BREGADA LULUHAN

PapaDi_YSELnury
Chapter #6

BAB 2.3 SENTILAN MAUT WASKITA

Kanti mencoba "membaca" pria menakutkan itu. Dia memfokuskan intuisinya ke arah panggung , ingin tahu apa yang dirasakan sang pemimpin.

DUG.

Kanti tersentak mundur, tangannya memegang kepala yang sakit hebat seolah ditusuk jarum es tepat di otak.

Dia tidak merasakan emosi. Dia tidak merasakan marah, sedih, atau senang.

Dia merasakan Kekosongan.

Seperti menatap langsung ke dalam matahari hitam atau lubang tanpa dasar di antariksa. Jiwa Waskita terasa dingin, hampa, dan menyedot segala sesuatu di sekitarnya. Tidak ada "manusia" di sana. Hanya ada kekuatan murni yang terkontrol sempurna, sebuah void yang kelaparan. Dan itu... itu jauh lebih menakutkan daripada monster mana pun yang memiliki amarah.

Pria itu membuka mulutnya. Suaranya berbisik lewat angin, masuk ke setiap telinga tanpa permisi.

"Nama saya Waskita. Ki Lurah Waskita. Saya adalah suara dari Kehendak Tertinggi."

"Selamat datang, Trah Paramatra," sapanya lembut, menatap ke sisi kanan aula dengan senyum kebapakan yang hangat. "Kalian telah kembali ke rumah. Darah leluhur kalian memanggil. Inilah tempat yang dijanjikan untuk kalian berkuasa. Kalian adalah tuan rumah di tanah ini."

Anak-anak Paramatra membusungkan dada, bangga. Aura mereka semakin tajam dan dominan. Mereka tersenyum puas.

Lalu Waskita menoleh ke sisi kiri. Ke arah Kanti, Gana, dan anak-anak kota lainnya. Senyumnya berubah drastis menjadi seringai tipis yang penuh belas kasihan palsu dan jijik tersembunyi.

"Dan selamat datang... bagi kalian, Luluhan Dunia. Anggap ini adalah rumah pertama yang pernah kalian kenal."

Kanti merinding. Luluhan. Ampas. Residu. Sampah. Tapi entah kenapa, nada bicara Waskita terdengar seolah sedang menyambut keluarga yang hilang, bukan menghina.

"Kalian di sini bukan karena kalian memilih," Waskita melanjutkan, suaranya kini melunak, menggelegar tapi penuh rasa kasihan yang palsu. "Kalian di sini karena dunia di luar sana telah gagal total."

Waskita menunjuk ke arah pintu masuk dengan jari telunjuk yang panjang.

"Di luar sana, mereka menyebut kalian monster. Penyakit. Aib keluarga. Mereka yang seharusnya mencintai kalian—orang tua kalian—mereka membuang kalian karena takut pada api kecil yang kalian bawa. Sekolah kalian mengeluarkan kalian bukan karena kalian bodoh, tapi karena mereka jijik pada hal yang tidak mereka pahami."

Hening. Kata-kata itu menusuk bukan karena hinaan, tapi karena itu adalah validasi pahit dari rasa sakit Gana. Gana di barisan kanan mengepalkan tangannya, membenarkan setiap kata itu di dalam hati.

"Kalian adalah sampah peradaban modern yang tidak diinginkan. Eksistensi kalian adalah kesalahan genetik di mata manusia biasa. Dan kalian, pada dasarnya, adalah jiwa-jiwa yang sudah mati, berjalan dalam kehampaan, tanpa tujuan."

Lihat selengkapnya