Prolog
Pandangannya kosong, wajahnya tenang seolah menikmati pemandangan di depannya yang.... juga tenang. Matanya, otaknya sadar tentang apa yang dilihat, air mengalir, sesekali daun kering jatuh dan terseret arus air yang tenang.
Tapi jauh dari ketenangan yang tampak di permukaan, otak Laura berisik dan bertempur satu sama lain, seolah sedang ada perang Barathayuda di sana.
"Haaaah...." hembusan napas lembut keluar dari belah bibir tebal Laura seolah ingin mengeluarkan beban berat yang ada dalam pikirannya.
Sebuah senyum diukirnya begitu cepat, seolah tak ada keributan dalam hati dan pikirannya, seolah luka yang tadi ditorehkan orangtuanya bukan lah sebuah luka. Seolah ucapan pedas kakaknya bukan lah hal yang menyakiti hatinya.
"It's okay, I'm fine," ucapnya sambil tersenyum dan menepuk dada seolah ingin merapalkan mantera agar bisa kuat.
Dengan cepat ia menghapus bekas air mata di pipi kanan dan kirinya. Menginjak puntung rokok dan melanjutkan lari paginya.
“Baby?” ucap Laura.
Keramik
"Plaaaaak"
Laura hanya bisa menggigit bibirnya, menggenggam erat selimut yang menyelimuti tubuhnya, menariknya ke atas, seolah itu menjadi satu-satunya alat untuk berlindung. Tak ada air mata, tak ada keramaian di otak, hanya kosong. Tatapannya bahkan kosong mendengar suara tamparan yang begitu keras.
Bahkan tanpa melihat dengan mata kepala sendiri, Laura tahu itu adalah tingkah ayahnya. Dan di saat seperti ini, biasanya kakaknya yang akan berdiri menengahi pertikaian kedua orangtuanya.
Hening kemudian, terlalu hening yang membuat Laura mulai berisik lagi isi kepalanya merangkai semua kemungkinan.
Sampai akhirnya dia mendengar ibu dan kakaknya berbicara. Biasanya kalau mereka sudah bicara seperti ini, bisa dipastikan ayahnya keluar dari rumah.
"Adek tuh tiap kali kayak gini pasti tidur," ucap kakak perempuan Laura, Leonor.
"Iya biarin aja, adekmu emang gitu kan," sahut ibu Laura, Amyrea Soerjono.
Mendengar hal itu dari orang yang dianggapnya dekat, entah kenapa tak membuat Laura sedih, ia bahkan tak bisa menerjemahkan perasaannya. Ia hanya meremat dadanya sendiri.
"It's okay Lau, it's okay," ujarnya merapal mantera, hal yang selalu dilakukan sejak daddynya terang-terangan berselingkuh dan sering melakukan KDRT pada mommynya.
Ia memang tak seperti kakak perempuannya yang berani berdiri dan menjadi penengah setiap kali terjadi keributan di rumah. Laura terlalu penakut untuk melakukan itu semua. Ia memilih lari dan sembunyi.
Suara kembali tenang, Laura memejamkan mata saat mendengar pintu kamarnya dibuka. Dia yakin itu kakak perempuannya.
Dia tahu kakaknya menarik kursi untuk duduk, dia mendengar semuanya, tapi tetap pura-pura tidur.
"Kamu enak banget sih dek, tidur terus," ucap sang kakak.
"Enggak tahu dan enggak peduli mom and dad berantem," lanjut sang kakak tanpa tahu kalau adiknya mendengar semuanya, tanpa tahu Laura hanya bersembunyi di balik selimut.
Laura hanya bisa mengembuskan napas halus untuk menelan semua prasangka yang diucapkan kakaknya. Prasangka yang mungkin tak akan pernah kakaknya sadari hal itu telah melukai hati adiknya bertahun-tahun kemudian. Karena Laura memilih untuk terus menyimpan rahasia itu sendiri.
Rahasia bahwa selama ini dia bukan tidur, tapi dia memilih untuk mendengar semuanya dalam kesunyian, memendam semuanya sendiri, mengemasnya dengan topeng sebagai anak kedua yang tak pernah peduli, anak yang seolah tak punya empati, terlalu tenang ketika menghadapi badai.
Cukup lama Laura bersembunyi di balik selimutnya sampai merasa waktunya cukup. Cukup untuk menenangkan diri, cukup untuk merasa tak ada lagi emosi, cukup untuk terlihat baik-baik saja, seolah benar-benar baru bangun dari tidur dan tak mendengar tak tahu apa-apa.
