BREGADA LULUHAN

PapaDi_YSELnury
Chapter #9

BAB 3.3 BREGADA LULUHAN

"ARGHHHH!"

Reno jatuh berguling, memegang kakinya yang kini bengkok ke arah yang tidak wajar. Jeritannya melengking, memekakkan telinga.

Vey mendarat dengan mulus—menggunakan tubuh Reno untuk meredam momentum jatuhnya—lalu berdiri tegak. Dia menepuk debu imajiner di celana kargo abunya.

"Heh, Cuk," kata Vey datar, menatap Reno yang meraung-raung di lantai. Suaranya dingin, kontras dengan kekacauan di sekitarnya. "Kalau mau grinding XP, jangan di kamar tidurku. Berisik."

Hanya dalam hitungan detik, dua penjaga masuk dengan tongkat di tangan. Sepertinya mereka menyadari teriakan Reno.

Mereka melihat pemandangan itu: Reno yang merintih di lantai dengan kaki patah, Si Raksasa yang berdiri diam seperti gunung, dan Vey yang tampak bosan.

"Pak! Tolong Pak! Medis!" teriak Reno saat melihat seragam hitam penjaga. Air mata dan ingus bercampur di wajahnya yang pucat. "Kaki saya! Dia matahin kaki saya! Saya Geni, Pak! Saya aset penting! Tolong!"

Salah satu penjaga berjalan mendekat. Dia menatap kaki Reno yang bengkok dengan tatapan kosong. Lalu, dengan ujung sepatu bot militernya, dia menendang pelan bagian yang patah itu.

"ARGH!" Reno menjerit lagi, hampir pingsan.

"Aset?" Penjaga itu tertawa di balik maskernya. Suaranya terdengar seperti logam beradu. "Senjata yang patah karena jatuh sendiri di barak bukan aset. Itu barang rongsokan."

"Tapi Pak... saya bisa sembuh... saya..."

"Diam." Penjaga itu menoleh ke temannya. "Seret dia ke pojok. Jangan buang obat untuk dia. Biarkan dia belajar menahan sakit malam ini."

"Apa? Tidak!" Reno membelalak. Rasa sakit di kakinya bercampur dengan kepanikan anak kota yang biasa hidup nyaman. "Lepasin! Kalian tau siapa Bapak saya?! Bapak saya pejabat eselon satu! Kalian bisa dipenjara seumur hidup nyulik saya!"

Penjaga itu tidak berhenti. Dia mencengkeram kerah Reno semakin kuat.

"Saya punya uang!" teriak Reno histeris, air mata bercampur ingus. "Saya bayar! Berapa? Sepuluh juta? Seratus juta? Lepasin saya! Saya mau pulang!"

Teriakan itu menggema di barak yang hening. Tawaran yang terdengar sangat menggoda di dunia nyata, tapi terdengar seperti lelucon di tempat ini.

Penjaga itu tiba-tiba berhenti.

Hening.

Dia tidak menjawab tawaran uang itu. Dia tidak takut ancaman penjara.

Dia hanya berhenti bergerak. Kepalanya sedikit miring, tubuhnya kaku, seolah-olah sedang mendengarkan frekuensi suara yang tidak bisa didengar oleh telinga anak-anak di sana.

Vey, yang mengamati semua kejadian dari dekat, menyipitkan mata. "Kenapa dia berhenti? Menunggu instruksi? Tapi tidak ada radio komunikasi."

Tiga detik berlalu. Waktu terasa melambat.

Lalu, bahu penjaga itu rileks kembali.

"Rupiahmu..." bisik penjaga itu, suaranya penuh penghinaan, "...tidak laku untuk membeli nyawa di sini. Simpan kertas sampahmu itu."

BUAGH.

Tongkat penjaga menghantam ulu hati Reno.

"Ukh!" Mata Reno melotot. Napasnya putus. Dia ambruk, muntah cairan bening di lantai batu.

"WOY! SETAN!"

Seorang anak laki-laki lain di sebelah Reno—anak Jakarta bernama Darto—nekat berdiri, wajahnya merah padam. Solidaritas anak jalanan menyala. "Dia udah nyerah, Bangsat! Lo budek?! Duitnya banyak, Anjing! Ambil aja duitnya, jangan pukulin orangnya!"

Penjaga kedua bergerak secepat kilat.

PLAK.

Tamparan keras mendarat telak di pipi Darto. Kulit bertemu kulit dengan suara nyaring. Sudut bibir Darto pecah seketika, darah segar menetes ke dagu.

Lihat selengkapnya