BREGADA LULUHAN

PapaDi_YSELnury
Chapter #5

BAB 2.2 SURJAN ABU-ABU

"Barisan dua!" bentak salah satu penjaga. Suaranya diperkuat Laku Bayu sehingga terdengar meledak tepat di gendang telinga, menggetarkan tulang. "Jangan bengong! Bergerak! Sampah dunia tidak punya hak untuk lambat!"

Kanti menarik Gana masuk ke antrian sisi kiri—antrian anak-anak dunia nyata yang terlihat kumal dan bingung.

"Tinggalkan barangmu," kata penjaga di depan seorang anak laki-laki kurus berkacamata.

"Tapi Pak... ini baju saya... bekal saya dari Ibu... foto keluarga saya..." anak itu memelas, memeluk kopernya.

Wush.

Penjaga itu tidak menyentuh koper itu. Angin tajam menyambar koper itu dari tangan si anak, melemparnya ke samping, ke dalam sebuah lubang besar di tanah.

Di dalam lubang itu, bukan api merah yang menyala, tapi Api Biru yang mendesis kimiawi.

Blar.

Koper itu hangus dalam sekejap mata. Tidak ada abu yang tersisa, benda itu terurai menjadi ketiadaan. Bau plastik terbakar dan kenangan yang hangus menyeruak, membuat mual.

"Di sini, kau tidak butuh bekal. Kau butuh nyali. Maju!"

Gana menggeram pelan, rahangnya mengeras. Kanti meremas tangan adiknya. "Sabar. Sabar. Ulah ayeuna."

Giliran mereka tiba.

Kanti dan Gana berdiri di depan meja batu panjang yang dingin. Seorang penjaga dengan mata tajam menatap mereka.

"Identitas Dunia, lepaskan," perintah penjaga itu. Matanya menyapu Gana, berhenti di jaket. "Jaket itu. Lepas."

Gana mematung. Tangannya mencengkeram erat hoodie milik Ayah. Itu satu-satunya pelindung lukanya dari udara dingin. Itu satu-satunya sisa bau Ayah—tembakau dan hujan—yang dia miliki. Melepasnya berarti telanjang di hadapan musuh.

"Gak," kata Gana. Suaranya rendah, berbahaya.

"Apa?"

"Urang bilang enggak. Urang lagi sakit. Badan urang luka semua. Urang butuh jaket ini."

"Gana..." bisik Kanti panik. Dia merasakan suhu tubuh Gana melonjak drastis. Jangan meledak. di sini, Gan. Tolong

Penjaga itu tidak marah. Dia justru terlihat bosan. "Benda duniawi dilarang. Ini prosedur. Tidak ada negosiasi."

Dia menjentikkan jari. Sederhana sekali.

Fwoosh.

Jaket hoodie yang dipakai Gana seketika diselimuti api merah yang menyala terang.

"ANYING! PANAS GOBLOG" Gana berteriak, meronta berusaha melepas jaket yang terbakar itu sebelum apinya memakan kulitnya yang sudah luka parah.

Kanti bergerak refleks. Naluri dingin di dalam darahnya mengambil alih. Dia menepuk punggung Gana keras-keras, dan tanpa dia sadari, embun dingin menyembur dari telapak tangannya, memadamkan api dengan desis uap putih. Gana terengah-engah, telanjang dada lagi, kulitnya berasap.

Tapi jaketnya... Jaket Ayah sudah menjadi abu hitam di lantai beton.

Gana menatap abu itu dengan kebencian murni. Dia kehilangan pelindungnya, dan dia kehilangan koneksi terakhir dengan ayahnya. Kanti memeluk lengan Gana, menahan ledakannya. "Jangan, Gan. Mereka mau kamu nyerang. Biar mereka punya alesan buat bunuh kamu. Tahan."

"Bagus," kata penjaga itu, tersenyum tipis. "Geni yang liar. Potensial."

Penjaga itu menoleh ke Kanti. "Kau. Apa itu di balik bajumu? Keluarkan."

Kanti membeku. Dengan tangan gemetar, dia mengeluarkan Lontar Ibu.

Penjaga itu mengambilnya kasar. "Kayu busuk? Untuk apa sampah ini?"

"Itu... peninggalan kakek saya. Alas doa."

"Tidak ada Tuhan di Paramatra. Pelindungmu di sini adalah Laku-mu sendiri."

Dengan gerakan meremehkan, penjaga itu melempar Lontar itu ke belakang, melambung melewati kepala Kanti, mendarat di tumpukan sampah seragam dan sepatu yang menggunung.

"TIDAK!"

Kanti menjatuhkan dirinya ke lantai. Harga dirinya hilang. Dia merangkak di bawah kaki meja, mengabaikan tawa para penjaga. Dia mengais tumpukan sepatu kotor yang bau keringat dan lumpur seperti pengemis, tangannya gemetar mencari lempengan kayu itu.

Saat jari-jarinya menyentuh permukaan kayu kasar itu, Kanti mendekapnya erat ke dada, kotor dan berdebu. Dia mendongak, menatap penjaga itu dari lantai dengan mata basah. Dia merasa kerdil. Dia merasa hina.

Penjaga itu tertawa. "Menyedihkan. Banyu memang selalu lembek. Berdiri! Masuk ke Jalur Cukur!"

Kanti ditarik berdiri kasar. Di sebelahnya, Gana didorong paksa ke kursi besi.

Lihat selengkapnya