Vey menyukai ketinggian. Bukan karena pemandangannya indah—sama sekali tidak ada nilai estetika di lubang tikus bernama “barak” ini—tapi karena data. Dari sudut elevasi tiga meter ini, field of view Vey menjadi optimal. Dia bisa memetakan seluruh ruangan, menghitung jumlah kepala, dan memprediksi variable ancaman dengan margin error di bawah 5 persen.
Probabilitas bertahan hidup malam ini: 32%. Status: Critical.
Gadis itu duduk bertengger di rangka besi pagar pemisah setinggi tiga meter, satu kakinya menggantung santai di udara yang apek. Dia tampak seperti gagak kecil yang sedang mengawasi bangkai. Mulutnya mengunyah permen karet yang rasanya sudah hilang satu jam yang lalu. Permen karet selundupan.
Dia berhasil menyembunyikan bungkusan kecil itu di balik geraham bungsunya saat pemeriksaan mulut di pos penjagaan tadi. Sebuah trik sleight of mouth dasar yang sering dia latih di depan cermin, tapi cukup efektif untuk mengelabui penjaga yang terlalu sibuk membentak anak-anak cengeng.
Kunyah. Kunyah. Hambar.
Kekosongan rasa di lidahnya memicu memori sensorik di hippocampus otak Vey. Membawa kesadarannya terlempar ke dua puluh empat jam yang lalu.
---
Dua puluh empat jam yang lalu, dunia Vey sedang mengalami ‘glitch’.
Vey sedang duduk di kursi makan berbahan kulit Italia, di sebuah ruang makan mewah di Kawasan elit Surabaya Barat. Pendingin ruangan sentral disetel pada suhu 18 derajat, membawa angin yang diiringi wangi lavender. Di hadapannya, di atas meja marmer hitam yang dingin, tergeletak sebuah benda berkilauan. Medali Emas Olimpiade Matematika Tingkat Nasional.
Tapi visual Vey terdistorsi. Dia tidak melihat medali itu sebagai benda padat. Dia melihat vektor. Garis-garis neon imajiner melayang di udara, membentuk koordinat X, Y, dan Z.
Matanya berkedut sakit. Sejak tiga hari lalu, "migrain" ini makin parah. Vey melihat garis-garis imajiner melayang di udara. Sudut kemiringan sendok garpu. Radius piring. Kecepatan ayunan tangan Papinya saat memotong daging.
Semuanya data. Semuanya angka. Otaknya memproses informasi terlalu cepat, membuat realitas di sekitarnya terasa lambat. Lagging
"Geser dikit, sayang. Posturmu itu lho, correction please. Senyumnya yang natural dong," suara Maminya terdengar sibuk.
Bukan bicara pada Vey, tapi pada layar ponselnya. Mami sedang sibuk memotret medali itu. Dia mengatur pencahayaan, menggeser gelas kristal agar masuk frame, dan menyuruh Vey berpose.
"Mami, kepala Vey sakit," gumam Vey pelan, memijat pelipisnya.
"Tahan sebentar. Nanggung nih lighting-nya bagus," sahut Mami tanpa menoleh. Jari-jarinya menari lincah di layar, mengetik caption panjang tentang 'Anugerah Tuhan' dan ‘Proud Mom'. "Nanti Mami tag akun sekolahmu ya. Biar followers Mami tahu anak kita berprestasi. Senyum, Vey. Tiga... dua..."
Blitz kamera menyambar.
Bagi Vey, cahaya itu terasa seperti ledakan supernova di retina matanya yang hipersensitif. Sakitnya menusuk sampai ke belakang kepala.
"Papi sudah bilang kan," suara berat Papinya menimpali, tidak peduli dengan sesi foto itu, matanya tetap di tablet phone-nya memantau saham. Bagi Vey, suara itu terdengar terdistorsi, seperti kaset rusak yang diputar lambat (s..u..a..r..a... b..e..r..a..t).
"Kalau kamu ikut metode Papi... soal trivial kayak gitu pasti lewat. Investasi Papi buat tutor privat kamu itu high cost, Vey. ROI-nya harus jelas."
Vey merasa mau muntah. Dia dikepung variable yang menyesakkan. Di depan ada Papi yang menghitungnya sebagai angka investasi. Di samping ada Mami yang menjadikannya konten pencitraan. Dan di dalam kepalanya, otak sialan ini terus memproses data tanpa henti.
Vey memijat pelipisnya. Sakit sekali. Dia merasa otaknya seperti prosesor komputer yang dipaksa bekerja 200% tanpa kipas pendingin. Hidungnya terasa hangat. Dia mengusapnya dengan serbet sutra. Merah. Darah.
"Vey, kamu denger Papi nggak?"
"Soalnya gampang, Pi," jawab Vey datar, menyeka darah di hidungnya. Maminya bahkan tidak sadar dia mimisan karena sibuk memilih filter. "Nggak butuh tutor. Peserta lain aja yang lambat mikir. Semua orang... lambat."
Dia berdiri mendadak. Suara kursi berderit di lantai marmer terdengar seperti ledakan bom di telinganya yang hipersensitif.
"Heh, duduk! Papi belum selesai bicara! Kamu itu aset keluarga! Jangan jadi defect kayak 'Orang Itu'! Akung-mu!"
Vey membeku. Akung, Kakeknya. Satu-satunya anomaly dalam keluarga rasional mereka. Orang yang pernah bicara tentang "melihat dunia di balik dunia". Satu-satunya orang yang mati dianggap gila karena otaknya meledak oleh ide-ide "tidak logis".
Rasa sakit di kepala Vey memuncak, membuatnya nyaris muntah.
"Vey nggak kayak Akung," bisiknya, lari meninggalkan meja makan, meninggalkan Mami yang masih sibuk merevisi caption. "Vey lebih pintar."
---
"Ibuuu... mau pulang..."