"Dah bangun dek?" tanya kakak perempuan Laura sambil sekilas melihat ke arahnya.
"Heemmm," jawab Laura singkat sambil merapikan selimut.
"Kamu ada les enggak hari ini?" tanya kakak perempuan Laura, Leonor.
"Iya, jam 3 nanti," jawab Laura singkat.
"Adek di mana?" tanya Laura pada kakaknya.
Selisih 13 tahun dengan adiknya, membuat Laura sebenarnya bingung menerima semuanya. Terlebih setelah dia tahu alasan di balik ibunya hamil lagi di usia tak muda lagi.
Tak hanya sulit menerima kenyataan bahwa dia akan semakin kehilangan perhatian dan kasih sayang yang selama ini diperoleh sebagai anak bungsu, tapi juga fakta bahwa adiknya hadir hanya karena ancaman ayahnya.
Ancaman untuk diceraikan jika tak memiliki anak laki-laki sebagai penerus. Klise tapi itu yang terjadi dalam keluarga Laura. Keluarga yang tampak sempurna di luar, tapi di dalamnya tak lebih dari sebuah medan perang bagi Laura.
"Adek masih di Playgroup kan sama mbak Rose, baru pulang jam 3 nanti," jawab kakakku.
"Ooooh," jawab Laura singkat, seolah tak ingin memperpanjang lagi percakapan itu.
"Tadi mommy berantem lagi sama daddy," ucap Leonor, tanpa penekanan, tanpa emosi, tanpa melihat ke arah Laura, hanya seperti pemberitahuan.
"Hemmm," jawab Laura.
"Udah gitu aja?" tanya kakak perempuannya dengan nada yang seolah tak percaya dengan sikap adiknya.
"Ya, mau gimana lagi, kan emang itu udah jadi kebiasaan mereka," ucap Laura ringan, terkesan dingin, seolah dia tak mendengar semuanya tadi.
"Ya, ya its's so you," ucap kakaknya lagi.
Laura mendengarnya meskipun itu diucapkan lirih, bahkan mungkin lebih seperti bisikan.
-----------------------------------------***------------------------------------------------
Hening, ini terlalu hening untuk suasana rumah yang biasanya dipenuhi dengan suara lemparan barang, atau tamparan atau teriakan kedua orangtuanya.
Ya, sejak tadi Laura hanya duduk diam di sofa, di depannya sang kakak dan ibunya, mereka tampak sedang menyusun masa depan, sementara Laura di sini memikirkan cara bertahan hidup jika tak ada lagi kakaknya. Di mana dia akan bersembunyi? Karena dia tak lagi bisa bersembunyi, dia yang harus menggantikan posisi kakaknya untuk berdiri diantara orangtuanya jika sedang bertengkar, dia yang harus ada di sana untuk menggantikan pukulan ayahnya yang biasa diarahkan pada ibunya.
"Adek, kamu jangan ikut-ikut aku daftar kuliah di luar kota ya. Kamu harus tetap di sini, jagain mommy. Jangan kuliah jauh-jauh," ucap kakaknya yang terdengar sederhana, tapi lebih mirip vonis. Tak ada pilihan, tak ada kesempatan bicara, hanya keputusan yang menuntut rasa tahu diri dan kemanusiaan.
"Iya," jawab Laura singkat, tak menolak, tak ada emosi dalam nadanya, tak ada kecewa, hanya menerima takdirnya.
Dalam pikiran Laura....kosong, tak tahu apa yang harus dia lakukan, ucapkan atau harus seperti apa dirinya merespons. Laura tak tahu sejak kapan mulai tak bisa merasakan emosi yang seharusnya. Semua terasa "biasa" baginya.
Di tengah lamunannya, suara mbak Rose memanggilnya untuk kembali ke realita.
"Mbak, ditunggu mas Timur di depan," ucap mbak Rose sambil menuntun adik Laura.
"Mom, aku keluar dulu sama Timur," ucap Laura kemudian berpamitan.
"Iya, jangan pulang malem-malem," pesan ibunda Laura dan kembali melanjutkan percakapan dengan kakak perempuan Laura tentang rencana kuliah di salah satu universitas negeri di Jawa Timur itu.
Menunduk sambil berjalan ke arah teras, mata Laura memindai dan tak melihat ada sosok kekasihnya.