Di ambang kesadaran yang meleleh, Gana bukan lagi remaja 16 tahun yang bangga dengan three-point shoot-nya. Dia adalah bocah kecil yang terjebak dalam tubuh yang terbakar, mengulurkan tangan pada satu-satunya tiang penyangga di dunianya. Dia mengharapkan selimut lavender, dia mengharapkan pelukan "Pawang Badai".
Namun, tatapan Ayah menghancurkannya lebih cepat daripada api di darahnya. Itu bukan tatapan seorang ayah pada anaknya yang terluka; itu adalah tatapan seorang teknisi pada barang rongsokan yang gagal produksi. Jijik. Kalkulatif. Asing.
Ketika pintu itu terbuka dan punggung Ayah menjauh menembus badai, sesuatu di dalam dada Gana retak—bunyinya lebih keras dari tulang rusuk yang patah. Rasa sakit fisik di kulitnya mendadak menjadi tumpul, tergantikan oleh lubang menganga yang dingin di ulu hati. Kepercayaan seumur hidup hangus dalam satu detik. Ayah tidak menyelamatkannya. Ayah membuangnya.
Air mata Gana menguap seketika, bukan hanya karena panas tubuhnya, tapi karena panas amarah yang meledak menggantikan duka. Dia lari. Dia takut padaku. Dia membiarkanku terbakar sendirian.
"Pengecut..." Kata itu bukan sekadar makian; itu adalah vonis. Itu adalah perisai terakhir Gana agar jiwanya tidak mati total saat itu juga. Dia harus membenci Ayah sekarang, karena jika tidak, dia akan mati karena rindu
Gana membuka matanya. Sadar bahwa tadi semua adalah mimpi. Kenyataan pahit yang menjadi mimpi buruk.
Rasa sakit kembali menghajar seluruh tubuhnya secara serentak, seolah-olah sistem sarafnya baru saja dinyalakan kembali setelah korsleting total.
Itu bukan jenis rasa sakit tajam dan menyengat seperti saat kulitnya terbakar api liarnya sendiri kemarin siang. Ini berbeda. Ini adalah rasa sakit tumpul yang meremukkan tulang, berdenyut jauh di dalam sumsum. Rasanya seolah-olah dia baru saja digilas truk tronton, dikunyah oleh mesin penggiling, lalu dimuntahkan kembali ke lantai batu andesit yang keras. Setiap sendi di tubuhnya—dari leher hingga jempol kaki—menjerit protes bahkan sebelum dia sempat menggerakkan jari.
Pemandangan pertama yang menyambutnya bukanlah langit-langit kamar tidurnya di Bandung yang nyaman, melainkan kerangka kayu jati tua yang menopang atap sebuah gudang raksasa. Balok-balok kayu itu begitu besar dan hitam, tampak seperti tulang rusuk monster purba yang menaungi mereka. Di sela-sela balok, terbentang Anyaman bambu -Gedek- yang sudah retak dan lapuk, melintang tak beraturan. Dari celah-celah anyaman itu, air kondensasi tanah menetes dengan ritme monoton yang menyiksa mental: Tetes. Tetes. Tetes.
Dinding di sekelilingnya terbuat dari Batu Andesit Hitam kasar yang disusun tanpa semen, lembab, dan ditumbuhi lumut hijau gelap yang berbau tanah basah. Hanya ada Damar Gantung—lampu minyak kuno dalam bola kaca kusam—yang menyala remang-remang di tiang utama, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari menakutkan di dinding.
Bau apek langsung menyerbu hidung Gana, membuatnya ingin muntah. Itu adalah aroma keputusasaan yang dipadatkan: campuran aroma lumut basah, keringat dingin dari seratus lima puluh remaja yang ketakutan, napas pagi yang tidak segar, dan sisa uap sabun belerang yang menyengat dari pakaian dan kulit mereka yang dipaksa mandi air es semalam.
