BREGADA LULUHAN

PapaDi_YSELnury
Chapter #16

BAB 6.1 PANCALAKU

Tujuh hari di Karantina terasa seperti satu tahun di neraka yang diulang-ulang (loop). Waktu kehilangan maknanya di sini. Matahari terbit hanya berarti satu hal: Lari keliling lapangan sampai muntah. Matahari terbenam berarti: Push-up di atas kerikil panas sampai telapak tangan berdarah.

Tidak ada istirahat. Tidak ada kemanusiaan.

Tapi di sela-sela siksaan itu, ada hal-hal kecil yang membuat mereka tetap waras. Atau setidaknya, menunda gila. Seperti saat Reno—si jagoan Jakarta yang kini mentalnya retak—mencoba membuat dadu dari sisa roti jatah makan siang yang mengeras seperti batu. Di jam istirahat yang sempit, dia mengajak anak sebelah main judi imajiner di lantai tanah berdebu.

"Enam! Gue dapet enam! Gue menang, Setan!" seru Reno girang, matanya liar dan cekung.

Tapi sedetik kemudian, dadu rotinya disambar tikus got yang lewat. Reaksi Reno bukan menjerit kaget. Dia meledak. "WOI! BALIKIN! ITU JATAH GUE, BABI!"

Reno melempar batu, memaki-maki tikus itu dengan sumpah serapah kasar khas jalanan ibu kota. Dia mengejar tikus itu sampai menabrak dinding, lalu menendang tembok batu itu berkali-kali sampai kakinya sendiri sakit. "Mati lo! Mati lo semua! Balikin roti gue!" racau Reno, napasnya memburu, air mata frustrasi mengalir di pipinya yang kotor. Dia menangis bukan karena takut tikus, tapi karena dia sadar dia lebih rendah dari tikus. Tikus itu bebas. Dia tidak.

Gana tertawa melihat itu dari kejauhan. Tertawa miris sampai perutnya sakit. Melihat seorang preman sekolah hancur menjadi anak kecil yang tantrum gara-gara remah roti adalah hiburan paling gelap di barak ini.

Itulah satu-satunya hiburan mereka. Karena siang ini, hiburan itu habis.

Hari ke-7. Siang Hari. Kelas Doktrinasi - Aula Bawah Tanah.

Mereka digiring masuk ke dalam perut bumi. Ruangan itu dingin, pengap, dan dirancang dengan arsitektur brutal yang mematikan harapan. Sebuah ampiteater batu berundak curam tanpa jendela, terkubur puluhan meter di bawah permukaan tanah, jauh dari jangkauan sinar matahari atau udara segar. Dinding-dindingnya dipahat kasar dari batu andesit hitam yang menyerap cahaya, menciptakan ilusi bahwa ruangan ini tidak memiliki batas, seolah-olah mereka duduk di dalam perut monster raksasa yang telah menelan mereka bulat-bulat. Akustik ruangannya dimanipulasi sedemikian rupa oleh ahli Lintang sehingga suara sekecil jarum jatuh di panggung utama akan menggema seperti palu godam di telinga para murid. Tidak ada tempat untuk bersembunyi dari suara, tidak ada sudut untuk melarikan diri dari doktrin. Gema itu sendiri terasa seperti hantu yang berbisik, memaksakan kepatuhan.

Gana duduk di bangku batu andesit yang keras dan dingin. Punggungnya yang penuh luka bakar—yang kini mulai mengering menjadi keropeng gatal dan kaku—berdenyut nyeri setiap kali bersandar pada sandaran kasar itu. Rasa gatal itu menyiksa, seolah ada ribuan semut api yang merayap di bawah kulit barunya, namun ia tidak berani menggaruk. Di sampingnya, Vey, Yonas, dan Kanti duduk dengan wajah lelah yang seragam: mata cekung dengan lingkaran hitam di bawahnya, bibir pecah-pecah yang mengelupas, dan kulit yang mulai kusam kekurangan cairan. Aroma tubuh mereka—campuran keringat dingin, debu batu, dan keputusasaan—menggantung di udara yang stagnan. Perut mereka berbunyi pelan, sebuah orkestra kelaparan yang sudah menjadi teman akrab selama seminggu ini. Rasa lapar itu bukan lagi sekadar keinginan makan, melainkan rasa sakit fisik yang menggerogoti dinding lambung, membuat kepala terasa ringan, pandangan sedikit berkunang-kunang, dan emosi menjadi labil seperti sumbu dinamit yang memendek.

