BREGADA LULUHAN

PapaDi_YSELnury
Chapter #8

BAB 3.2 RAKSASA TIMUR

Ritme rahang Vey yang terus bergerak adalah metronom yang menjaganya tetap waras. Itu adalah sisa-sisa koneksi terakhirnya dengan dunia modern, dunia di mana logika masih berlaku dan hukum fisika tidak diperkosa oleh sihir.

Di bawah sana, terhampar pemandangan yang membuat perut mual.

Tempat ini bukan asrama. Menyebutnya "asrama" adalah penghinaan terhadap arsitektur. Ini adalah gudang penyimpanan daging busuk. Bekas hanggar bawah tanah raksasa dengan dinding batu yang merembeskan air tanah kotor. Tidak ada sekat dinding, tidak ada privasi. Hanya sebuah ruangan open plan raksasa yang dibelah dua secara kasar oleh pagar kawat besi berkarat setinggi atap.

Sisi kiri untuk perempuan. Sisi kanan untuk laki-laki.

Persis kandang ternak sebelum masuk jagal.

Seratus lima puluh tiga "sampah". Vey sudah menghitungnya tiga kali. Seratus lima puluh tiga anak remaja yang dibuang, ditolak, dan sekarang dipaksa tidur di atas amben kayu—ranjang dipan kasar tanpa kasur, hanya beralaskan tikar pandan tipis yang ditemani selimut kumal.

Bau di sini adalah entitas tersendiri. Campuran dari keringat dingin, lumut basah, uap sabun belerang yang menyengat, dan aroma logam dari keputusasaan yang menguap dari pori-pori mereka.

Mata sipit Vey menyapu area laki-laki di seberang pagar kawat.

Pemandangannya menyedihkan. Anak-anak kota yang biasanya nongkrong di kafe mahal kini meringkuk di lantai beton, menangis memanggil ibu mereka. Elektrolit tubuh mereka terbuang sia-sia lewat air mata.

"Tidak efisien," batin Vey, mencatat dalam memori visualnya. "Tangisan tidak mengubah variabel nasib. Itu hanya membuang kalori."

Tapi kemudian, radar analisisnya menangkap satu anomali.

Di sudut terjauh area laki-laki, terpisah dari kerumunan yang histeris, duduk sesosok manusia yang berbeda.

Si Raksasa Timur.

Vey belum tahu namanya, dan dia tidak peduli. Tapi fisik anak itu adalah data yang menarik. Dia duduk bersila di atas amben kayunya, diam dan kokoh seperti patung Ganesha batu. Tubuhnya bukan sekadar gemuk, tapi masif. Bahunya lebar seperti lemari besi, lehernya tebal berotot, dan lengan bawahnya sekeras batang pohon ulin tua. Kulitnya gelap khas timur, berkilau seperti tembaga di bawah cahaya damar yang remang-remang.

Yang paling menarik perhatian Vey adalah ketenangannya. Di tengah badai tangisan dan teriakan ini, Si Raksasa itu tenang. Napasnya teratur. Matanya yang tajam menatap lantai dengan fokus, seolah sedang bermeditasi.

Dan pakaiannya... Dia memakai kain sarung di balik celana kargo taktisnya. Cara dia mengikat simpul sarung itu sangat rapi, presisi, dengan teknik lipatan yang Vey kenali dari buku antropologi sebagai gaya bangsawan lokal.

"Trah Paramatra," kalkulasi Vey bekerja cepat, menyusun hipotesis. "Postur tubuh terlatih. Disiplin tinggi. Tidak ada tanda-tanda panik. Dia orang dalam. Warga asli."

Alis Vey berkerut. "Tapi kenapa dia dibuang ke server sampah ini bareng kita? Kenapa dia tidak di asrama elit? Defect produk?"

Si Raksasa itu tidak bergerak, tidak bicara, tidak mengeluh. Dia hanya diam menerima nasibnya.

"Cih. Unit Tanker dengan mental kerupuk," batin Vey sinis. Hipotesisnya berubah. "Pasti produk gagal. Potensi fisik besar, tapi inisiatif nol. Inefficient. Tipikal ksatria pasif."

KREIT.

Suara engsel besi berkarat yang berat memecah kebisingan tangisan di barak. Suaranya menyayat telinga, membuat semua kepala menoleh serentak ke arah pintu utama di ujung ruangan.

Dua penjaga dengan masker hitam masuk, menyeret dua "paket" baru. Tanpa basa-basi, mereka melempar dua anak remaja itu ke area tengah—zona netral di ujung pagar kawat, satu-satunya tempat di mana sisi laki-laki dan perempuan bertemu tanpa sekat sebelum digiring masuk.

Dua anak itu jatuh tersungkur di lantai beton yang dingin.

Seorang gadis berambut cepol kaku, wajahnya pucat pasi namun matanya nyalang. Dia memapah seorang anak laki-laki yang kondisinya... mengerikan.

Si anak laki-laki itu botak licin—seperti semua laki-laki lain di sini—tapi kulitnya merah padam seperti udang rebus. Ada bercak-bercak luka bakar yang baru mengering di bahu dan lehernya. Dia berjalan terpincang-pincang, napasnya terdengar berat dan bengek, seolah paru-parunya baru saja diisi asap.

Berita menyebar lebih cepat daripada virus di barak itu. Bisik-bisik terdengar dari bawah, merambat dari satu amben kayu ke amben kayu lainnya.

"Eh, itu dia..." "Itu si gundul yang nantang Waskita di aula tadi." "Gila, gue kira dia udah mati dibunuh." "Dia kena 'Sentilan Angin'. Masih bisa jalan aja udah ajaib."

Vey meludah permen karetnya yang sudah tawar, menempelkannya ke tiang besi. Matanya memicing, menganalisis data baru.

"Ah, si Selebriti Cari Mati. Ternyata belum mati," batinnya. "Daya tahan fisiknya lumayan untuk ukuran orang bodoh. Tapi sayang sekali. Kehadirannya cuma akan menambah beban oksigen di ruangan tanpa ventilasi ini. Variabel kekacauan baru saja masuk."

DANG! DANG! DANG!

Suara pentungan dipukulkan ke gerobak besi.

Lihat selengkapnya