Dunia tidak berakhir dengan ledakan nuklir atau jeritan histeris. Bagi Kanti dan Gana, dunia mereka berakhir dengan kabut.
Kanti tidak tahu sudah berapa lama mereka berjalan. Konsep waktu di balik Gapura Pasar Kliwon terasa melar dan tidak masuk akal, seperti karet gelang yang ditarik hingga batas putusnya namun tidak pernah benar-benar putus. Jam biologis mereka kacau balau. Tubuh mereka menjerit minta tidur, tapi adrenalin memaksa mata tetap terbuka lebar. Tidak ada matahari, tidak ada bulan, hanya detak jantung mereka sendiri yang menjadi penanda waktu yang semakin kacau.
Lumpur pasar yang becek dan berbau busuk sudah lama hilang, digantikan oleh tanah keras berwarna abu-abu pucat yang terasa dingin menembus sol sepatu sekolahnya. Teksturnya aneh, berpori dan kering, seperti berjalan di atas tulang belulang raksasa yang telah dipadatkan menjadi jalan setapak selama ribuan tahun. Di sini suara dunia luar mati total. Digantikan oleh keheningan yang menekan gendang telinga, membuat bunyi napas mereka sendiri terdengar seperti raungan.
Gana menendang kerikil abu-abu dengan kasar. Dia berjalan sambil memeluk dirinya sendiri, mengeratkan jaket hoodie besar milik Ayah yang membungkus tubuhnya yang setengah telanjang dan penuh luka bakar.
Di jalan setapak abu-abu yang mati itu, langkah Gana berat, bukan karena gravitasi, tapi karena beban kebencian yang baru dia pikul. Setiap kali Kanti membela Ayah dengan kata-kata manis tentang "strategi", rasanya seperti cuka yang disiramkan ke luka bakar Gana.
Strategi? Omong kosong. Otak Gana menolak logika itu. Tubuhnya masih mengingat jelas momen itu: Punggung yang menjauh. Pintu yang tertutup.
Gana merasa dikhianati dua kali: Sekali oleh Ayahnya, dan sekarang oleh kakaknya yang masih berani membela si pengkhianat. Amarahnya meletup-letup, mendidih di bawah kulitnya yang baru sembuh. Dia ingin berteriak, ingin memukul sesuatu, ingin menghancurkan dunia yang tidak adil ini.
Tapi, tangannya... tangan sialan itu justru berkhianat pada amarahnya sendiri. Jemarinya mencengkeram kerah jaket hoodie besar itu semakin erat, membenamkan hidungnya pada aroma tembakau dan hujan yang tertinggal di sana. Dia membenci pemilik bau ini. Dia ingin merobek jaket ini.
Namun, di tengah dunia asing yang dingin dan antah berantah ini, hanya bau Ayah yang membuatnya merasa masih manusia. Gana adalah paradoks berjalan: Seorang anak laki-laki yang mengutuk ayahnya dengan mulut berbisa, sambil mati-matian memeluk bayangan ayahnya agar tidak gila karena ketakutan.
"Dia pengecut," desisnya pelan, mencoba meyakinkan dirinya sendiri lebih dari kakaknya. Karena jika Ayah bukan pengecut, berarti Gana lah yang tidak pantas diselamatkan. Dan Gana tidak siap menerima kebenaran itu.
Napasnya terdengar berat, satu-satunya ritme di tempat mati ini. "Pengecut," desis Gana lagi. Suaranya pecah, tajam membelah kesunyian. "Si Ayah teh pengecut."
Kanti menoleh, meski langkahnya tidak melambat. Dia bisa melihat urat leher Gana menegang. "Gana..."
"Dia lari, Teh. Teteh liat sendiri kan?" Gana menatap lurus ke depan, tapi matanya basah oleh amarah yang bercampur air mata tertahan. "Dia liat Gana kebakar. Dia liat kulit anaknya melepuh. Dia liat kita kayak gini... ketakutan, sakit, dikejar setan. Terus dia kabur kitu wae."
