Yonas selesai menggambar peta kasar Nusantara di atas debu lantai barak dengan telunjuknya. Garis-garis imajiner itu membelah pulau menjadi wilayah kekuasaan klan. Vey memperbaiki posisi duduknya, otaknya yang analitis mulai memetakan skala geopolitik ini. "Tunggu, Yon. Kalau sukumu memegang monopoli emas, bagaimana dengan suku lain? Apakah Trah Bumi hanya ada di Papua? Apakah Trah Bayu hanya keluarga Raka?"
Yonas menggeleng. "Kalian pikir Paramatra hanya ada di Jawa? Jaringannya mencengkeram seluruh Nusantara, Vey. Trah Pancalaku tersebar di setiap pulau."
Yonas menggunakan jarinya untuk menggambar peta imajiner di tanah berdebu. "Trah Bhumi (Tanah) bukan cuma Tonotwidi. Ada klan-klan kecil di Sumatera yang menjaga Bukit Barisan. Ada pengembara padang rumput di Sumba. Tapi Tonotwidi adalah yang terbesar karena kami memegang sumber daya."
Yonas menarik garis ke utara. "Trah Bayu (Angin) juga begitu. Ada Klan Angin Mamiri di Sulawesi yang menguasai laut. Tapi yang terkuat, yang paling dekat dengan Ki Ageng Kala, dan satu-satunya Trah Bayu yang tersisa di Nusantara adalah Keluarga Lisus di Jawa. Keluarganya Raka."
"Terus," Gana menyela, keningnya berkerut. "Gimana kalau ada anak yang 'salah jurusan'? Misalnya di suku maneh, suku Tanah, tiba-tiba lahir anak yang bisa ngendaliin Angin? Atau Air?"
Wajah Yonas berubah muram. Pertanyaan itu menyentuh luka lain. "Setiap suku punya elemen dominan. Di Tonotwidi, 90% lahir dengan bakat Bumi. Tapi ada minoritas. Yang lahir dengan bakat Banyu (Air) biasanya kami jadikan tabib atau dokter desa karena kemampuan penyembuhannya. Mereka dihargai."
Yonas menatap Gana lekat-lekat. "Tapi Bayu... Angin adalah anomali yang berbahaya."
"Kenapa?"
"Karena Keluarga Lisus—keluarga Raka—mengklaim hak eksklusif atas semua pengguna Angin kuat di Nusantara. Jika ada anak di pedalaman Kalimantan atau Papua yang lahir dengan bakat Angin besar... Keluarga Lisus akan datang."
"Mereka ngapain?" tanya Kanti takut.
"Mereka 'memanen'," bisik Yonas. "Anak itu akan diambil paksa saat masih balita. Dibawa ke keluarga Lisus. Dididik secara brutal sejak kecil untuk menjadi pengawal elit atau pembunuh bayangan. Identitas sukunya dihapus. Dia dijadikan 'Angin Patuh' seperti yang dijelaskan Ki Kerta."
"Kalau keluarganya nolak?" tanya Gana, membayangkan jika dia punya adik yang diambil.
"Maka satu kampung akan hilang," jawab Yonas dingin. "Ki Ageng Kala tidak mentolerir saingan. Bagi mereka, Laku Bayu yang tumbuh liar di luar pengawasan Raka adalah ancaman pemberontakan. Itu sebabnya Raka begitu sombong. Dia tahu dia adalah puncak dari rantai makanan predator ini."
Gana terdiam. Skala musuh mereka tiba-tiba terasa raksasa. Mereka tidak sedang melawan satu sekolah. Mereka melawan sebuah kekaisaran yang memegang leher seluruh kepulauan.
"Tapi Yon," potong Gana, keningnya berkerut mengingat sesuatu yang mengganjal sejak hari pertama. "Kalau Trah tersebar di seluruh pulau... gimana caranya kita semua nyampe sini barengan? Urang dari Bandung, lewat Pasar Kliwon. Si Reno dari Jakarta. Maneh dari Timika. Kita nyampe di hari yang sama."
Yonas menggeser duduknya, menggambar lingkaran besar di tanah dengan jarinya. " Tempat ini bukan di Indonesia, Gan. Maksudku... bukan di dimensi Indonesia yang kalian tahu."
Gana dan Kanti terdiam.
“Paramatra adalah Dunia Bayangan," bisik Yonas. "Realitas paralel yang menempel pada dunia manusia. Pintunya ada banyak." Yonas membuat titik-titik di sekeliling lingkaran itu. "Ada Gerbang Jakarta, Gerbang Surabaya, Gerbang Makassar. Menurut naskah kuno yang kubaca, itu semua Portal Buatan. Para Lintang melubangi pintu dunia dengan paksa… seperti rayap. Mereka menggunakan energi Emas untuk menghubungkan Padepokan dengan dunia luar. Biasanya anak-anak yang masuk lewat sana akan merasa pusing, mual, atau seperti ditarik dari tempat tidur mereka."
Vey tertegun. Matanya membelalak. "Glitch..." bisiknya. "Malam itu... aku selesai makan malam. Lalu aku merasa kamarku melipat. Aku tidak berjalan ke mana-mana. Aku disedot. Jadi itu wormhole?"
"Itu cara mereka menjemput aset spesifik," angguk Yonas. "Terutama anak Lintang yang logikanya berbahaya jika dibiarkan keluyuran mencari pintu sendiri. Mereka diculik langsung."
"Tapi urang..." Gana menatap Kanti. "Urang jalan kaki, Yon. Lewat pasar malem. Ada kabut. Dingin. Urang sadar sepenuhnya."
Yonas menatap Gana dan Kanti dengan pandangan aneh, seolah mereka adalah makhluk langka. "Pasar Kliwon?"
"Iya."