Di meja sebelah, seorang anak Luluhan—anak laki-laki kecil kurus berkacamata—baru saja menumpahkan buburnya. Mangkuk keramik jatahnya jatuh, isinya yang panas menyiram kakinya sendiri.
Penyebabnya jelas.
Seorang anak Level Atas dengan Sabuk Merah baru saja turun ke bawah. Mungkin karena bosan, atau mungkin karena ingin mencari hiburan. Dia sengaja menyenggol siku anak Luluhan itu saat lewat.
Si "Sabuk Merah" itu menyeringai. Wajahnya tipikal bully pengecut yang hanya berani pada yang lemah.
"Ups," kata si Sabuk Merah, nada suaranya dibuat-buat. "Jalanan licin ya? Atau matamu yang tidak berfungsi?"
Anak Luluhan itu gemetar ketakutan, kacamatanya miring. "Ma... maaf, Kak. Saya tidak sengaja... Saya bersihkan..."
Anak itu berlutut, mencoba memungut pecahan mangkuk dengan tangan gemetar.
"Tidak usah dibersihkan pakai tangan," kata si Sabuk Merah dingin, menggunakan bahasa Indonesia baku yang terdengar merendahkan. Dia mengangkat kakinya yang bersepatu bot kulit mahal, lalu menginjak tangan anak Luluhan itu yang sedang memegang pecahan beling.
"Jilat saja, Luluhan. Itu tempatmu. Di tanah."
KREK.
Anak Luluhan itu menjerit pelan saat bot itu menekan tangannya ke pecahan mangkuk. Darah segar mulai mengalir bercampur bubur.
Darah Gana mendidih seketika.
Panas itu datang lagi. Bukan dari luar, tapi meledak dari ulu hatinya. Rasa marah yang familiar. Rasa marah yang sama saat dia melihat Ibunya pergi meninggalkannya. Rasa marah karena tidak berdaya. Rasa marah melihat yang kuat menginjak yang lemah hanya karena mereka bisa.
Sepertinya bukan hanya Gana yang merasakan amarah. Di meja seberang, Gana melihat tangan Darto mencengkeram mangkuk tanaah liat itu erat-erat. Matanya menatap nyalang ke arah meja Sabuk Merah yang sedang tertawa-tawa. Darto mengangkat mangkuk itu sedikit, urat tangannya menonjol, siap melempar bubur panas itu ke wajah si Sabuk Merah yang sombong.
"Jangan, To..." bisik Reno lemah, menahan lengan Darto dengan tangannya yang gemetar. "Jangan cari mati... gue gak kuat kalau dipukul lagi..."
Darto menatap Reno, melihat ketakutan murni di mata temannya. Perlahan, cengkeraman Darto melemas. Dia membanting pelan mangkuknya kembali ke meja, lalu menunduk dalam-dalam, menyembunyikan air mata frustrasi.
“Pengecut”, umpat batin Gana.
Gana melihat sekeliling. Vey tetap makan dengan tenang, pura-pura tidak lihat. ""Probabilitas menang nol. Resiko cedera permanen 90%. Jangan intervensi. Jangan buang energi," begitu pasti isi kepalanya. Kanti menutup mulutnya ngeri, matanya berkaca-kaca. Yonas meremas sendok kayu yang mulai terlihat retak, rahangnya mengeras, tapi dia tetap diam duduk di tempatnya.
"Goblok," batin Gana. "Kalau gak ada yang gerak, siapa lagi? Tuhan? Tuhan gak ada di sini."
Gana berdiri. Kursi kayu reotnya berdecit keras, menarik perhatian.
"Heh," panggil Gana. Suaranya tidak keras, tapi tajam membelah keheningan.
Si Sabuk Merah menoleh. Dia melihat Gana—botak, kurus, pakai baju abu-abu, penuh perban luka bakar.
"Apa liat-liat, Tuyul? Mau ikutan dijilat?"
Gana berjalan mendekat. Setiap langkah mengirimkan rasa sakit ke rusuknya yang memar, tapi adrenalin mematikan rasa sakit itu. Fokusnya menyempit.
"Angkat kaki maneh," kata Gana dingin. Logat Sunda-nya keluar tanpa saringan.
"Kau bicara apa?"
"Urang bilang angkat kaki maneh dari tangan dia. Sekarang. Atau urang angkat paksa."
Si Sabuk Merah tertawa lepas. Teman-temannya di Level Atas mulai menoleh ke bawah, menonton hiburan gratis. "Wah, ada pahlawan kesiangan. Kau siapa? Oh... aku tahu. Kau si Calon Mayat yang kemarin disentil Ki Lurah kan?"
Dia makin menekan kakinya. Anak di bawahnya menangis kesakitan.
"Urang itung sampe tiga," tangan Gana mengepal di samping tubuhnya.
Panas di tubuhnya bukan lagi asap tipis. Itu adalah gelombang hawa panas yang nyata. Udara di sekitar kepalan tangannya berdistorsi.
"Satu."
"Dua." Si Sabuk Merah justru menantang, tangannya menyalakan api kecil yang menari-nari di ujung jari. "Maju kau, Sampah. Biar kuseesaikan pekerjaan Ki Lurah."
"TIGA!"
Gana tidak menunggu. Dia tidak berpikir.