Jika Lapangan Mandala adalah tempat pencabutan jiwa, maka kelas Laku adalah tempat penghancuran raga. Mereka dipisah. Setiap Laku punya nerakanya sendiri.
[NERAKA 1: GENI - Ruang Tungku] Subjek: Gana (K-088)
Jika Lapangan Mandala adalah tempat pencabutan jiwa, maka tempat ini adalah tempat penghancuran raga secara sistematis.
Gana kira neraka itu panasnya api yang membakar kulit. Ternyata neraka itu adalah ruangan batu sempit, tertutup tanpa ventilasi, dengan suhu konstan 60 derajat Celcius dan instruktur gila yang menikmati penderitaan muridnya.
Mereka digiring turun melalui tangga spiral yang lembab dan licin, semakin ke bawah semakin panas, hingga udara terasa sulit dihirup. Oksigen menipis, digantikan bau belerang dan keringat. Dinding ruangan ini terbuat dari batu hitam vulkanik yang memancarkan panas, lantainya adalah lempengan baja yang mendesis jika terkena tetesan keringat.
Ki Ageng Bara berdiri di tengah ruangan. Dia bertelanjang dada, memamerkan tubuh yang penuh dengan jaringan parut keloid. Kulitnya seperti peta penderitaan; bergelombang, merah, dan kasar. Seolah-olah dia pernah dipanggang hidup-hidup dalam oven raksasa dan selamat hanya untuk menyiksa orang lain. Tapi bukan dia yang paling menakutkan.
Di sampingnya, ada seorang asisten muda bernama Kang Sura. Dia kurus, penuh luka bakar lama di wajahnya yang membuat bibirnya tertarik permanen menjadi senyuman ganjil. Matanya menatap Ki Ageng Bara dengan pemujaan total, seperti anjing setia melihat majikannya.
"Laku Geni bukan soal membakar," katanya kering, suaranya berderak seperti gesekan dua batu api yang memercikkan bunga api. "Itu mainan anak kecil. Laku Geni adalah soal seberapa lama kau bisa tidak terbakar oleh apimu sendiri."
Dia tidak basa-basi. Dia menyuruh asistennya, Kang Sura, membagikan Batu Lahar yang berpendar oranye menyala di atas nampan besi. Batu itu diambil langsung dari inti tungku geotermal, masih menyimpan panas dari perut bumi.
"Pegang."
K-075 (Reno) di sebelah Gana sudah menangis, air matanya langsung menguap menjadi uap asin karena panas ruangan. Dia mundur, menggelengkan kepala panik.
"Pak... saya aset... Bapak saya kaya... tolong jangan..." racau Reno, mentalnya hancur sebelum fisik disentuh. "Tangan saya buat main gitar, Pak... buat tanda tangan kontrak..."
"Batu tidak peduli bapakmu siapa. Batu tidak peduli kau main gitar atau main kelereng. PEGANG!" bentak Bara. Cambuk apinya meletup di udara, suaranya seperti petir di ruang tertutup.
Reno menjerit saat batu itu diletakkan paksa di tangannya. CESS. Suara kulit bertemu panas ekstrem terdengar mengerikan. Bau daging gosong—bau protein yang terbakar—langsung memenuhi ruangan sempit itu, membuat perut Gana mual ingin muntah.
Giliran Gana (K-088).
Kang Sura maju membawa nampan berisi Batu Lahar. Dia berhenti di depan Gana.
"Ini hadiah, Dik," bisik Sura lembut, matanya berbinar tulus. "Ki Ageng sayang sama kita. Dia kasih api ini biar kita kuat. Terima ya? Jangan nolak kasih sayang Guru."
Dia ingin muntah melihat senyum "sakit" Kang Sura. Orang ini gila. Dia mencintai penyiksanya.
Kang Sura meletakkan batu panas membara itu ke telapak tangan Gana dengan kelembutan seorang ibu yang menyuapi bayi.
"ARGH!" Gana menggeram.
Panasnya jahat. Bukan panas api biasa. Ini panas yang berat, padat, dan menusuk sampai ke tulang. Rasanya seperti memegang matahari kecil yang marah. Saraf-saraf di telapak tangannya menjerit mengirim sinyal rasa sakit ke otak, memerintahkan untuk melepaskan, tapi Gana tidak bisa melepaskannya.
Kang Sura tersenyum lebar, air mata haru menggenang di matanya melihat penderitaan Gana. "Nikmati, Dik. Rasa sakit itu berkah. Guru Bara dulu bakar saya lebih parah dari ini, makanya saya jadi kuat sekarang. Terima kasih sama Guru..."
"Tahan, K-088," bisik Ki Ageng Bara di telinganya, nada suaranya menikmati penderitaan Gana. Napasnya bau tembakau bakar. "Buktikan kau pantas hidup. Atau kau mau berakhir di Daur Ulang seperti sampah?"
Di seberang ruangan, seorang anak Karantina lain (K-091) berteriak histeris. Karena panik dan kesakitan yang tak tertahankan, api di tubuh anak itu meledak liar sebagai mekanisme pertahanan diri. Lidah api besar berwarna jingga kotor menyembur dari tubuhnya, hampir membakar alis Ki Ageng Bara.
Anak itu berhasil menahan sakit dengan membakar sekelilingnya, memindahkan panas batu itu ke udara. Dia merasa bangga sesaat, napasnya memburu. "Sa-saya bisa, Pak! Liat! Api saya besar! Saya kuat! Saya gak kebakar!"
Ki Ageng Bara berhenti. Dia menatap api besar yang berkobar liar itu. Gana berpikir instruktur itu akan memuji kekuatannya. Bukankah Geni itu soal ledakan? Soal daya hancur?
CUIH.
Ki Ageng Bara meludah tepat ke tengah api itu. Ludahnya menguap menjadi uap panas sebelum menyentuh lantai.
"Besar," komentar Bara dingin, matanya penuh penghinaan. Dia berjalan menembus api itu seolah hanya asap rokok. "Tapi liar. Warnanya jingga kotor. Lihat asap hitam itu? Itu tanda darahmu tercemar darah manusia biasa. Ini bukan api bangsawan. Ini api pembakaran sampah."
Bara menunjuk ke sebuah cermin besar di dinding batu yang menampilkan rekaman langsung dari Kelas Trah Paramatra di menara atas.
Di layar itu, terlihat pemandangan yang kontras bagaikan langit dan bumi. Ruangan mereka bersih, sejuk, dindingnya kaca transparan dengan pemandangan awan. Anak-anak berbaju putih itu memegang batu lahar yang sama. Tapi mereka tidak berkeringat. Mereka tidak berteriak. Wajah mereka tenang, hampir bosan.
Di tangan mereka, api tidak berkobar besar dan liar. Hanya ada nyala api Biru Kecil yang sangat tipis menyelimuti batu itu. Jernih. Tanpa asap. Stabil seperti nyala kompor gas yang sempurna.
"Lihat itu," kata Bara dengan nada memuja, menunjuk layar dengan tongkatnya. "Kecil, tapi murni. Efisiensi pembakaran 100%. Tidak ada energi yang terbuang jadi asap. Itu darah murni Geni. Sebuah berlian yang belum diasah tetaplah berlian."