanya sedikit, tapi cukup untuk membuatnya bisa menarik napas panjang tanpa rasa ingin menjerit.
Saat Gana memakai Tasbih itu, efeknya tidak hanya meredam apinya sendiri, tapi entah bagaimana menyeimbangkan kelembaban di udara mobil.. Di sebelahnya, Kanti tersentak menghirup udara rakus, seolah baru muncul ke permukaan air. Air dari hidungnya berhenti menetes. Napas Kanti terdengar sedikit lebih lega, meski bibirnya masih biru.
"Hah... hah..." Gana terengah-engah, menyandarkan kepala ke jendela yang dingin. Uap di tubuhnya mulai menipis, meski panas di dalamnya masih membara.
Di sebelahnya, Kanti memeluk lutut, giginya masih beradu. "Ibu..." suaranya kecil, patah-patah. "Ayah... Ayah beneran gak ikut? Tadi... tadi Ayah lari... Ayah ninggalin kita..."
Mobil melesat keluar dari pekarangan rumah, bannya mencicit di aspal basah, nyaris menabrak pagar. Ibu tidak menjawab. Dia memegang setir dengan buku-buku jari memutih. Matanya terus menatap spion, seolah memastikan tidak ada bayangan yang mengikuti.
"Bu..." Kanti mencoba lagi, air matanya membeku di pipi. "Tadi Ayah manggil Ibu siapa? Tiarma? Itu siapa? Ibu siapa sebenarnya?"
Ibu membanting setir ke kiri, masuk ke jalan arteri menuju Tol Pasteur dengan kecepatan bunuh diri. Truk tronton membunyikan klakson panjang yang memekakkan telinga, tapi Ibu menyalipnya dari bahu jalan tanpa ragu, manuver yang hanya bisa dilakukan oleh pembalap profesional atau orang gila.
"Bah!"
Teriakan Ibu membuat Gana dan Kanti terlonjak, menabrak pintu mobil.
"Banyak kali tanya kalian!" Ibu membentak lagi, matanya menatap tajam lewat spion tengah. Tatapan itu bukan milik Ibu Sekar. Itu tatapan prajurit. "Dengar Ibu baik-baik! Nama Ibu, nama Ayah, itu urusan nanti! Sekarang urusannya nyawa!"
Gana menelan ludah. "Bu, Ibu kesurupan ya? Serem pisan euy..." bisiknya, mencoba mencari setitik humor di situasi gila ini, tapi gagal.
"Diam kau, Gana! Fokus napasmu!" potong Ibu. Logat Batak-nya keluar kental, keras dan tanpa kompromi. Setiap kata seperti pukulan. "Jangan kau biarkan api itu makan badanmu! Dan kau, Boru, jangan bengong! Dinginkan adikmu! Kau itu Kakak, harus kuat kau macam batu! Jangan jadi air yang tumpah!"
Kanti gemetar, isak tangisnya tertahan di tenggorokan. Tapi nalurinya merespons otoritas mutlak itu. Tangan Kanti yang sedingin es meraih tangan Gana yang panas.
Des.
Saat kulit mereka bersentuhan, ada keseimbangan aneh. Dingin Kanti meredam panas Gana. Panas Gana mencairkan beku Kanti. Mereka saling menetralkan, seperti yin dan yang yang cacat.
"Teh..." Gana menatap kakaknya. Wajah Kanti masih pucat, tapi matanya mulai fokus.
"Kita bakal selamet, Gan," bisik Kanti, suaranya bergetar tapi mencoba yakin. "Ibu... Ibu apal jalan."
Mereka masuk ke Jalan Tol Cipularang. Hujan semakin deras, mengubah jalanan menjadi sungai aspal yang gelap dan mematikan. Jarum speedometer mobil menunjuk angka 140 km/jam. Ibu menyalip mobil-mobil lain seolah mereka diam di tempat, meliuk di antara lalu lintas malam dengan presisi yang menakutkan.
"Bu..." Gana mencoba duduk tegak, meski setiap guncangan mobil mengirimkan rasa sakit ke rusuknya. Dia melihat sesuatu di luar. Sesuatu yang salah. "Ibu liat itu gak?"
"Liat apa?" suara Ibu tegang, tidak menoleh.
"Di pinggir jalan."
Gana menunjuk ke luar jendela yang buram oleh hujan. Di sepanjang Jalan Tol Cipularang, tiang-tiang listrik tegangan tinggi berdiri seperti raksasa besi dalam kegelapan. Dan di antara kabel-kabel itu... ada sesuatu yang berlari mendekat.
Bayangan.
Makhluk itu bergerak dengan empat kaki yang tertekuk aneh, punggungnya melengkung setinggi atap sedan. Warnanya lebih hitam dari malam, lebih pekat dari aspal. Makhluk itu berlari di atas kabel listrik yang dialiri ribuan volt, melompat dari satu tiang ke tiang lain, sejajar dengan kecepatan mobil mereka yang 140 km/jam. Gravitasi seolah tidak berlaku untuknya.
Lalu makhluk itu menoleh. Mata makhluk itu menyala merah darah.
"Jangan dilihat!" bentak Ibu. Tiba-tiba Ibu mematikan lampu sorot mobil.
"Bu! Gelap! Nanti nabrak!" pekik Kanti histeris.
"Diam! Cahaya menarik perhatian mereka!"
Sekar menyetir dalam kegelapan total, hanya mengandalkan kilatan petir sesekali dan insting murninya. Mobil itu menjadi peluru buta di jalan tol. Dia membanting setir ke lajur paling kanan, mepet ke pembatas beton, mencoba bersembunyi di balik bayangan truk.
BRAKK!
Sesuatu mendarat di atap mobil. Berat. Logam atap mobil mengerang.
Atap mobil penyok ke bawah tepat di atas kepala mereka. Bunyi cakaran logam terdengar memilukan, seperti kuku raksasa di papan tulis. Gana melihat langit-langit mobil mulai sobek. Cakar hitam panjang menembus logam, meneteskan cairan hitam yang mendesis, hanya beberapa sentimeter dari kepala Kanti.
"AAAA!" Kanti menjerit. Jeritan itu membuat kaca mobil bergetar dan seketika dilapisi bunga es.
KRAK.
Kaca depan mobil—satu-satunya akses pandangan Ibu—seketika tertutup bunga es tebal yang buram. Suhu di dalam mobil anjlok drastis. Napas mereka berubah jadi uap putih.
"Kanti!" teriak Ibu panik. "Cairkan! Ibu buta! Ibu gak bisa liat jalan!"
"Aku... aku gak bisa berhenti!" Kanti meracau, tangannya membeku menempel di kursi.