Di depan, berdiri Ki Kerta.

Inilah wajah di balik suara parau yang selama tujuh hari terakhir meneriaki mereka lewat Corong Gema—pipa-pipa tembaga raksasa yang menjulur dari dinding menara pengawas. Sosok yang namanya sering disebut dengan nada hormat bercampur ngeri oleh Kang Sura dan para penjaga.

Instruktur tua berjubah abu-abu kusam dengan pin Lintang (Bintang) perak di dadanya yang berkilau dingin. Wajahnya keriput seperti peta kuno yang digambar di atas kulit kayu yang lapuk, penuh dengan lembah dan jurang pengalaman yang pahit. Matanya—sepasang manik hitam yang tajam dan tak berdasar—memandang murid-murid Karantina bukan sebagai manusia, melainkan sebagai noda membandel di lantai suci padepokan yang perlu digosok paksa dengan sabun api. Gerak-geriknya lambat namun penuh perhitungan, setiap langkah tongkat kayunya menyiratkan otoritas yang tidak boleh dibantah.

Di belakangnya, sebuah layar kristal raksasa—salah satu varian Cermin Lintang Besar dengan teknologi optik kuno—berpendar menyilaukan, menampilkan diagram lima lingkaran yang saling terhubung dengan garis-garis energi yang berdenyut, seolah diagram itu hidup, bernapas, dan mengawasi mereka. Cahaya dari layar itu memantul di wajah-wajah pucat para murid, membuat mereka terlihat seperti mayat hidup yang sedang disidang.

Ki Kerta mengetuk tongkat kayunya ke lantai batu. Tuk. Suaranya tunggal, tapi ekonya merambat ke tulang belakang setiap anak , memaksa mereka menegakkan punggung meski otot mereka menjerit protes.

Li"hatlah dirimu," suara Ki Kerta menggema, tenang namun menusuk sampai ke ulu hati. Intonasinya datar, klinis, tanpa belas kasihan, seolah sedang membacakan diagnosis penyakit terminal. "Kotor. Bau. Lemah. Menyedihkan. Kalian lebih mirip bangkai tikus yang terseret banjir selokan daripada calon manusia berbudi luhur."

Dia tidak berteriak. Dia tidak perlu berteriak. Dia bicara dengan nada seorang kakek yang kecewa berat Ke tempat di mana jiwa kalian diracuni perlahan?ara, karena nada itu menyerang harga diri, meruntuhkan sisa-sisa kebanggaan dan identitas yang mereka bawa dari rumah. Ia melucuti kemanusiaan mereka kata demi kata.

"Kalian menangis di malam hari. Merengek minta pulang. Pulang ke mana? Ke dunia yang sudah rusak dan membusuk itu? Ke tempat di mana jiwa kalian diracuni perlahan?"

Ki Kerta melambaikan tangan. Layar kristal di belakangnya berubah. Gambar diagram hilang, digantikan oleh montase video beresolusi tinggi dari Arcapada (Dunia Manusia).

Gambar-gambar itu dipilih secara spesifik untuk memicu rasa jijik dan putus asa, sebuah propaganda visual yang dirancang untuk memutus ikatan emosional mereka dengan rumah.

Terlihat kemacetan Jakarta yang gila, di mana ribuan kendaraan saling klakson dalam kemarahan yang sia-sia, wajah-wajah pengemudi terdistorsi oleh stres, urat leher mereka menonjol saat memaki. Asap knalpot menggantung seperti kabut beracun.

Terlihat cerobong pabrik yang memuntahkan asap hitam pekat ke langit yang abu-abu , limbah cair berwarna pelangi busuk mengalir ke sungai tempat anak-anak mandi, membunuh ikan dan burung yang lewat.

Lihat selengkapnya