BREGADA LULUHAN

PapaDi_YSELnury
Chapter #30

BAB 10.3 LISOSOM & RETAKNYA BIJI


Waktu di Waskita tidak berjalan linear seperti jam dinding. Waktu di sini diukur dari seberapa banyak lapisan kulitmu yang mengelupas dan digantikan oleh jaringan parut yang lebih keras.

Satu kaleng sarden di malam itu hanyalah permulaan. Mereka sadar, satu kaleng tidak cukup. Maka, terbentuklah sebuah siklus mingguan yang mematikan. Setiap Selasa malam saat rotasi penjaga di Sektor Barat paling lemah, mereka kembali merayap ke ventilasi. Mencuri lagi. Satu kaleng kornet. Dua bungkus biskuit. Sekantong gula merah. Mereka tidak serakah. Vey menghitung kalori dengan presisi militer: Cukup untuk tidak mati, tapi tidak cukup untuk terlihat gemuk mencurigakan.

Dan tubuh mereka merespons. Bukan menjadi kekar seperti binaragawan tapi mereka menjadi liat. Lemak menghilang, menyisakan serat otot yang menempel ketat pada tulang, siap meledak kapan saja.

Rutinitas di Waskita dirancang untuk mematahkan semangat, tapi mereka justru menggunakannya sebagai batu asahan.

Setelah insiden muntah darah, Vey lebih hati-hati. Dia tidak lagi memaksakan sudut ekstrem. Dia menggabungkan cara pernapasan sesuai saran Yonas dengan Logika.

Gana memejamkan mata. Dia menelan apinya kembali. Wajahnya memerah padam. Urat lehernya menonjol biru. Asap tipis keluar dari telinganya dan pori-pori kulitnya. Dia mengerang kesakitan, seolah menelan batu bara panas. Tahan... Tahan... Resonansi...

SSSSST!

Dari telunjuknya, keluar api biru tipis setajam jarum las. Kecil, sangat fokus, tapi saat mengenai besi rongsokan di depannya, besi setebal 5mm itu langsung meleleh menjadi cairan merah dalam hitungan detik. Plasma.

Gana ambruk, memuntahkan cairan kuning asam lambung miliknya. Napasnya putus-putus. "Panas... perut aing... kayak dibakar..."

"Efisiensi naik 400%," catat Vey tanpa ampun, meski matanya menyiratkan kelegaan. "Minum air. Ulangi lagi."

"Giliranmu, Ti," kata Vey.

"Apa yang harus kulakukan" ujar Kanti. "Lontar bilang aku dominan Empati. Aku cuma bisa ngerasain."

"Salah interpretasi," potong Vey. Dia memutar hologram. "Lihat simpul ini. Banyu bukan cuma Healer. Air adalah Konduktor. Kamu adalah Kabel. Kamu bisa memindahkan beban listrik."

"Maksudnya?"

"Tarik rasa sakit Gana," perintah Vey. "Jangan disembuhkan. Itu butuh energi vitalmu sendiri. Tapi pindahkan."

Kanti menempelkan tangan ke punggung Gana yang kelelahan. Dia memejamkan mata. Dia tidak menyembuhkan. Dia mengambil. Dia membayangkan dirinya adalah selang penyedot. Seketika, warna kulit Gana kembali segar. Napasnya lega. "Wih! Enteng! Ajaib teh!"

Tapi detik berikutnya... BRUK. Kanti jatuh terjerembab. Hidungnya mimisan deras. Seluruh tubuhnya kejang, merasakan kram otot yang tadi dirasakan Gana, tapi dikalikan dua karena tubuhnya tidak siap menerima rasa sakit Gana. "Sakit..." rintih Kanti, meringkuk seperti udang. "Tulangku kayak mau patah... Panas..."

"Bagus," kata Vey dingin, mencatat data itu, meski tangannya gemetar melihat temannya menderita. "Sekarang belajar buang rasa sakit itu ke tanah. Alirkan ke Yonas. Yonas, jadilah Grounding. Jadilah penangkal petir."

Mereka berlatih formasi segitiga. Kanti menyerap racun kelelahan Gana -> Membuangnya ke Yonas -> Yonas menetralkannya ke bumi dengan mengubah kulitnya menjadi batu (isolator). Sirkuit energi tertutup.

Reno mengintip dari balik dinding di bawah, memakan biskuit curian. Matanya terbelalak ngeri melihat Kanti kejang dan Gana berasap. "Mereka gila..." bisiknya pada Darto yang diam. "Mereka nyiksa diri sendiri lebih parah dari Ki Kerta."

Lima minggu berlalu dan sekarang di kelas Ki Bara, Gana tidak diajari bela diri indah. Dia diajari menjadi paku bumi.

"Kuda-kuda!" bentak Ki Bara, suaranya memecah panas siang bolong. Gana merendahkan tubuhnya di atas pasir yang membakar telapak kaki. Dulu, kakinya akan gemetar dalam lima menit karena tremor kurang gula. Sekarang, setelah lima minggu asupan protein rutin dari logistik curian, otot pahanya solid seperti akar pohon jati tua.

Ki Bara berjalan santai membawa tongkat rotan yang ujungnya dibakar, memukul perut murid satu per satu untuk menguji kekerasan otot. BUGH. BUGH. Anak-anak lain muntah air kuning atau pingsan seketika.

Lihat selengkapnya