BREGADA LULUHAN

PapaDi_YSELnury
Chapter #25

BAB 9.1 PANGERAN LUMPUR

Barak Karantina - Sektor Luluhan. 03:45 Dini Hari.

Tidak ada pesta kemenangan. Tidak ada sorak sorai keberhasilan kabur dari maut. Yang ada hanyalah suara krek kaleng sarden yang dibuka paksa, terdengar seperti tulang yang patah di tengah keheningan barak yang mencekam. Suara itu begitu asing dan tajam, seolah merobek selubung ilusi ketenangan yang coba mereka pertahankan mati-matian.

Yonas masih bisa merasakan sensasi kasar di telapak tangannya saat ia mengangkat bingkai louvers di langit-langit toilet tadi. Lubang ventilasi itu besar—seratus dua puluh sentimeter persegi—cukup luas untuk menyapu bahu lebarnya tanpa terjepit. Namun, yang membuatnya tertegun bukan ukurannya, melainkan betapa ringkihnya benda itu.

Korosi Uap Amonia, batin Yonas, menganalisis dengan insting tekniknya.

Ia tidak perlu mengeluarkan tenaga berlebih. Saat tangannya mendorong bingkai besi itu ke atas, baut-baut penahannya rontok menjadi serpihan karat merah di atas kepalanya. Bau amonia yang menyengat dari arah jamban di bawah sana telah melakukan pekerjaan berat untuk mereka selama bertahun-tahun; korosi uap limbah itu telah menggerogoti logam hingga bingkai seberat lima belas kilogram itu kini hanya tertahan oleh gravitasi dan sisa-sisa kerak besi. Sebuah pintu rahasia yang diciptakan oleh kelalaian perawatan Waskita.

Yonas menyadari ironi itu: Keamanan mereka malam ini bukan diselamatkan oleh strategi canggih, tapi oleh kotoran dan karat di tempat yang paling dibenci orang.

Setelah turun dari cerobong ventilasi dan membantu para gadis kembali ke area mereka, Yonas memberi isyarat agar mereka bertemu di perbatasan pagar dan dinding toilet, melewati batas amben yang dihuni murid-murid lain. Di sini, di tiga perempat ruangan menuju saluran pembuangan, barak mulai terasa lowong. Tidak ada yang mau tidur di sini. Bau amonia dari WC yang meluap menciptakan zona penyangga alami yang dijauhi semua orang—bahkan oleh penjaga.

"Di sini," bisik Yonas. Mereka bertemu tepat di amben terakhir yang berbatasan langsung dengan pagar kawat yang membatasi area pria dan wanita, tepat di titik di mana pagar itu bertemu dengan dinding semen kasar ruang toilet.

Di pojok terjauh barak, di sektor yang baunya paling busuk, mereka membangun benteng kecil. Empat selimut apek digantung pada rangka pagar kawat yang memisahkan sel mereka, menciptakan sebuah sudut privat yang terisolasi dari pandangan murid lain maupun penjaga di koridor tengah.

Di balik dinding kain lusuh itu, mereka duduk merapat pada pagar kawat yang sama. Jarak fisik di antara mereka memang terhalang oleh jalinan besi dingin, namun punggung mereka saling bersandar pada sisi kawat yang berbeda, mencari sisa kehangatan tubuh satu sama lain melalui lubang-lubang anyaman baja. Jari-jari Kanti sesekali masuk melewati celah kawat, menyentuh lengan Gana atau ujung baju Vey—sebuah upaya putus asa untuk memastikan bahwa mereka semua masih utuh, masih hidup.

Setelah horor di ruang mesin yang penuh pipa berkarat, suara dingin Raka, dan visi kematian Sari yang membeku menjadi baterai, jiwa mereka terguncang hebat hingga ke fondasinya. Insting purba mamalia mengambil alih: tetap berkelompok atau mati dimangsa predator.

