BREGADA LULUHAN

PapaDi_YSELnury
Chapter #27

BAB 9.3 FIBONACCI DI LONTAR IRENG

"Tidur," perintah Yonas lembut, kembali ke mode pelindung. " Sudah hampir subuh. Kita butuh tenaga. Aku jaga giliran pertama. Jangan balik ke amben masing-masing. Di sini lebih aman. Benteng selimut ini meredam suara dan menahan panas tubuh kita."

Waktu berlalu lambat seperti tetesan getah damar. Mereka tidur berhimpitan seperti anak anjing yang mencari kehangatan di tengah badai salju. Napas Gana mulai teratur, mendengkur halus karena kelelahan fisik yang ekstrem; api marahnya padam sementara untuk diisi ulang. Vey tidur dalam posisi meringkuk, memeluk lututnya, otaknya akhirnya berhenti berhitung.

Namun, Yonas melihat Kanti masih gelisah di tengah. Gadis Sunda itu tidur menyamping, tapi tidurnya adalah medan perang. Keningnya berkerut dalam, alisnya bertaut, dan bibirnya komat-kamit tanpa suara. Yonas bisa melihat napas Kanti tersengal, pendek-pendek, seolah dia sedang berlari dari sesuatu yang tak terlihat atau... sedang dicekik oleh tangan hantu yang dingin.

Dia kembali ke sana, pikir Yonas sedih. Dia kembali ke visi itu. Ke ruang pembekuan.

Tubuh Kanti menggigil hebat. Tangan kanannya mencengkeram erat saku dalam surjannya, buku-buku jarinya memutih, seolah sedang memegang jimat pelindung terakhirnya. Yonas ingin membangunkannya, mengusap kepalanya seperti seorang kakak, tapi dia tahu trauma harus dikeluarkan. Jika dibangunkan paksa, racun memori itu akan mengendap dan menjadi kanker jiwa.

Tiba-tiba, Yonas melihat sesuatu yang ganjil. Sangat ganjil. Setetes air mata keluar dari sudut mata Kanti yang terpejam. Air mata itu jatuh menetes, meluncur lambat melewati pipinya yang tirus, menuju ke arah saku dadanya.

Di mata Yonas yang terbiasa melihat elemen tanah dan mineral, cairan itu terlihat aneh. Itu bukan air mata bening biasa yang terdiri dari air dan garam. Ada kilatan biru redup di dalamnya—seperti ada serpihan kristal es mikroskopis yang terperangkap di sana. Itu adalah Residu Energi. Air mata itu membawa muatan emosi dan memori Sari yang bocor dari jiwa Kanti, sebuah kontaminasi spiritual.

Saat air mata itu merembes ke kain surjan Kanti...

Tesss.

Terdengar suara desis pelan. Tajam. Seperti air dingin yang menetes ke atas lempengan logam panas. Yonas langsung siaga, otot-ototnya menegang. Dia mendekatkan wajahnya, matanya menyipit menembus keremangan barak.

Saku baju Kanti mulai berasap tipis. Aroma kayu tua yang terbakar tercium samar, aroma yang asing di tempat ini. Dan dari balik kain lusuh itu, pendaran cahaya keemasan mulai menyala. Berdenyut. Dug. Dug. Dug. Seperti detak jantung yang baru saja dibangkitkan dari kematian. Cahaya itu bukan berasal dari tubuh Kanti. Tapi dari benda yang dia pegang.

"Lontar..." bisik Yonas takjub. Dia mengenali pendaran warna itu. Itu bukan Laku biasa yang berwarna-warni (merah untuk api, biru untuk air). Itu warna emas tua, warna Lontar Ireng yang sering diceritakan ayahnya sebagai dongeng sebelum tidur. Naskah terlarang yang ditulis bukan dengan tinta, tapi dengan cahaya yang dipanen dari bintang dan dikunci dengan darah. Benda yang katanya hanya mitos.

Cahaya itu semakin terang, menembus kain selimut, menciptakan pola bayangan fraktal yang menari-nari di udara. Vey bergerak gelisah, terganggu oleh perubahan intensitas cahaya yang menembus kelopak matanya. Matanya terbuka perlahan. "Yon?" bisik Vey, mengerjap silau, tangannya meraba-raba mencari kacamata di lantai tanah. "Ada apa? Patroli? Lampu nyala?"

"Sstt," Yonas memberi isyarat diam dengan jari di bibir, lalu menunjuk dada Kanti. "Lontarnya bereaksi. Dia bangun."

Vey merangkak mendekat, membetulkan letak kacamatanya yang miring. Matanya yang tajam langsung menganalisis situasi, memproses data visual di depannya dengan kecepatan tinggi. "Ini bukan sekedar gambar acak," bisik Vey, nada suaranya berubah dari mengantuk menjadi terpesona. Rasa ingin tahu ilmiahnya mengalahkan rasa kantuknya. "Liat polanya, Yon."

Cahaya emas yang merembes dari saku Kanti itu tidak menyebar liar. Cahaya itu bergerak memutar, teratur, presisi, seolah mengikuti jalur sirkuit yang tak terlihat. "Keluarkan," kata Vey mendesak. "Pelan-pelan. Jangan sampai putus kontaknya dengan Kanti."

Yonas mengangguk. Dengan jari-jarinya yang besar namun sangat hati-hati seperti memegang kupu-kupu rapuh. Dia menarik ujung benda kayu itu dari cengkeraman tangan Kanti yang sedang mengigau. Begitu terekspos udara barak, permukaan Lontar itu terlihat jelas.

Benda itu bukan lagi lempengan kayu mati yang kusam seperti seminggu yang lalu. Permukaannya hitam pekat mengkilat seperti obsidian cair. Dan di atasnya, serat-serat kayu yang dulu terlihat acak, kini dialiri cahaya emas yang bergerak mengalir seperti cairan pijar. Cahaya itu bermula dari satu titik di tengah, lalu melengkung keluar, semakin lebar, semakin besar, dalam putaran yang sempurna.

"Geometri fraktal..." desis Vey, napasnya tertahan. Matanya memantulkan keindahan matematika itu. "Aku pernah liat ini. Di buku catatan tua Kakekku yang dilarang dibaca orang lain. Buku tentang 'Sains Terlarang Nusantara'. Ini pola spiral Fibonacci. Rasio Emas. 1, 1, 2, 3, 5, 8... rasio 1.618."

Lihat selengkapnya