[NERAKA 4: BANYU - Kolam Tirta] Subjek: Kanti (K-089)
Jika Gana dipanggang, Kanti sedang dibekukan pelan-pelan.
Mereka direndam di kolam batu hitam yang airnya berasal dari mata air pegunungan sedingin es. Instruktur mereka, Nyi Renteng, wanita tua bungkuk dengan tongkat rotan, berjalan mengelilingi kolam.
"Diam! Air tidak mengeluh!" bentaknya.
PLETAK.
Tongkat rotan menghantam kepala anak yang menangis.
Di sebelah Kanti, anak perempuan kecil (K-112) sudah tidak bergerak. Hipotermia. Tubuhnya mulai tenggelam, wajahnya biru.
Kanti panik. Naluri melindunginya menyala. Dia menerjang arus es, menarik kerah baju anak itu ke permukaan.
"Dek! Bangun!" Kanti menepuk pipi anak itu. Kanti memeluknya, mencoba menyalurkan sedikit panas tubuhnya yang tersisa.
"Berani kamu melanggar formasi, K-089?!" Nyi Renteng berteriak. "Lepaskan dia! Biarkan yang lemah tenggelam! Itu seleksi alam!"
Kanti memeluk anak itu, memejamkan mata, siap dipukul.
"Tahan, Nyi."
Suara itu bening, dingin, dan tajam seperti denting kristal. Membuat Nyi Renteng seketika menurunkan tongkatnya dan membungkuk hormat, gemetar ketakutan.
"Guru Wening," cicit Nyi Renteng.
Kanti membuka mata. Memang ada sosok yang berdiri di sana. Guru Wening dengan jubah abu-abunya. Tapi bukan dia yang menjadi pusat perhatian.
Di sebelahnya, berdiri seorang gadis remaja seumuran Kanti.
Dia mengenakan seragam Trah Paramatra yang putih bersih, dengan aksen selendang perak tipis yang melayang di sekitar lengannya. Wajahnya cantik luar biasa—kecantikan yang dingin dan tak terjangkau, seperti patung pualam yang dipahat sempurna. Rambut hitamnya jatuh lurus, tidak terusik angin sedikitpun.
"Perkenalkan," kata Guru Wening pada kelas yang menggigil itu. "Ini Kirana. Dia adalah Masterpiece. Contoh sempurna dari ketenangan absolut."
Guru Wening memberi isyarat. Kirana melangkah maju.
Dia tidak masuk ke dalam air. Saat ujung sepatunya menyentuh permukaan kolam, air di bawahnya tidak membasahinya, melainkan seketika membeku menjadi pijakan es tipis berbentuk bunga teratai.
Krak. Krak.
Kirana berjalan di atas air, meninggalkan jejak bunga-bunga es di setiap langkahnya, mendekati Kanti yang memeluk K-112. Tatapan Kirana bukan tatapan merendahkan, tapi tatapan kosong yang mengerikan. Seolah dia melihat Kanti sebagai variabel data yang salah, bukan manusia.
Kanti menatapnya dengan harapan putus asa. "Tolong... dia sekarat... bantu saya bawa dia ke tepi..."
Kirana menatap Kanti, lalu menatap anak di pelukan Kanti. Wajah cantiknya tidak menunjukkan emosi sedikitpun.
"Kau membuang 40% energimu untuk menghangatkan dia," kata Kirana. Suaranya merdu tapi tanpa nada, seperti rekaman suara otomatis. "Suhu tubuhmu turun drastis. Kau akan mati dalam 5 menit jika terus begini."
"Dia teman saya!" Kanti menggigil, giginya gemeretak. "Kita harus tolong!"
Kirana berjongkok anggun di atas pijakan esnya. Wajahnya sejajar dengan Kanti.
"Teman?" Kirana memiringkan kepalanya sedikit, seolah kata itu asing baginya. "Di Padepokan Paramatra, empati adalah kebocoran energi. Kau mencoba menyelamatkan unit yang rusak, dan kau akan ikut menjadi rusak."
Kirana menyentuh dahi K-112 dengan satu jari lentiknya yang indah.
Cess.
Lapisan es tipis langsung menutupi alis anak itu.