Jubah hitam mereka berkibar, ditiup angin malam. Mereka bergerak dalam diam yang tidak wajar. Mereka tidak memegang senter, tapi di kerah baju mereka ada tabung bambu kecil yang berdengung halus dengan cahaya biru redup—Selongsong Bayu, alat komunikasi berbasis frekuensi udara yang mengirim suara langsung ke telinga penerima.
Posisi Gana kritis. Dia bersembunyi di balik kolom kurus dan tepat di jalur patroli mereka. Jarak kembali ke Pilar Timur terlalu jauh. Jika dia lari, dia akan terlihat di area terbuka. Jika dia diam, penjaga akan melihatnya saat lewat.
Gana menatap mereka dari kejauhan. Matanya nanar. Dia tahu dia terjebak.
Gana membuat keputusan gila. Keputusan putus asa dari seorang anak yang menolak mati konyol. Dia menoleh ke Yonas di kejauhan. Gana menunjuk tanah di bawah kakinya, lalu menunjuk dirinya sendiri dengan gerakan memukul dada.
Kubur aku.
Yonas mengerti. Jaraknya 25 meter. Masih masuk dalam kendali Buminya.
Raksasa itu berlutut, menempelkan kedua telapak tangannya yang lebar ke lantai koridor. Tidak ada suara ledakan. Sebaliknya, terdengar dengungan frekuensi rendah yang membuat debu di lantai menari.
Yonas memanipulasi porositas tanah. Dia memadatkan molekul oksigen dan ruang kosong di radius dua meter, menciptakan ruang sisa yang cukup untuk menampung volume tubuh manusia tanpa membuat permukaan tanah naik satu milimeter pun.
Di posisi Gana, tanah mengalir seperti air raksa. Gana tenggelam, merasa tanah dingin itu memeluknya. Dia menarik napas terakhir, membiarkan tanah menutup di atas kepalanya. Di atasnya, permukaan tanah kembali rata, terlihat seolah tidak pernah disentuh selama ratusan tahun.
Berat tanah menekan dadanya, berat sekali, mungkin 50 kilogram. Dia tidak bisa bernapas. Pasir masuk ke telinganya, ke hidungnya. Panik menyerang. Instingnya berteriak untuk meronta, untuk mencari udara. Tapi dia menahan batuknya mati-matian. Dia menggigit lidahnya sendiri sampai berdarah untuk tetap sadar.
Jangan gerak. Jangan napas. Mati suri sebentar.
Dua penjaga itu lewat tepat di samping gundukan tanah tempat Gana terkubur.
Sepatu bot mereka berbunyi tak-tak-tak di atas jalan koridor, getarannya terasa sampai ke tulang dada Gana di bawah tanah.
Cahaya kuning dari Tabung Damar mereka menyapu jalan.
Sinarnya menerangi kolom kecil itu. Kosong.
Sinarnya menyapu tanah gembur di sampingnya, ke “kuburan Gana”.
Salah satu penjaga keluar dari jalan koridor dan berhenti tepat di atas dada Gana. Dia menunduk, curiga pada gundukan tanah baru itu.
"Tanahnya gembur," gumam penjaga itu, suaranya terdengar samar dari balik tanah bagi Gana.
Jantung Vey dan Kanti berhenti berdetak di kejauhan. Kanti menutup mulutnya, air mata ketakutan mengalir. Jangan injak dia. Jangan injak dia.
"Mungkin bekas tikus tanah," jawab temannya bosan. Dia menyentuh Selongsong Bayu di lehernya. "Sektor Central aman. Tidak ada aktivitas visual di Lapangan Mandala."
Suaranya terdengar samar dari balik tanah. "Kenapa sirkuit mandala belum menyala? Seharusnya reset sudah selesai."
"Mungkin ada keterlambatan. Biarkan saja, itu urusan team lain," sahut temannya. "Lanjut ke Selatan."
Mereka berlalu. Kanti menahan napas sampai hawa dingin itu hilang dari radarnya. "Udah pergi... Vey, Gana!"
Tanah di depan mereka bergejolak. Sebuah tangan menyembul keluar seperti zombie bangkit dari kubur.
Gana terbatuk-batuk hebat, meludah pasir bercampur ludah dan darah dari lidahnya. Dia merangkak keluar dari kuburannya sendiri, seluruh tubuhnya gemetar. Wajahnya kotor penuh debu, rambutnya penuh kerikil, tapi matanya menyala liar. Dia menghirup udara rakus, paru-parunya serasa mau meledak.
Dia menatap teman-temannya di balik pilar besar di kejauhan dan mengacungkan jempol gemetar. Aman.
Setelah lolos dari maut, mereka segera mendatangi Gana dan berkumpul kembali.
"Gila maneh, Yon. Hampir mati urang," Gana. menyeringai pucat, membersihkan tanah dari lubang hidungnya. Napasnya masih memburu, menghirup oksigen. "Tapi... efektif."
"Hampir ketauan," koreksi Yonas datar, meski ada kelegaan yang sangat besar di matanya. Tangannya yang besar kini gemetar karena penggunaan Laku yang presisi. Mengubur teman tanpa membunuhnya butuh kontrol mikroskopis.