Di sana, duduk santai dengan satu kaki menjuntai, sesosok bayangan bergerak. Dia tidak menyalakan api. Dia tidak butuh cahaya. Angin di ruangan tertutup itu berputar pelan di sekelilingnya, memainkan ujung jubah hitamnya yang beraksen perak berkilau.
Raka.
Pewaris Klan Paramatra. Senior Disiplin. Dia sudah di sana sejak tadi. Menonton. Mendengar semuanya. Dan Kanti baru sadar... hawa dingin yang dia rasakan di ventilasi tadi... itu adalah Raka. Dia sudah mengikuti mereka sejak di atas.
Raka melompat turun dari atas tangki setinggi tiga meter. Tubuhnya melayang turun, ringan seperti bulu, dan mendarat tanpa suara sedikitpun di lantai beton.
Wussh. Angin dingin berhembus kencang dari arahnya, memadamkan hawa panas Gana dalam sekejap mata, sekaligus menutup pintu akse di dinding yang tadi lupa ditutup Yonas dengan hempasan keras.
BLAM.
Raka berjalan mendekat. Posturnya tegak, elegan, kontras dengan lingkungan kumuh ruang mesin yang penuh oli. Wajahnya datar, tampan, namun mengerikan.
Kehadiran Raka mengubah tekanan udara di ruangan itu secara instan. Gana merasakan telinganya berdengung dan meletup, seperti saat pesawat lepas landas. Oksigen di sekitar mereka seolah disedot paksa, membuat mereka megap-megap mencari napas.
Itu bukan sihir. Itu kendali Laku tingkat tinggi. Raka memanipulasi tekanan barometrik di radius lima meter hanya dengan kehadirannya.
Raka tidak langsung bicara. Dia berjalan mendekati mereka perlahan, langkah kakinya tidak berbunyi sama sekali, seolah dia berjalan di atas bantalan udara. Matanya yang tajam menatap barang bawaan mereka: kantong kecil di punggung Yonas dan kaleng sarden di saku Gana.
Kanti gemetar, tapi dia mendongak menatap mata Raka. Di saat itulah Kanti melihatnya. Pupil mata Raka tidak hitam pekat. Ada pusaran abu-abu yang berputar pelan di sana, seperti badai yang dikurung dalam bola kaca.
"Kalian terlambat lima menit dari prediksiku," kata Raka datar. Bahasa Indonesianya baku dan sempurna, tanpa logat, tanpa cela. "Dan kalian terlalu berisik untuk ukuran maling amatir."
Dia berhenti tepat di depan Gana. Tinggi mereka hampir sama, tapi aura Raka membuat Gana terlihat kecil.
"Logika yang cukup menghibur, K-001," Raka melirik Vey tanpa menolehkan kepalanya. "Kau menghindari jebakan Cermin Lintang di pintu depan dan memilih jalur tikus lewat cerobong udara. Cerdas. Aku hampir terkesan."
Raka kembali menatap Gana yang masih gemetar menahan amarah.
"Tapi kalian lupa satu hal. Di Waskita, angin bisa mencium bau busuk sampah, dari lubang mana pun dia masuk."
"Maneh..." Gana menggeram, mencoba memanggil apinya lagi, tapi tekanan udara di sekitar tubuhnya begitu berat hingga dia sulit bernapas. Raka sedang memanipulasi tekanan barometrik di ruangan itu, menekan oksigen di sekitar Gana.
"Diam," perintah Raka pelan.
Raka tidak melihat ke arah Gana lagi. Matanya turun. Bukan ke wajah Kanti yang sembab. Tapi ke lantai. Ke sepatu butut yang tergeletak menyedihkan di sana. Sepatu dengan tulisan spidol pudar: K-112.
Ada jeda yang panjang. Hening yang berat. Kanti, dengan sensitivitas emosinya yang masih terbuka lebar pasca-visi, merasakan sesuatu yang aneh. Dia merasakan dinding pertahanan mental Raka. Biasanya dinding itu tebal dan dingin seperti baja. Tapi saat mata Raka menatap sepatu itu... ada retakan halus. Ada getaran... jijik? Muak? Lelah?
"K-112," gumam Raka pelan, nyaris tak terdengar. Suaranya kehilangan sedikit nada angkuhnya, berganti dengan nada observasi yang suram. "Anak kecil yang menangis di kantin minggu lalu. Yang dibawa oleh Kirana karena tidak memenuhi standar."
Dia ingat. Monster ini ingat korbannya. Bahkan nomor sepatunya.
"Maneh tau?" tuduh Gana, suaranya serak. "Maneh tau mereka bunuh dia? Maneh sekongkol sama pembunuh itu? Hah?!"