Shaft Ventilasi Vertikal. 03:15 Dini Hari.
Dunia menyempit menjadi kotak seng vertikal yang gelap, sempit, dan mencekik. Turun ke dalam shaft ventilasi Barak Karantina sama dengan masuk ke dalam kerongkongan monster raksasa yang sedang sekarat. Dinding seng di sekeliling mereka berlendir, dilapisi campuran minyak mesin basi dan kondensasi uap amonia yang telah membusuk selama puluhan tahun.
Angin kencang berhembus dari atas, disedot oleh kipas turbin raksasa di dasar shaft. Suaranya menderu seperti badai kecil yang terperangkap dalam botol, membuat rambut mereka berkibar liar dan mata perih terkena debu industri yang tajam.
Bagi Yonas, lorong vertikal ini adalah neraka pribadinya. Bahunya yang lebar terus-menerus bergesekan dengan dinding seng yang kasar. Srek... Srek... Bunyi gesekan kain surjannya terdengar memekakkan telinga di ruang sempit itu, seolah-olah dinding itu sedang mencoba menguliti tubuhnya hidup-hidup. Dia harus memutar tubuhnya miring, menahan napas dalam-dalam agar dadanya yang bidang bisa muat melewati sambungan baut yang menonjol. Keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya, membuat pegangannya pada tangga besi yang berkarat terasa licin dan berbahaya.
Di atas Yonas, Kanti merayap turun dengan gerakan yang jauh lebih rapuh. Napasnya pendek-pendek, tersengal. Debu tebal menyumbat hidungnya, membuat dadanya sakit setiap kali menghirup udara. Namun, bukan ketinggian atau ruang sempit yang membuat bulu kuduk Kanti berdiri.
Tiba-tiba, Kanti berhenti mematung. Dia mendongak ke atas, menatap celah gelap di antara kaki Vey.
"Berhenti!" desis Kanti. Suaranya kecil, tapi mengandung getaran ketakutan yang begitu murni hingga membuat Vey langsung mematung.
Gana di atasnya nyaris menabrak kepala Vey. "Vey? Kenapa? Kipas di bawah berisik, ayo turun."
"Diam..." Kanti memejamkan mata, mencengkeram besi tangga hingga buku jarinya memutih. "Jangan gerak. Tahan napas kalian."
Radar di kepala Kanti meledak. Dia merasakan hawa dingin yang tidak wajar merambat turun dari arah kisi-kisi tempat mereka masuk tadi. Itu bukan dinginnya angin malam. Ini adalah dingin yang tajam. Dingin yang terasa seperti ujung pisau bedah yang sedang menari di atas kulit mereka.
"Ada sesuatu di atas..." bisik Kanti, suaranya bergetar hebat. "Dia... dia nggak turun. Dia cuma diam di sana. Mengawasi kita dari kegelapan."
"Mungkin cuma angin malem, Teh," bisik Gana, meski dia juga merinding.
"Bukan. Diem!" perintah Kanti. Insting Banyu-nya berteriak bahaya.
Mereka berempat membeku di tengah tangga besi itu. Menggantung di dalam kegelapan. Tangan mereka mulai sakit mencengkeram besi yang licin. Otot bahu Yonas menegang menahan berat badannya yang masif tanpa suara. Gana menggigit bibir, menahan kakinya agar tidak terpeleset.
Satu detik. Sepuluh detik. Tiga puluh detik. Hanya suara wuung kipas di bawah yang terdengar. Hawa dingin di atas perlahan menghilang, atau mungkin menjauh.
"Udah pergi," desah Kanti, lemas. Keringat dingin mengalir di punggungnya. "Apa itu tadi?"
"Mungkin patroli lewat di deket lubang," analisis Vey, meski suaranya terdengar ragu. "Ayo turun sebelum tangan kita mati rasa."
Mereka kembali merayap turun. Kanti mencoba fokus, tapi pikirannya terbelah. Hawa dingin tadi... rasanya familiar. Tapi dia tidak bisa mengingatnya karena gangguan lain yang lebih kuat.
Gangguan dari sepatu itu.
Sepatu kain dekil milik Sari (K-112) yang dia peluk erat di dadanya mulai terasa 'hidup'. Di ruang sempit yang terbuat dari logam ini, resonansi emosi benda itu menjadi seribu kali lebih kuat, memantul-mantul di dinding seng. Sepatu itu berdenyut. Kanti merasakan dingin yang menusuk menembus kulit dadanya, membekukan tulang rusuknya.
"Teh, pegangan yang bener," bisik Gana dari atas. Suara adiknya terdengar jauh, terdistorsi, seperti dari ujung terowongan panjang. "Jangan ngelamun, bahaya."
Kanti ingin menjawab, tapi lidahnya kelu. Dinding seng di sekelilingnya seolah meleleh, berubah warna menjadi putih steril yang menyakitkan mata. Suara deru kipas angin di bawah berubah menjadi dengung mesin medis yang konstan. Bip... Bip... Bip...
"Sampai," suara berat Yonas menggema dari bawah, memecahkan halusinasi Kanti sejenak.
Yonas berhenti di sebuah kisi-kisi besi tebal (grating) yang berfungsi sebagai lantai servis. Di bawah kaki mereka, terlihat baling-baling kipas raksasa berputar lambat namun mematikan, menyedot udara ke dalam filter. Kisi-kisi ini adalah satu-satunya pemisah antara mereka dan pencacah daging mekanis itu.