"Urang masih hidup," batin Gana. Ada rasa lega yang tipis, tapi segera tertimbun oleh gelombang kekecewaan yang berat. "Atau ieu teh neraka, setannya lagi istirahat makan siang."
Dia mencoba duduk di atas amben kayu—ranjang dipan kasar tanpa kasur, hanya beralaskan tikar pandan tipis yang membuat punggung sakit. Otot perutnya kejang, mengirimkan sinyal rasa sakit yang membuat matanya berair seketika. Gana meringis, memegangi rusuk kirinya yang terasa memar parah. Saat dia menekan sedikit, rasa ngilu menusuk sampai ke punggung. Ini adalah efek dari terlempar dan menabrak barisan di Aula saat disentil Waskita kemarin.
Ingatan kejadian kemarin kembali menghantamnya seperti ombak pasang yang tak kenal ampun: Badai Bandung, punggung Ibu yang menjauh, lorong dimensi, dan puncaknya... momen di Aula. Momen di mana dia merasa menjadi jagoan, berteriak menantang Ki Lurah Waskita dengan segala kemarahannya, hanya untuk diselesaikan dengan satu sentilan ringan yang melemparnya seperti sampah kertas.
Sentilan. Bahkan bukan pukulan.
Rasa malu itu datang belakangan, merambat naik ke leher dan wajahnya, rasanya lebih panas dan menyakitkan daripada api yang membakar kulitnya. Dia merasa kerdil. Dia merasa bodoh.
Gana menunduk, menatap kedua tangannya yang kini dibebat perban kasar berwarna putih kusam. Ikatan perbannya rapi dan telaten.
Gana ingat samar-samar kejadian tadi malam. Di tengah demam tinggi, dia merasakan guncangan pelan. Dia ingat jari-jari kurus Kanti yang menyelinap lewat celah mata jaring kawat besi yang sempit, memperbaiki balutan lukanya dengan susah payah dalam gelap.
"Urang beban," pikir Gana pahit, meremas tikar pandannya. "Cuma omong doang. Teriak-teriak mau ngelindungin Teteh, tapi ujung-ujungnya malah urang yang diseret ke sini. Malah urang yang harus diselamatin sama cewek. Malah urang yang ngerepotin Teteh."
Gana menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa panas di dadanya. Dia menoleh ke sekeliling barak.
Di sebelah kirinya, Yonas—si Raksasa Timur yang kemarin menyelamatkannya dari Reno—sudah bangun.
Anak itu sedang melakukan gerakan yang membuat alis Gana berkerut. Yonas berdiri dengan satu kaki di atas lantai batu andesit yang dingin membeku. Kaki lainnya dilipat menempel di paha dalam, membentuk posisi pohon yang sempurna. Kedua tangan besarnya terlipat di depan dada, matanya terpejam rapat. Keringat membasahi tubuhnya yang masif, membuat kulit gelapnya berkilau seperti tembaga di bawah cahaya damar, tapi napasnya teratur dan hening.
Di tengah kekacauan barak yang mulai berisik dengan isak tangis anak-anak lain, Yonas terlihat seperti sebuah gunung batu yang tidak bisa digeser oleh badai. Tenang. Absolut.
Gana menoleh ke seberang pagar kawat pemisah.
Di sisi perempuan, Kanti juga sudah bangun. Kakaknya itu tidak sedang meratapi nasib atau menangis di pojokan. Tentu saja tidak. Kanti sedang duduk di tepi amben seorang anak perempuan kecil yang menangis sesenggukan memanggil ibunya. Kanti memijat bahu anak itu dengan lembut, membisikkan kata-kata penenang. Bahkan di neraka pun, Kanti sibuk menjadi malaikat. Pemandangan itu membuat Gana merasa semakin tak berguna.
Dan Vey...
Mata Gana mencari sosok gadis bermata sipit yang kemarin menyelamatkan harga dirinya. Amben-nya kosong. Selimutnya terlipat rapi—terlalu rapi.