BREGADA LULUHAN

PapaDi_YSELnury
Chapter #13

BAB 5.1 PAPAN KAYU "TERNAK"

Kabut pagi di Lapangan Mandala bukan jenis kabut dingin yang menyegarkan seperti yang biasa menyelimuti kebun teh di Lembang atau Ciwidey saat matahari terbit. Kabut di sini terasa berat, berminyak, dan berbau logam berkarat, seolah-olah udara itu sendiri mengandung residu energi sisa pembakaran malam sebelumnya yang tidak sempat terurai. Kabut itu menggantung rendah, tebal dan pekat, menjilat-jilat kaki lima ratus anak yang berdiri menggigil dalam formasi barisan yang kaku, menunggu nasib mereka dibagikan.

Tidak ada upacara bendera yang khidmat. Tidak ada lagu kebangsaan yang membakar semangat. Tidak ada pidato motivasi dari kepala sekolah tentang masa depan yang cerah atau visi misi akademis. Keheningan di lapangan itu absolut, hanya dipecahkan oleh suara angin yang menderu pelan di sela-sela menara batu yang melayang di atas mereka.

Bukan suara hentakan sepatu bot militer yang gagah, melainkan suara gesekan lirih yang menyeramkan. Sreet... sreet... sreet...

Lima ratus anak di Bregada Karantina mengenakan alas kaki yang sama: sepatu kain dekil dengan sol tipis yang terbuat dari potongan ban bekas. Tidak ada bantalan empuk. Karet ban mentah itu mencengkeram lantai batu andesit dengan kuat, membuat pergerakan mereka nyaris tanpa suara, seperti barisan hantu yang diseret paksa.

Para penjaga dengan seragam hitam taktis dan masker wajah yang menutupi ekspresi kemanusiaan mereka, berjalan menyusuri barisan paling belakang. Barisan ini adalah tempat pembuangan, barisan "Bregada Karantina". Mereka menyeret keranjang rotan besar yang kusam dan berjamur, jenis keranjang yang biasanya dipakai untuk mengangkut sayur busuk di pasar tradisional. Tapi kali ini, isinya adalah ratusan papan kayu seukuran telapak tangan yang saling beradu. Papan-papan itu kasar, serabut kayunya masih tajam mencuat karena tidak diamplas, dan digantung dengan tali rami murahan yang gatal dan berbau apek.

"Pakai," perintah penjaga itu dingin, suaranya teredam masker namun otoritasnya mutlak. Tidak ada kontak mata. Dia hanya melempar satu papan ke dada Gana seperti melempar pakan ke kandang hewan ternak yang kelaparan.

Gana menangkapnya secara refleks sebelum papan itu menghantam ulu hatinya. Dia merasakan tekstur kayu kasar itu menggores telapak tangannya yang masih diperban, mengirimkan rasa perih yang mengingatkannya pada luka bakarnya. Dia membalik papan itu perlahan. Di sana, tertulis angka dengan cat merah darah yang sepertinya dicipratkan asal-asalan dengan kuas besar, bahkan catnya masih terasa agak lengket di ujung jempolnya.

K-088.

Gana menatap angka itu lama. Darahnya mendidih perlahan, naik dari perut ke dada. Identitasnya—nama 'Gana' yang diberikan ayahnya dengan doa agar dia menjadi pelindung, nama yang dipanggil ibunya dengan sayang saat membangunkan tidur—baru saja dihapus paksa. Di tempat ini, dia bukan lagi manusia dengan sejarah dan mimpi. Dia telah diganti dengan kode inventaris gudang. Sebuah aset yang bisa dihapus bukukan jika rusak.

"Kalung?" bisik Gana, suaranya bergetar menahan amarah yang menyumbat tenggorokan. Dia meremas papan itu sampai buku-buku jarinya memutih. "Kita teh sapi? Domba kurban?"

"Sapi masih mending, ada harganya di pasaran, bisa ditawar," suara Vey terdengar dari samping, datar namun tajam seperti silet. "Kita di sini nilainya depresiasi. Semakin lama kita hidup, semakin turun nilai kita."

Gana menoleh. Di leher Vey yang jenjang, tergantung papan kayu yang sama buruknya, kontras dengan kulitnya yang putih pucat. Angkanya: K-001.

"Satu?" Gana menaikkan alis, sedikit terkejut di tengah amarahnya. "Maneh ranking satu di tempat sampah? Bahkan di neraka maneh tetep ambis?"

"Bukan ranking kompetensi, Botak," desis Vey, matanya tidak melihat ke Gana, tapi tajam memindai barisan penjaga di depan, menganalisis pola pergerakan mereka. "Ini nomor urut aset berdasarkan tingkat ancaman dan kelangkaan. Di Karantina, Lintang cuma satu. Aku rare item di tengah tumpukan barang reject. Prioritas pengawasan tertinggi. Mereka menandaiku nomor satu supaya gampang dicari oleh pengawas kalau ada masalah di barisan."

Gana menoleh ke belakang. Yonas, dengan tubuh raksasanya yang menjulang seperti tebing batu, memegang papan kayu itu dengan dua jari besar, seolah takut meremukkannya menjadi serbuk gergaji hanya dengan satu sentuhan. Papan itu terlihat mainan kecil yang konyol di dadanya yang bidang dan penuh otot. Angkanya: K-155.

"Nomor terakhir," gumam Yonas pahit, mengalungkan papan itu ke leher tebalnya dengan gerakan lambat yang penuh beban. Tali rami itu terlihat mencekik lehernya yang besar, seperti jerat gantung diri. " Ekor dari sang ekor. Yang terbuang dari yang

 

 terbuang."

Gana melihat ke depan, melewati kepala anak-anak Karantina yang tertunduk lesu, melewati batas imajiner yang memisahkan nasib.

Di kejauhan, di area yang lantainya ditinggikan dengan marmer hitam dan jauh lebih bersih, barisan Trah Paramatra berdiri tegak dengan dagu terangkat. Mereka tidak memakai papan kayu jelek yang bisa membuat kulit lecet atau baju kotor. Di dada kiri surjan sutra putih mereka yang licin dan berkilau, tersemat Pin Emas kecil dengan ukiran angka yang elegan dan halus. Bahkan dari jauh, Gana bisa melihat kilauan emas itu memantulkan cahaya matahari yang baru terbit, menyilaukan mata siapa saja yang berani menatap terlalu lama.

Perbedaan kasta itu begitu mencolok hingga menyakitkan mata. Surga dan Neraka hanya dipisahkan jarak sepuluh meter dan selembar kain baju.

Vey bergumam pelan, mode kalkulator di otaknya aktif untuk mengalihkan rasa takutnya dari realitas yang mengerikan ini.

Lihat selengkapnya