Broken Arrow

Tantan
Chapter #2

Eremosis

Eremosis

Akhirnya hari keberangkatan kakak perempuan Laura untuk kuliah di universitas negeri salah satu kota di Jawa Timur tiba. Laura bahkan tak sempat berpamitan karena sang kakak berangkat ketika Laura masuk sekolah.

Hanya ibu dan adik laki-laki Laura yang mengantar kakak perempuan Laura ke Surabaya.

Rumah sepi, Laura juga tak tahu kemana ayahnya pergi selama beberapa hari ini. Seolah menjadi kesempatan bagi ayahnya menghabiskan waktu dengan 'perempuannya' karena sang istri sedang sibuk di luar kota.

"Tik tak tik tak tik tak" suara jam dinding model lama dengan bandul besar bergema di rumah besar itu, seolah menyiratkan betapa hampa ruangan yang didominasi dengan warna krem itu.

Ujung jari telunjuk Laura mengetuk penuh irama di atas permukaan kursi. Matanya terus menatap jam besar yang berdiri di salah satu sudut rumahnya itu.

"Ada yang enggak beres," pikir Laura.

Rumah dan suasana yang tenang seolah menjadi hal tak biasa bagi Laura yang terlalu biasa menghadapi medan perang di rumahnya sendiri.

Setiap langkah yang ia pijakkan di rumah seolah menjadi lapangan penuh ranjau, setidaknya itu yang selalu ada dalam pikiran Laura.

Ketenangan sesaat yang dirasakan Laura memang tak akan pernah bisa menjadi miliknya.

Semua kedamaian itu seperti gelembung sabun. Indah, sesaat dan pecah tak bersisa.

"Braaaaaakkkk!!!!!!" Laura terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara benturan begitu kencang dari arah luar rumahnya.

Berlari ke arah jendela, matanya memicing, khas orang baru bangun tidur, berusaha menelisik apa yang terjadi. Ia berlari keluar kamar dan melihat ke kamar kakaknya, dan Laura baru sadar bahwa kakaknya sudah tak tinggal di kota yang sama dengannya.

Laura berlari menuruni tangga, memastikan yang ia lihat dari balkon tadi hanya kesalahan matanya, tapi mendekati anak tangga terakhir, kakinya seolah ragu untuk bergerak lebih jauh. Jantungnya berdebar kencang. Laura hanya memegang dadanya, merapal berbagai macam doa.

Langkahnya perlahan mundur, Laura memilih kembali ke atas, menuju kamarnya. Ia kembali meringkuk ke kasurnya, bersembunyi di balik selimutnya.

Tenang, semua terasa tenang kembali, tapi Laura mendengar langkah terburu, seolah saling mengejar. Kini rumah tak lagi setenang tadi. Keheningan berganti dengan teriakan, makian, cacian satu sama lain.

Laura memejamkan matanya rapat, biasanya dia bisa berlindung di bawah selimutnya. Tapi kali ini hatinya tak tenang. "Adikku di mana?" ucapnya dalam hati. Karena menduga adiknya pasti dalam gendongan ibunya, ya, perempuan yang disebutnya sebagai mommy itu selalu membawa adiknya dalam gendongan setiap kali berhadapan dengan sang suami.

Baru membuka selimut, berusaha mengumpulkan keberanian demi adiknya, Laura seperti mendapat tamparan ketika suara teriakan ibunya terdengar pilu. Laura buru-buru turun dari tempat tidurnya, berlari menuruni tangga, dan betapa terkejutnya dia melihat sang ibu berpapasan dengannya di tangga dalam kondisi berdarah-darah di wajahnya.

Kesadaran Laura seolah hilang, ia berdiri diam, perlahan matanya menatap darah berceceran di lantai, sementara ayahnya masih mengejar ibunya yang saat itu masih menggendong adik laki-laki Laura.

Ibunya meletakkan sang putra ke sofa depan televisi yang ada di lantai dua. Sementara Laura yang kembali dari keterkejutannya berjalan cepat mendekati orangtuanya.

Ia melihat bagaimana ayahnya menjambak rambut ibunya, mencengkeram leher ibunya dengan tangan yang kokoh itu. Sementara ibunya menatap nyalang ayah Laura. Darah terlihat di hidung dan sudut bibir ibunya. Saat itu juga Laura tak bisa merasakan apa pun, selain berpikir menghentikan keduanya. Sebelum, salah satu mati.

"Papi udah. Pi udah, cukup. Papi enggak lihat mommy?" kata Laura dalam teriaknya. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan pria yang ia sebut papi itu. Laura bisa melihat kemarahan dari sorot mata ayahnya. Mata pria yang seharusnya jadi pelindung dan contoh untuk anak-anaknya itu. Saat itu Laura tak pernah tahu kejadian malam itu akan menjadi pemicu semua keputusan salah dalam hidupnya kelak.

Melihat tak ada pergerakan dari ayahnya untuk melepaskan cengkeraman, Laura menaikkan nada suaranya,"Daddy!! STOP, daddy lihat adek. Daddy boleh marah, boleh tampar aku, tapi lihat adek, lihat mom, are you out of your mind?"

"Dad boleh tampar Lau, tapi please...jangan mom sama adek lagi...pleasee," ujar Laura kali ini mencengkeram erat pergelangan tangan ayahnya, mencegah agar tangan kekar namun ramping milik pria yang selalu disebutnya daddy itu untuk berhenti memukul ibunya.

Suara bergetar Laura membuat ayahnya perlahan melihat ke arah putranya yang duduk dan menangis di sofa.

Saat itu sang ibu masih ingin melanjutkan pertengkaran, kembali mengeluarkan kata-kata cacian yang membuat ayah Laura kembali menengok ke arahnya.

"Mommy juga STOP, diem, mommy enggak kasihan adek hah?" ujar Laura kali ini dengan suara pilu.

Mendengar teriakan anak keduanya yang biasa pendiam dan terlihat tak pernah peduli pada urusan keluarga, membuat ibunda Laura terdiam. Tangannya masih gemetar di sana, matanya masih sama, penuh rasa tak percaya, terluka, marah, namun kini perempuan yang terkenal berkuasa di luar itu menundukkan kepalanya karena mendengar teriakan anak perempuannya yang selama ini terlihat tenang.

Ayah Laura pergi begitu saja, tak ada kata-kata lagi terucap. Saat itu Laura hanya bisa mendengar pintu kamar dibanting.

"Ha.ha.ha.ha," suara tawa ibunya membuat Laura melihat miris ke arah sang ibu.

"Temenin mommy visum," kata sang ibu dengan tenang, seolah kejadian barusan bukan hal besar.

Ibunya melangkah begitu saja, mendekat dan menggendong adik Laura.

Berjalan mengikuti ibunya menuruni tangga, mata Laura masih tak bisa lepas dari bercak darah yang kini mengering di lantai. Matanya mengikuti arah bercak darah itu, dan ternyata berhenti di dekat tembok ruang tamu. Saat melihat ke dinding, Laura tahu tadi kepala ibunya juga dibenturkan ke dinding, masih ada bekas di sana, tapi yang Laura lihat hanya darah di wajah ibunya.

Laura memegang erat dadanya melihat itu semua. Meskipun berat, langkah kakinya teratur mengikuti ibunya yang sudah lebih dulu berjalan di depan. Tak ada rasa sedih, marah, Laura seperti biasa, hanya merasa kosong dan tak tahu. Laura tak pernah tahu kejadian-kejadian ini kelak akan membawanya pada kondisi Distimia.

Lihat selengkapnya