BREGADA LULUHAN

PapaDi_YSELnury
Chapter #21

BAB 7.3 RESIDU ORGANIK

Gelap gulita.

Di dalam gudang, udaranya berbeda total dari luar. Dingin, lembab, dan berbau apek yang menusuk—campuran bau beras lama, karung goni basah, gula, dan ikan asin yang mengering. Keheningan terasa berat dan menekan, seolah udara di sini lebih padat.

"Gan, api kecil," bisik Vey. "Hati-hati, oksigen di ruangan tertutup biasanya tipis. Jangan bakar karung."

Fwoosh.

Api kecil muncul di telapak tangan Gana. Cahaya jingga menyinari ruangan luas itu.

Mereka ternganga. Gudang itu raksasa.

Tumpukan karung beras menjulang setinggi gunung, rak-rak besi penuh kaleng sarden berkarat, dan peti-peti kayu berisi umbi-umbian. Ini adalah harta karun bagi perut mereka yang lapar.

Gana mendongak ke langit-langit. Wajahnya pucat seketika.

"Vey... di atas."

Vey melihat ke atas, mengikuti arah pandang Gana.

Di tengah langit-langit gudang, tergantung sebuah benda kaca bening berbentuk tetesan air raksasa. Di dalamnya, ada cairan perak yang mengapung, bergolak pelan seperti air raksa hidup. Benda itu berkilauan memantulkan cahaya api Gana.

"Genta Angin!" desis Gana panik. Dia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Jangan ngomong! Dia denger!"

Kepanikan melanda mereka. Trauma Genta Angin di barak yang bisa mendengar bisikan masih segar di ingatan. Jika benda itu mengirim sinyal suara, mereka tamat.

Yonas menyipitkan mata, menatap benda itu dengan teliti.

"Bukan," bisik Yonas. "Bentuknya beda. Itu tidak punya striker pemukul. Itu tidak berputar. Itu Genta Banyu."

"Genta Banyu?" tanya Kanti bingung.

"Di kampungku, orang tua pakai yang sederhana buat Pranatamangsa—prediksi musim," jelas Yonas. "Benda itu mendeteksi kelembaban udara. Kalau cairan di dalamnya naik, berarti mau hujan. Itu alat meteorologi kuno."

Mata Vey membelalak. Otak fisikanya langsung menyambungkan titik-titik itu dalam hitungan milidetik.

"Tentu saja..." bisik Vey ngeri. "Logika keamanan gudang. Mereka gak pasang sensor suara karena gudang ini berisik sama tikus. Sensor suara bakal false alarm terus. Musuh utama beras adalah jamur dan pembusukan. Jadi, mereka pasang sensor kelembaban (Higrometer) tingkat tinggi buat jaga kualitas udara."

Vey menatap teman-temannya dengan tatapan horor baru. Ancaman ini lebih biologis.

"Ini lebih bahaya dari sensor suara. Jangan bernapas lewat mulut! Jangan deket-deket Genta itu!"

"Kenapa?" tanya Gana.

"Napas kita mengandung uap air, Bodoh! Kita baru lari, napas kita panas dan basah! Api di tanganmu bikin suhu naik! Perubahan suhu dan kelembaban mendadak bakal memicu sensornya! Cairan perak itu akan memuai dan menekan kaca pemicu!"

Mereka langsung menahan napas. Situasi menjadi jauh lebih rumit. Mereka bukan hanya harus diam, mereka harus mengontrol metabolisme tubuh. Setiap hembusan napas adalah risiko memicu alarm.

Mereka bergerak cepat mengambil jatah, mencoba bernapas sehalus mungkin lewat hidung. Mengisi saku dengan kaleng sarden dan gula merah. Tangan mereka gemetar memasukkan makanan curian.

Kanti mengambil beberapa bongkah gula merah, hendak memasukkannya ke saku surjan. Saku itu penuh. Dia mengeluarkan pengganjalnya: Lontar pemberian Ibunya.

Cahaya api Gana menyinari lontar itu sekilas.

Vey, yang sedang memasukkan botol vitamin ke saku, tertegun.

Matanya menangkap pola emas di lontar itu. Itu bukan pola batik biasa. Mata analitisnya mengenali pola geometris itu. Fibonacci Sequence. Rasio Emas. Fraktal Matematika yang sempurna. Persis seperti sketsa yang dia lihat di ruang kerja kakeknya—seorang profesor fisika kuantum—yang hilang lima tahun lalu.

Kenapa Kanti punya desain kakek?

"Itu..." Vey hendak bertanya, tangannya terulur, melupakan situasi sesaat.

Lihat selengkapnya