BREGADA LULUHAN

PapaDi_YSELnury
Chapter #18

BAB 6.3 MANTRA KEBERANIAN

Setelah energi gula masuk ke otak dan membangunkan memori, Gana memberi isyarat tangan. Dia menunjuk matanya, lalu membuat kotak dengan jari (layar), lalu menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi ngeri.

Urang. Liat. Layar.

Vey menyipitkan mata. Dia mendekatkan wajahnya ke kawat.

"Apa?" bisiknya super pelan, memanfaatkan jeda angin. "Cermin?"

Gana mengangguk cepat. Dia berbisik secepat kilat. "Di kelas Bara. Ada layar kaca. Liat anak-anak atas. Live. Jernih. Urang takut di sini juga ada."

Wajah Kanti memucat. Dia langsung menarik selimut menutupi dadanya, matanya liar mencari-cari kilatan kaca di dinding gua yang gelap. Jika suara saja disadap, dan sekarang visual juga... mereka benar-benar telanjang.

Vey terdiam sejenak. Mengisyaratkan mereka berempat untuk berbicara di bawah tenda selimut.

"Cermin Pantul Lintang," bisik Vey. Analisisnya dingin. "Teknologi pengawasan visual berbasis optik kuno. Tapi tenang. Itu punya kelemahan fatal."

"Naon?"

"Cahaya," desis Vey. "Cermin butuh cahaya untuk memantulkan bayangan. Kamera butuh foton. Di kelas Bara terang karena api. Di aula terang. Tapi di sini..."

Vey menunjuk kegelapan barak yang hanya diterangi satu damar redup di tengah. Sudut-sudut ruangan, termasuk tempat mereka tidur, gelap gulita.

"Di sini Lux -nya terlalu rendah. Resolusi mereka bakal hancur."

"Maneh yakin soal Cermin itu?" tanya Gana, melirik paranoid ke dinding gelap.

"Yakin. Aku udah cek sekeliling barak. Gak ada cermin di sini." potong Vey. "Dan di Kelas Lintang hari keempat, Instruktur pamer. Dia bilang itu 'Mata Tuhan' yang gak bisa dibohongi. Tapi dia bodoh. Dia ngejelasin spek-nya. Resolusi optiknya turun drastis di bawah 5 lux. Selama kita di bayangan, kita cuma hantu buram di layar mereka."

"Jadi kita aman dari mata, tapi diawasi telinga?"

"Betul. Dan telinga itu punya celah."

"Kalian pikir benda itu sihir? Salah. Itu mekanika akustik."

Vey membuka sedikit selimut dan menunjuk damar redup di tengah ruangan. "Perhatikan pojok sana. Tunggu pantulannya."

Satu detik. Dua detik... Cling.

Ada pantulan cahaya emas seujung jarum yang muncul sekilas dari Genta itu, lalu hilang lagi.

"Itu Striker-nya," jelas Vey sambil menutup celah dengan selimut. "Pendulum di tengah yang berputar memukul bilah resonansi. Di bawahnya ada lempengan penerima getaran. Itu radar sonar analog."

"Terus?"

"Setiap alat analog punya cacat," Vey menyeringai tipis. "Agar rekamannya jernih, lempengan penerima harus membuang sisa getaran sebelumnya. Jadi, setiap kali Striker selesai berputar satu lingkaran penuh... dia harus berhenti sebentar. Reset Harmonis."

Vey membuat hitungan jari. "Dia butuh waktu sekitar tiga detik untuk reset sebelum mulai merekam lagi. Tiga detik dimana dia tuli."

"Tiga detik?" Kanti melotot. "Itu mah kedip doang!"

"Cukup buat yang cepet," Vey menatap Gana. "Akselerasimu tinggi waktu marah. Kamu bisa lari sepuluh meter dalam sedetik kalau adrenalinmu naik."

Vey menunjuk Yonas. "Kamu bisa nahan beban berat tanpa suara. Kakimu napak bumi, redam getaran langkah kami."

Vey menunjuk kepalanya sendiri. "Seminggu," bisik Vey, "Aku butuh tujuh hari buat validasi data. Dan sekarang margin error-nya sudah di bawah 5%."

"Tapi pintunya, Vey..." potong Kanti cemas. Dia menunjuk pintu besi raksasa di ujung barak. "Itu pintu baja tebal. Dikunci dari luar. Dan engselnya... tadi siang pas dibuka bunyinya kayak monster teriak. KREIITT. Satu barak bangun kalau pintu itu dibuka."

Vey terdiam. Itu variabel yang sulit. Dia bisa membuka kunci kombinasi (dia sudah mengintip polanya saat penjaga masuk), tapi suara gesekan engsel karat seberat 200 kilo itu... fisika tidak bisa dibohongi. Gesekan menghasilkan bunyi.

"Kita gak bisa buka tanpa bunyi," aku Vey. "Kecuali kita punya minyak pelumas satu drum."

Yonas, yang dari tadi diam, tiba-tiba bergerak.

Dia menyentuh lengan Vey, meminta perhatian.

Yonas menunjuk otot bisepnya yang besar. Gerakan Mengangkat. Lalu dia menunjuk Kanti. Dia membuat gerakan mengalir dengan tangannya.

"Air?" bisik Vey bingung. "Air gak cukup licin buat jadi pelumas logam berat."

Yonas menggeleng, berbisik dengan suara beratnya yang seperti gema gua.

"Bukan air, Nona. Uap. Embun."

Yonas menatap Kanti. "Nona Kanti... saya lihat Nona bisa menarik air dari udara untuk mendinginkan tangan Gana yang terbakar. Bisakah Nona menarik uap air malam ini, dan memadatkannya di sela-sela engsel pintu itu?"

Lihat selengkapnya