Yonas duduk bersila di dekat celah selimut, posisi strategis yang memungkinkannya melihat ke luar tanpa terlihat. Ia menyandarkan tulang belikatnya pada tiang besi pagar yang dingin dan bergetar setiap kali ada langkah kaki berat di kejauhan, menyerap suhu rendah itu untuk menjaga kepalanya tetap waspada. Dia memposisikan tubuh raksasanya sebagai tameng hidup—sebuah dinding daging dan otot—antara teman-temannya dan dunia luar yang kejam. Dia tidak tidur. Dia tidak bisa tidur. Meskipun Raka melepaskan mereka dengan alasan "estetika" yang merendahkan dan penuh teka-teki, Yonas tahu satu hukum pasti di Waskita: dinding pun punya telinga, bayangan pun punya mata, dan angin malam sering kali membawa bisikan pengkhianatan. Kewaspadaan adalah satu-satunya mata uang yang bisa membeli nyawa di tempat ini.

Di hadapannya, diterangi oleh bias cahaya damar koridor yang remang-remang menembus serat kain selimut, Gana, Kanti, dan Vey makan seperti hewan yang terluka parah.

Gana tidak mengunyah. Dia menyendok potongan ikan dingin itu dengan dua jari yang masih gemetar, menjejalkannya ke kerongkongan, lalu menelan paksa. Jakunnya bergerak naik turun dengan kasar, seolah dia sedang menelan batu kerikil. Wajahnya kusam, penuh noda oli di pipi. Sesekali tangannya menggaruk punggungnya yang penuh keropeng luka bakar—rasa gatal akibat penyembuhan yang tidak sempurna membuatnya gelisah seperti monyet. "Gatel banget, anjing," umpat Gana pelan, menggaruk punggungnya ke pagar. Itu umpatan remaja normal, bukan makian pemberontak. Hanya anak laki-laki yang risih dengan badannya sendiri.

Kanti makan sambil terisak tanpa suara. Dia menyisir rambutnya yang kusut dan lepek dengan jari, mencoba merapikan penampilannya secara naluriah meski tidak ada gunanya. Bahunya yang kecil berguncang setiap kali menelan, seolah makanan itu adalah duri yang melukai tenggorokannya. Dia makan bukan untuk dirinya sendiri, tapi seolah dia sedang mencoba memberi makan hantu Sari yang mungkin masih lapar di alam sana. Setiap suapan adalah siksaan, mengingatkannya bahwa dia masih hidup dan bisa merasakan rasa, sementara Sari... Sari mungkin sudah tidak merasakan apa-apa lagi selain dingin abadi.

Dan Vey... Si Jenius Logika itu makan dengan ritme robotik yang mengerikan. Satu suap. Berhenti lima detik. Kunyah tiga kali. Telan. Bibirnya komat-kamit tanpa suara, seolah sedang menghitung ulang seluruh kejadian malam ini, mencari variabel di mana dia bisa menyangkal fakta bahwa manusia dijadikan baterai. Tapi kalkulasinya buntu. Realitas Waskita terlalu irasional untuk otaknya. Dia melepas kacamatanya yang retak, meludahinya sedikit, lalu mengelapnya dengan ujung baju yang sama kotornya. Tanpa kacamata, mata Vey terlihat sipit, lelah, dan sangat muda. Bukan mata ilmuwan, tapi mata anak kecil yang ingin pulang.

Yonas hanya mengamati mereka. Dia belum menyentuh makanan itu. Sebagai pemilik Laku Bumi (Tanah), Yonas memiliki metabolisme yang lambat dan daya tahan yang tinggi. Dia bisa bertahan tanpa makan tiga hari jika perlu. Tugasnya sekarang bukan makan, tapi menjadi pasak. Dia melihat Gana yang terbakar amarah. Dia melihat Kanti yang tenggelam dalam kesedihan. Dia melihat Vey yang retak oleh logika yang runtuh. Jika Yonas tidak kuat, struktur tim kecil ini akan ambruk.

Lihat selengkapnya