BREGADA LULUHAN

PapaDi_YSELnury
Chapter #22

BAB 8.1 TERJEPIT ANTARA CAHAYA & KEGELAPAN

Pinggir Lapangan Mandala - Sektor Barat. 03:10 Dini Hari.

Angin malam di pinggir Lapangan Mandala tidak lagi terasa sekadar dingin; angin itu terasa seperti napas pemburu raksasa yang mengendus di tengkuk mereka, mencari mangsa yang lengah. Mereka berempat berjongkok rapat di balik pilar batu terakhir, empat bayangan kecil yang gemetar di bawah kaki raksasa arsitektur Paramatra yang angkuh.

Di depan mereka, terbentang jarak sekitar dua puluh lima meter, dengan area transisi—tanah padat bercampur kerikil—diantara lapangan dan jalan landai (ramp) yang menurun ke mulut gua lorong bawah tanah Barak Karantina. Kegelapan di sana tampak mengundang, sebuah janji palsu tentang keamanan di balik selimut apek yang hangat.

"Ayo, Teh," bisik Gana, suaranya mendesak namun tetap menjaga nada hormat khas adiknya yang penurut. Napasnya memburu, uap putih keluar dari mulutnya yang kering. Dia bersiap lari menuruni ramp itu. "Kita kunci pintu, masuk selimut, beres. Gana udah gak kuat nahan dingin, kaki Gana gemeteran."

Gana baru melangkah satu kaki ketika tangan Kanti mencengkeram erat lengan adiknya. Cengkeraman yang dingin, basah oleh keringat, dan gemetar hebat. Kanti bukan penakut biasa; dia adalah radar yang merasakan apa yang tidak terlihat mata. Dia adalah Mojang yang perasanya terlalu tajam untuk dunia sekeras ini.

"Jangan, Gan," desis Kanti, matanya terpejam erat, keningnya berkerut menahan denyutan sakit di kepalanya. Rasa mual tiba-tiba menyerangnya, seperti ada gelombang frekuensi rendah yang menghantam ulu hati. "Jangan turun."

"Kenapa lagi, Teh? Patroli udah lewat kan?" tanya Gana, berhenti seketika. Dia menatap wajah kakaknya dengan khawatir. "Teteh pucet banget."

"Ada orang," bisik Kanti, suaranya parau menahan mual. "Di lorong bawah. Bukan di dalem barak, tapi di lorong akses menuju pintu besi. Hawanya diem... dingin... dia nunggu."

Vey, yang sedang menghitung probabilitas di kepalanya, langsung menarik bahu Gana mundur ke balik bayangan pilar dengan kasar namun efisien. "Penjaga?" tanya Vey tanpa suara, membaca gerak bibir.

"Kayaknya," Kanti mengangguk lemah, membuka matanya yang berkaca-kaca. "Hawanya kosong. Gak ada emosi. Mungkin dia lagi berjaga atau ngecek Cermin Lintang di persimpangan. Tapi dia ada di sana. Kalau kita turun ke lorong itu, kita bakal langsung ketemu muka sama dia. Tabrakan."

"Sialan," umpat Gana pelan, menggaruk kepalanya frustasi. "Terus gimana? Kita tunggu sampe dia pergi?"

"Tidak bisa," potong Vey cepat. Wajahnya yang biasanya datar kini terlihat panik. Dia menengadah ke langit yang tertutup kabut, lalu beralih ke lantai batu andesit di bawah mereka—Lapangan Mandala.

Terdengar suara dengung rendah berfrekuensi tinggi, seperti suara ribuan lebah listrik yang bangun dari tidur.

Zzzzt...

Dari sela-sela nat batu andesit di tengah lapangan, cahaya biru redup mulai berkedip-kedip. Nadi Padepokan mulai berdenyut. Sistem keamanan bangun.

"Liat," bisik Vey ngeri, menunjuk lantai. "Kalibrasi Tilem selesai. Sistem Mandala lagi rebooting. Kemungkinan besar dalam kurang dari enam puluh detik, seluruh lantai lapangan ini bakal nyala terang benderang kayak pasar malam. Neonnya bakal nyala merambat sampai keujung lapangan."

Situasinya kritis dan mematikan. Sebuah skakmat posisi. Di depan (Lorong Bawah): Ada penjaga tak dikenal yang menunggu dalam diam. Di belakang (Lapangan): Lantai akan segera menyala dan menelanjangi posisi mereka sebagai siluet target tembak. Mereka terjebak di tengah. Tidak bisa maju, tidak bisa mundur, dan tidak bisa diam.

Kanti memicingkan mata, menatap garis-garis di lantai yang berkedip semakin cepat. "Cahayanya beda, Vey," bisik Kanti, instingnya merinding. "Ini bukan cahaya biasa yang kita liat pas makan siang. Rasanya... tajem. Jahat. Kayak ada yang salah sama cahayanya."

Gana, yang kulitnya sensitif terhadap perubahan suhu, mendekatkan tangannya ke ubin terdekat yang berkedip—sekitar sepuluh senti di atas permukaan. Dia langsung menarik tangannya kembali seolah tersengat lebah. "Panas!" desis Gana sambil mengibas-ngibaskan tangan. "Itu baru kedip doang tapi udah kerasa kayak setrikaan nyala. Temperaturnya jauh lebih tinggi dari cahaya neon yang biasa."

Vey yang mendengar data empiris dari dua temannya itu langsung pucat pasi. Otaknya menyusun kesimpulan fatal. Logika menyambar.

"Itu Surge," bisik Vey, suaranya bergetar. "Kalian bener. Itu bukan sekedar cahaya. Saat sistem reboot, bakal ada lonjakan energi awal (burst) buat kalibrasi. Dan kalau Gana bilang itu panas..."

Vey menatap garis-garis itu dengan horor baru. "Itu Grid Microwave," jelas Vey. "Garis-garis neon itu emitor gelombang panas. Kalau nyala penuh saat burst awal, dia bakal mancarin radiasi termal ke segala arah."

Lihat selengkapnya