"Ibu bilang Ayah mancing musuh, Gan," bisik Kanti, mencoba terdengar yakin, meski hatinya sendiri ragu. Suaranya terdengar kecil, diredam oleh kabut tebal. "Mereka misah biar kita selamet. Itu strategi atuh. Ayah pasti punya rencana."
"Strategi naon," Gana meludah ke tanah dengan kasar. Ludahnya mendesis saat menyentuh tanah abu-abu itu. "Itu mah cuma alesan Ibu biar kita gak nangis. Mana ada Bapak ninggalin anaknya di tengah badai kalau dia beneran sayang? Dia sieun, Teh. Dia jijik. Dia takut sama Gana. Sama monster di badan Gana."
Kanti ingin membantah, tapi lidahnya kelu. Dia bisa merasakan gelombang panas yang memancar dari tubuh Gana—amarah yang meletup-letup seperti magma di bawah permukaan kulit. Tapi sebagai kakak yang peka, Kanti merasakan getaran lain di balik panas itu. Getaran dingin yang rapuh dan menyedihkan.
Kanti tidak membenci Ayah. Dia merindukannya.
Dan jauh di lubuk hatinya—di balik tembok api amarah yang membara—Kanti tahu adiknya juga merasakan hal yang sama. Gana hanya terlalu gengsi, terlalu terluka, dan terlalu laki-laki untuk mengakuinya. Rasa kehilangan itu terasa seperti lubang besar di dada mereka yang dimasuki angin dingin, menggerogoti sisa-sisa keberanian yang mereka miliki.
"Udah, Gan," Kanti meremas bahu adiknya lembut. "Marahnya engke deui. Kita harus jalan. Kalau kita berhenti, bisi kita gak bakal bisa jalan lagi.Sok, kuat…"
Gana diam, tapi tangannya mencengkeram jaket Ayah itu makin erat, seolah ingin merobeknya tapi juga tidak ingin melepaskannya. Dia membenci pemilik jaket itu, tapi dia bergantung pada kehangatannya. Ironi yang menyedihkan.
"Teh..." suara Gana melembut sedikit, kembali terdengar seperti anak kecil yang ketakutan di malam hari. "Teteh ngerasa aneh gak? Kayak... ada yang ngeliatin dari tadi. Loba."
Kanti mengangguk pelan, matanya menyapu sekeliling dengan waspada. Dia merasakannya. Tentu saja dia merasakannya.
Sebagai seorang yang memiliki bakat empati tinggi—yang belum dia sadari sebagai bakat Banyu, Kanti selalu menjadi spons emosi. Di dunia nyata, bakat ini adalah kutukan yang menyiksa—dia menyerap stres teman sekelas sebelum ujian, amarah guru yang dipendam di balik senyum, kecemasan Ibu soal uang belanja. Tapi di sini... di lorong antardimensi ini, rasanya berbeda. Rasanya lebih purba. Lebih mentah.
Udara di sini berat, berbau tanah basah sehabis hujan lebat dan aroma bunga sedap malam yang mulai membusuk. Rasanya... familiar.
Anehnya, di tengah kegelapan ini, Kanti tidak merasa takut. Dia merasa seperti anak hilang yang akhirnya mencium bau masakan ibunya dari kejauhan. Rasa "pulang" yang ganjil ini justru membuatnya merinding lebih hebat daripada rasa takut itu sendiri. Bagaimana mungkin tempat seasing dan semengerikan ini terasa seperti rumah? Apakah jiwa mereka sebenarnya berasal dari kegelapan ini?
"Jalan terus, Gan. Ulah eureun, Jangan berhenti" bisik Kanti, menggenggam tangan adiknya lebih erat. Panas tubuh Gana sudah stabil, diredam oleh tasbih kayu di tangannya dan udara dingin tempat ini.