BREGADA LULUHAN

PapaDi_YSELnury
Chapter #11

BAB 4.2 NASI TUMPENG DAN BUBUR SISA

"JALAN! JANGAN BENGONG!"

Cambuk seorang penjaga meletup di udara, memutus diskusi mereka.

"BREGADA KARANTINA! MAJU KE KANTIN!"

Rombongan kembali bergerak. Perut Gana berbunyi keras, suara keroncongan yang memalukan tapi jujur. Rasa lapar itu datang seperti badai, mengingatkannya bahwa dia belum makan layak sejak kemarin.

Mereka terus digiring melintasi lapangan mandala itu, menuju sebuah bangunan pendopo raksasa tanpa dinding yang atapnya berbentuk Joglo tumpang sembilan—Kantin Agung.

Semakin dekat ke sana, aroma masakan mulai menghajar hidung Gana. Dan itu siksaan tersendiri yang lebih kejam dari pukulan fisik.

Bau ayam bakar kecap yang manis gurih. Bau nasi uduk panas yang baru matang dengan santan kental. Bau sambal terasi yang menggugah selera. Bau daging panggang berbumbu rempah. Air liur Gana menumpuk di mulutnya. Perutnya berbunyi keras, menggeram kelaparan. Dia baru sadar dia belum makan layak sejak kemarin siang.

Tahan, Gan," bisik Kanti, melihat adiknya seperti serigala kelaparan.

Tapi langkah mereka dihentikan kasar di pintu gerbang utama kantin.

"LULUHAN! LEWAT SAMPING!" bentak kepala penjaga, menunjuk sebuah lorong sempit yang becek dan gelap di sisi kiri bangunan utama. "Pintu depan untuk Trah! Jangan kotori lantai marmer dengan kaki berlumpur kalian!"

Gana mengepalkan tangan. "Kita bukan binatang," desisnya. Dia hendak melangkah maju, memprotes ketidakadilan ini.

Tapi sebuah tangan besar mendarat di bahunya. Berat, hangat, dan menahan.

Yonas.

"Sabar, Saudara," suara Yonas berat dan dalam, seperti gema di dalam gua. "Mengalah bukan berarti kalah. Mari lewat jalan yang disediakan. Perutmu butuh isi, bukan butuh masalah. Simpan tenagamu."

Gana menatap Yonas, melihat ketenangan yang mengerikan di mata anak timur itu. Gana menghela napas kasar, uap panas keluar dari hidungnya. Dia menurut, meski hatinya panas membara.

Mereka masuk lewat pintu samping yang sempit, becek, dan bau sampah. Dan begitu sampai di dalam, Gana langsung paham kenapa mereka dipisah. Struktur sosial Paramatra terpampang jelas di depan mata, setajam pisau pembedah.

Kantin Agung itu terbagi menjadi dua level fisik yang kontras bagaikan surga dan neraka.

Level Atas (Panggung Utama): Lantainya marmer putih yang mengkilap, memantulkan cahaya matahari pagi. Meja-meja bundar dari kayu jati ukiran Jepara tertata rapi dengan jarak yang lega. Di sana, duduk ratusan murid dari jalur "Trah Paramatra". Para pria berkepala botak dan para wanita yang dicepol rambutnya. Mereka para murid baru.

Kemarin, mungkin baju mereka sama. Tapi pagi ini, status mereka sudah ditetapkan. Mereka semua mengenakan Surjan Putih Polos yang bersih, licin, dan terlihat suci.

Namun, ada satu hal yang membedakan mereka satu sama lain: Sabuk sutra lebar beraneka warna yang melilit pinggang mereka.

Mereka makan dengan tenang, menggunakan sendok garpu perak. Di meja mereka tersaji Nasi Tumpeng mini personal, ayam bakar utuh, potongan buah segar, dan minuman berwarna-warni. Mereka tertawa sopan, mengobrol dengan bahasa Indonesia yang baku dan halus, tanpa logat jalanan. Kulit mereka bersih dan wangi. Mereka terlihat seperti pangeran dan putri kerajaan dari dongeng.

Level Bawah (Lantai Dasar/Parit): Lantainya tanah yang dipadatkan, berdebu dan tidak rata. Meja panjang dari kayu kasar bekas palet yang penuh goresan dan paku menonjol. Di sinilah seratus lima puluh anak "Bregada Karantina" dengan surjan abu-abu kumuh—satu-satunya warna yang diizinkan untuk kasta terendah—harus berdesakan. Baju mereka kotor, penuh keringat sisa kemarin. Rambut mereka—baik laki-laki yang botak maupun perempuan yang dicepol—sama-sama berantakan.

"Liat bedanya?" bisik Vey sinis, matanya menyapu ruangan. " Ini psychological warfare buat mecah mental kita. Mereka dikasih baju putih biar merasa suci dan terpilih. Kita dibiarkan pakai baju abu-abu kotor biar merasa sampah. Mereka mau kita merasa rendah diri biar gampang dikontrol. Indoktrinasi."

Dan menunya?

Gana menatap nanar ke dalam panci besar yang dijaga petugas dapur berwajah masam.

Lihat selengkapnya