BREGADA LULUHAN

PapaDi_YSELnury
Chapter #19

BAB 7.1 CELAH BULAN MATI

Lorong Blok Barat.

Status: Stealth Mode.

Pencahayaan: 0.5 Lux - Redup Berkedip (Poor Maintenace).

Detak Jantung Rata-rata Tim: 142 bpm.

Keheningan di lorong itu bukan sekadar ketiadaan suara; itu adalah tekanan fisik yang menghimpit gendang telinga, seberat atmosfer planet asing. Mereka berdiri di persimpangan lorong batu andesit yang lembab, menempel pada dinding dingin yang berlumut seperti empat ekor cicak yang ketakutan menunggu pemangsa lewat. Napas mereka tertahan di pangkal tenggorokan, menciptakan uap tipis yang segera hilang ditelan kegelapan abadi bawah tanah Padepokan Waskita.

Di depan sana, dunia Waskita terbentang luas, sunyi, dan mematikan. Sebuah labirin yang dirancang bukan hanya untuk mengurung tubuh, tapi untuk membingungkan tikus-tikus lab seperti mereka agar kehilangan arah dan harapan.

Vey menekan punggungnya ke batu kasar yang berlumut. Dinginnya menembus kain surjan, menusuk ke tulang belakang seperti jarum es. Mata Vey bergerak liar, memindai kegelapan, mencari pola, mencari anomali, mencari celah dalam sistem keamanan yang konon sempurna ini. Otaknya berputar seperti prosesor komputer tua yang dipaksa menjalankan simulasi berat, kipas pendinginnya—paru-parunya—bekerja keras menahan panas akibat stres.

Parameter Misi: Pencurian Logistik.

Kondisi Fisik Tim: Malnutrisi tingkat menengah. Dehidrasi ringan. Trauma fisik pasca-penyiksaan.

Aset: 1 Scout (Gana), 1 Tank/Silencer (Yonas), 1 Radar (Kanti), 1 Strategist (Vey).

Probabilitas Sukses: 12.4%.

Probabilitas Tertangkap: 87.6%.

Konsekuensi Kegagalan: Eksekusi mati atau reset memori permanen.

Angka-angka itu menari di kepalanya, merah dan menyala di balik kelopak matanya. Dia benci ketidakpastian. Dia benci judi. Baginya, dunia harusnya biner: nol atau satu, hidup atau mati. Tapi perutnya yang perih melilit—rasa sakit yang tajam seperti silet yang mengiris dinding lambung—memaksanya mengabaikan matematika. Lapar adalah motivator purba yang tidak mengenal logika statistik.

Lorong ini tidak gelap total, yang justru membuatnya lebih berbahaya. Di langit-langit, setiap sepuluh meter, tergantung Damar Gantung kecil di dalam sangkar besi berkarat. Tapi karena ini area Blok Luluhan—area pembuangan sampah masyarakat—perawatannya sangat menyedihkan. Damar-damar itu redup, kacanya tertutup lapisan debu tebal bertahun-tahun, dan apinya berkedip-kedip mau mati karena kehabisan minyak, menciptakan bayangan yang menari gelisah di dinding seperti hantu yang kelaparan.

"Berhenti," desis Vey, mengangkat kepalan tangan kanannya. Suaranya tajam, memotong udara lembab.

Tiga napas tertahan di belakangnya. Gana, Kanti, dan Yonas membeku seketika.

Lima meter di depan, tepat sebelum persimpangan lorong keluar menuju area terbuka, tertanam sebuah benda di sudut dinding atas. Sebuah Cermin Pantul Lintang. Mata optik Waskita.

Alat itu berputar pelan pada porosnya dengan suara gerigi kasar yang kurang minyak. Kriet... Kriet... Suara mekanis yang terdengar seperti engsel peti mati yang dibuka perlahan.

"Cermin itu aktif," bisik Gana tegang, matanya memantulkan kilatan lensa cermin yang menyapu lantai. "Kita gak bisa lewat."

"Aktif, tapi rabun," koreksi Vey tenang, meski jarinya gemetar. Matanya menyipit, menghitung ritme putaran alat itu. "Lihat lensanya. Burem. Tertutup debu barak yang gak pernah dibersihkan. Dan rotasinya lambat, mungkin motor penggeraknya sudah aus. Dia punya blind spot—titik buta—selama 3 detik di bawah sudut 45 derajat setiap kali dia berputar ke kiri."

Vey menghitung dalam hati, menyinkronkan detak jantungnya dengan putaran mesin itu.

Satu... (Lensa menyapu kanan).

Dua... (Lensa menyapu tengah).

Tiga... (Lensa berputar ke kiri, membuang muka).

"Maju! Nunduk! Sekarang!"

Mereka merayap cepat di bawah jangkauan pandang cermin, bergerak setengah jongkok seperti kepiting, tepat saat mata lensa itu membuang muka ke arah dinding kosong. Mereka lolos ke bibir lorong luar tepat sebelum suara Kriet berbunyi lagi, mengembalikan pandangan cermin ke tempat mereka tadi berdiri.

Mereka berhasil. Tembok lorong berakhir, membuka ke area luas yang tidak terlindungi atap, di mana angin malam menderu bebas membawa debu.

"Ke mana?" bisik Gana, suaranya nyaris tak terdengar, hanya desisan angin lewat sela gigi yang gemeretak menahan dingin.

Vey memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam, mencoba memanggil kembali "Peta Mental" yang dia bangun keping demi keping selama seminggu ini. Dia menyusun ulang setiap data sensorik yang pernah dia rekam: arah hembusan angin di ventilasi barak, posisi matahari yang terlihat sekilas saat apel pagi, getaran lantai saat truk lewat di kejauhan, dan bau-bauan yang terbawa udara.

"Logika logistik," bisik Vey, suaranya bergetar tapi dia memaksakan nada otoritas agar timnya tidak panik. "Gudang makanan untuk lima ratus mulut—ditambah ratusan staf, instruktur dan Trah Elit—tidak mungkin disuplai lewat lorong sempit ini. Logistik butuh volume. Volume butuh akses. Mereka butuh jalan besar. Truk suplai. Area bongkar muat."

Lihat selengkapnya