BREGADA LULUHAN

PapaDi_YSELnury
Chapter #28

BAB 10.1 KALENG PENYOK


Vey terbangun dengan sentakan adrenalin yang menyakitkan, seolah ada jarum es yang ditusukkan langsung ke otaknya. Bukan karena adanya teriakan di barak yang memekakkan telinga. Bukan karena mimpi buruk tentang angka-angka yang memakan manusia. Tapi karena sebuah kesadaran logis yang terlambat masuk ke otaknya: Sampah.

Semalam, karena kelelahan ekstrem pasca-kabur dan euforia sesaat akibat lonjakan glukosa dari memakan sarden, Vey melanggar protokol dasar kriminal yang paling dasar: Meninggalkan barang bukti di Tempat Kejadian Perkara. Kelelahan adalah musuh alami logika. Saat tubuh kekurangan energi, otak memprioritaskan fungsi bertahan hidup dasar yaitu tidur dan pencernaan. Akibatnya fatal. Kaleng sarden kosong yang sudah diremukkan Gana itu masih tergeletak di lantai, sedikit menyembul dari balik kolong amben mereka.

Vey membuka mata, napasnya tertahan. Tangannya meraba saku surjan dengan gerakan seefesien mungkin, mencari paku berkarat yang dia ambil dari bingkai ventilasi kemarin sebagai senjata darurat. Jari-jarinya menyentuh logam dingin yang kasar itu, tapi dia tahu dia sudah terlambat.

Di amben sebelahnya, Reno sudah berada disana.

Vey tidak langsung bergerak. Dia membeku, membiarkan kelopak matanya terbuka hanya segaris, meniru ritme napas orang tidur. Di balik kacamata retaknya yang miring, bola matanya bergerak cepat melakukan analisa.

Otaknya, yang kini bekerja dengan sisa-sisa energi semalam, mulai menyusun simulasi eliminasi saksi.

Jarak ke target: 1.5 meter. Senjata: Paku besi berkarat 10 cm. Kendala: Pencahayaan minim dan posisi tidur yang tidak menguntungkan.

Vey tahu anatomi. Dia tahu persis di mana letak arteri karotis di leher Reno. Jika dia melompat sekarang dan menancapkan paku itu dengan sudut 45 derajat di bawah rahang, Reno akan mati dalam waktu kurang dari dua menit karena pendarahan. Suara teriakan bisa diredam dengan bantal apek di bawah kepalanya.

Tapi ada variabel lain. Darah. Cipratan darah arteri memiliki tekanan tinggi. Jika darah itu mengenai lantai barak atau baju Vey, itu akan menjadi jejak biologis baru yang lebih susah dibersihkan daripada kaleng sarden. Membunuh Reno mudah; membersihkan sisa pembunuhannya yang mustahil.

Jangan gegabah, perintah logika Vey pada tangannya yang sudah gemetar memegang paku. Observasi dulu. Apakah dia sudah melihat isinya? Apakah dia paham apa yang dia pegang? Atau dia cuma tikus yang penasaran dengan benda mengkilap?

Ketegangan di udara terasa setajam silet. Vey bisa mendengar detak jantungnya sendiri berdentum di telinga, berpacu dengan suara tetesan air dari keran bocor di ujung lorong. Dia menahan napas sampai paru-parunya perih, menunggu Reno membuat gerakan pertama.

Penampilan anak Jakarta Selatan itu sudah hancur lebur, nyaris tidak bisa dikenali sebagai manusia yang sama dengan seminggu lalu. Tidak ada lagi jambul pompadour gaya yang kaku oleh pomade mahal. Kepalanya kini botak plontos dari bekas cukuran paksa yang mulai ditumbuhi rambut-rambut kasar seperti sikat kawat, mencuat tidak beraturan. Kulit kepalanya berminyak, kusam, dan dipenuhi koreng kecil akibat garukan kuku yang kotor dan infeksi jamur.

Reno sedang memegang gumpalan logam, kaleng sarden yang sudah gepeng tak berbentuk itu. Reno tidak berusaha membukanya dengan alat. Dia menjilati pinggiran logam tajam itu. Lidahnya yang pucat menyapu sisa saus tomat yang terjepit di lipatan penyok yang tajam. Dia tidak peduli meski ujung kaleng itu menggores lidahnya.

Srrrt.

Suara lidah bergesekan dengan logam bergerigi. Darah segar menetes, bercampur dengan sisa saus tomat, menciptakan warna merah darah. Reno terus menjilat, menelan darahnya sendiri demi rasa manis sisa bumbu. Matanya terbalik ke atas, pupilnya mengecil dalam ekstase.

Dia seperti pecandu yang sedang menjilati sisa bubuk terakhir dari lantai kotor.

Lihat selengkapnya