Vey ingat betul momen ketika mereka menyadari betapa mahalnya harga "Sihir" ini. Malam itu, mereka berusaha menyalakan kembali Lontar di Barak Karantina, bersembunyi di balik tenda selimut yang menjadi dinding pelindung mereka. Kayu Lontar itu sendiri terasa dingin sedingin kayu bekas yang ditelantarkan bertahun tahun.
"Mati?" tanya Gana panik waktu itu, mengguncang kayu itu. "Jangan mati dulu atuh! Harapan kami ada di situ!"
"Bukan mati. Lapar," analisis Vey, mengamati. "Hukum Termodinamika berlaku universal: Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, hanya berubah bentuk. Output cahaya hologram ini butuh Input energi. Dan baterainya habis."
Vey menyuruh semua orang mencoba memegang Lontar dan mengalirkan energi Laku mereka. Saat Vey memegang: Tidak ada reaksi. (Energinya ada di otak, bukan kalor). Saat Yonas memegang: Lontar menjadi berat, tapi tetap dingin. Saat Gana memegangnya...
WOOSH.
Suara hisapan udara terdengar. Lontar itu menyedot panas tubuh Gana secara agresif.
"ARGH! Panas! Eh, dingin! Sakit!" Gana menjerit tertahan, mau melepaskannya, tapi tangannya seperti dilem super ke permukaan kayu itu. Wajah Gana memucat drastis. Urat-urat di tangannya menonjol biru sementara Lontar itu terus menyedot panas tubuhnya.
"Input energinya bermasalah," gumam Vey panik, matanya memindai. "Gana itu reaktor nuklir bocor. Arusnya terlalu liar. Lontar ini butuh arus yang stabil. Kita butuh Stabilizer!"
Yonas, yang memegang bahu Gana, seolah mengerti apa yang kurang. "Kanti!" serunya. "Sentuh! Benda ini mencari tuannya! Gana cuma baterai, dia bukan kuncinya!"
Kanti, dengan tangan gemetar dan wajah basah air mata, memberanikan diri. Dia tidak mengerti soal arus energi, tapi dia mengerti rasa sakit adiknya. Dia meletakkan telapak tangannya yang dingin tepat di atas ukiran pusat Lontar, menumpuk di atas tangan Gana yang membara.
ZING.
Vey menahan napas. Matanya menangkap fenomena fisika yang luar biasa. Saat kulit Kanti menyentuh kayu hitam itu, grafik gelombang yang tadinya acak mendadak menjadi satu garis frekuensi gelombang yang tenang dan harmonis.
Kayu itu seolah "mengenali" Kanti. Mungkin... detak jantungnya? Atau pola gelombang otaknya? Vey melihat warna hologram itu berubah dari oranye liar menjadi biru tenang, lalu emas stabil. Aksara-aksara Kawi yang tadinya terlihat seperti cacing kepanasan kini berbaris rapi, membentuk pola.
"Enkripsi Biometrik..." bisik Vey, takjub. Otak kirinya menyusun kesimpulan dengan cepat: Lontar ini menerapkan sistem keamanan berlapis. Gana adalah Power Supply. Tapi Kanti... Kanti adalah Decryption Key. Resonansi emosi Kanti yang tenang berfungsi sebagai pendingin sekaligus sinyal otentikasi yang valid. Tanpa Kanti, Lontar ini hanyalah kayu pembakar kalori yang mematikan
Gana ambruk, keringat dingin membasahi lantai, tubuhnya menggigil hebat. "Laper..." rintih Gana, suaranya kecil sekali. "Vey... urang laper banget. Kayak abis lari maraton tiga hari... Perut urang perih..."
Vey mencatat itu di otaknya: Konfirmasi Hipotesis. Laku Geni membakar Kalori. Mitokondria di sel Gana dipaksa kerja rodi mengubah cadangan glukosa dan lemak menjadi energi murni bio-listrik. Pantas kita dikasih makan sedikit oleh Waskita. Supaya kita gak punya 'amunisi' buat ngelawan. Kelaparan adalah metode pengendalian senjata.
Lalu masalah kedua muncul: Bahasa. Menu hologram itu tertulis dalam Aksara Kawi Kuno yang rumit, penuh dengan lengkungan dan simbol esoterik. Vey bisa kalkulus, Vey bisa fisika kuantum, tapi dia buta huruf pallawa.
Yonas mendekat. Matanya yang tajam menyipit, mengenali bentuk-bentuk itu dari ingatan masa kecilnya di pedalaman. "Itu bukan tombol acak, Vey. Itu simbol 'Swara' (Suara/Lidah). Dalam tradisi kami, itu simbol komunikasi antar-roh."
Yonas menyentuh simbol itu dengan jari kapalnya.
Zrrrt.
Hologram itu bergerak. Berpasir statis. Lalu menyusun ulang dirinya. Huruf-huruf Kawi itu bergeser, berputar, memecah diri, dan menyatu kembali menjadi bentuk yang dikenal otak modern mereka. Abjad Latin.
ADAPTASI BAHASA INDONESIA. SINKRONISASI BAHASA SELESAI
"Antarmuka Adaptif," gumam Vey takjub, jari-jarinya hampir menyentuh cahaya itu. "Benda ini memindai korteks bahasa di otak penggunanya. Ini bukan sihir klenik. Ini neuro-sains tingkat lanjut yang dibungkus kayu mistis. Teknologi leluhur ini... jauh lebih pintar dari superkomputer manapun yang pernah Ayah beli."
***
Malam hari, jam 01.00. Saat barak hening seperti kuburan. Mereka bergerak. Menyelinap ke area Toilet Belakang—satu-satunya tempat yang jarang dipantau Genta karena suara tetesan air keran yang bocor menutupi frekuensi suara napas dan langkah kaki. Bau pesing dan lumut menjadi parfum mereka malam ini. Beberapa murid lain yang terbangun untuk buang air melihat mereka. Mata bertemu mata di kegelapan. Tapi tidak ada yang peduli. Di Waskita, rasa ingin tahu sudah mati dibunuh rasa lelah. Melihat empat anak berkumpul di pojok toilet hanyalah pemandangan biasa di neraka ini. Prinsip penjara berlaku mutlak: Urus urusanmu sendiri kalau mau hidup.