Hari ke-7. Malam Hari. Barak Karantina.
Barak itu baunya berbeda sekarang.
Di malam pertama, baunya seperti keringat takut dan antiseptik murahan. Di malam ketujuh, baunya seperti keputusasaan yang dibusukkan, bercampur dengan aroma amis yang aneh dari mangkuk bubur mereka.
Gana duduk di ambennya, menatap nanar ke arah mangkuk tanah liat di pangkuannya. Di atas bubur hambar itu, kini tergeletak sepotong kecil ikan asin goreng.
Seminggu lalu, hanya bubur polos. Tiga hari lalu, ada sedikit kuah sayur. Hari ini, ada ikan asin.
Gana tidak merasa bersyukur. Dia merasa mual.
"Maneh tau kenapa makanannya makin layak?" bisik Gana pada kegelapan.
Di seberang kawat, Vey sedang mengunyah jatah ikan asinnya dengan wajah datar, tapi matanya dingin.
"Matematika dasar, Gan," jawab Vey pelan. "Logistik tetap. Populasi berkurang. Surplus kalori didistribusikan ke unit yang tersisa."
Gana menatap deretan amben kosong di seberang barak. K-013, K-091 (Geni) dan K-112 (Banyu). Hilang pada hari pertama. K-079, hilang hari ketiga. K-044 dan K-150. Hilang tadi pagi saat latihan fisik.
"Kita makan jatah orang mati," desis Gana. Dia meletakkan mangkuk itu. Nafsu makannya hilang, digantikan amarah yang membakar ulu hati. "Makan, Gan. Kalau dirimu gak makan, kamu yang jadi menu besok," tegur Vey tajam.
Gana mengepalkan tangan, lalu dengan terpaksa menyuapkan makanan itu ke mulutnya. Rasanya asin seperti air mata.
Jam 01.30 Dini Hari.
Malam di Barak Karantina tidak pernah benar-benar hening.
Jika kau mendengarkan dengan saksama di antara suara tetesan air tanah yang jatuh dari langit-langit gua (Tes... tes... tes...), kau bisa mendengar simfoni penderitaan yang diredam. Suara gigi yang gemeletuk menahan dingin. Isak tangis yang dibekap bantal apek. Desisan napas dari mereka yang luka bakarnya bergesekan dengan kain kasar.
Gana berbaring telentang di amben kayunya, menatap langit-langit batu yang gelap. Di pojok ventilasi, Genta Angin berputar pelan dengan irama monoton. Pengawas tak kasat mata.
Tubuhnya hancur. Rusuknya berdenyut setiap kali dia menarik napas. Kulit lengannya yang melepuh terasa kaku dan gatal—tanda penyembuhan yang dipaksakan tanpa obat yang layak. Tapi rasa sakit fisik itu entah kenapa terasa jauh, seolah terjadi pada tubuh orang lain.
Pikirannya justru terpaku pada satu hal yang dia lihat di Ruang Tungku. Sesuatu yang lebih menakutkan daripada api Ki Ageng Bara.
Cermin itu.
Kelas doktrin pagi ini mengingatkan kembali Gana kepada cermin besar di Ruang Tungku. Layar kaca di dinding gua yang menampilkan anak-anak Trah Paramatra secara live. Gana ingat betul kualitas gambarnya: jernih, tajam, dan real-time. Jika Bara bisa melihat kelas di menara atas, berarti seseorang di menara atas juga bisa melihat ke bawah sini.
Tiba-tiba, Gana merasakan pergerakan di sampingnya.
Vey. Gadis itu tidak berbisik. Dia merangkak naik ke amben Gana. Dia membawa selimut kumalnya sendiri, ditambah selimut Kanti yang dia seret.
"Ngapain maneh?" Gana kaget, hampir bersuara keras.
Vey langsung membungkam mulut Gana dengan tangannya. Dia menarik selimut Gana, menumpuknya dengan dua selimut lain, lalu menudungkannya ke atas kepala mereka berdua seperti tenda anak-anak.
Di dalam tenda selimut itu, gelap total. Pengap. Bau keringat dan debu. Jarak wajah mereka hanya beberapa sentimeter.
"Dengerin," bisik Vey. Suaranya sangat pelan, tapi tegas. "Ini satu-satunya cara kita bicara."