"Hai, nice to meet you. Laura," ujar Laura dengan suara tenang saat bersalaman dengan seorang klien.
Seorang pria yang berusia lebih dewasa dari Laura menatapnya dari ujung rambut hingga kaki.
"Laura?" ujar pria itu dengan senyum menawan.
Laura tertegun menatap narasumber yang berdiri tegap di depannya, menyunggingkan senyum begitu manis.
Melihat kembali ponselnya, Laura baru menyadari narasumber yang disarankan oleh asisten pribadinya ternyata mantan kekasihnya yang sudah tak bertemu dengannya puluhan tahun.
"Hai," jawab Laura dengan nada canggung tapi berusaha menutupinya dengan profesionalisme.
Timur terus menatap Laura disaat perempuan yang kini duduk dengan anggun di depannya itu menjelaskan konsep desain rumah yang akan dibangun Timur.
"Menurut kamu gimana?" tanya Laura dan menyadari Timur langsung mengalihkan pandangan ke sembarang arah.
"Oke aja, aku percaya sama kamu," ucap Timur tegas.
"Kamu enggak penasaran ini rumah mau buat apa?" tanya Timur kemudian.
"Even without asking, I know it already," ucap Laura berusaha menyembunyikkan luka di dalam hatinya.
Laura tak pernah sekali pun menyalahkan Timur atas perpisahan mereka dulu. Bahkan jika Timur membencinya, ia merasa pantas mendapatkannya.
"How's your mom?" tanya Timur yang membuat Laura menyunggingkan senyum di wajah cantiknya.
"Ya, you know that it'll never better tho," jawab Laura dan direspsons dengan anggukan Timur, seolah paham.
Keduanya sebenarnya tak perlu banyak bicara untuk tahu keadaan satu sama lain. Waktu pacaran empat tahun membuat mereka sebenarnya bisa saling memahami bahkan dari gesture sekecil apa pun. Tapi takdir yang membuat keduanya kembali bertemu di titik yang mungkin tak pernah diharapkan Laura, atau bahkan juga Timur.
"You know that they'll never ever divorce, so yeah," ucap Laura sambil tersenyum.
Senyum manis yang di mata Timur justru menyisakan banyak luka di dalamnya. Pandangannya tak bisa lepas dari sosok perempuan yang pernah memporak porandakan hatinya. Sosok yang karena kekacauan keluarganya akhirnya melukainya.
"Bagiku cintamu terasa asing, bukan karena kamu salah, tapi karena aku yang tak pernah melihat dan merasakan seperti apa itu cinta," kata Laura saat mereka berpisah dulu.
Laura tak pernah tahu sebesar apa usaha Timur untuk mengerti kondisinya, kekacauan otak dan hatinya karena orangtuanya.
Bahkan disaat Laura memutuskan pergi, melepaskan tangannya dari Timur, Timur tetap berusaha menahannya.
"Jangan kayak gini, please," ucap Timur saat itu memohon, seolah memohon setengah nyawanya untuk dikembalikan.
Keduanya hanya saling menatap tanpa berbicara.
"Ya udah, aku pamit ya. Buat next meeting asisten aku kabarin lagi kalau desainnya udah jadi," kata Laura.
"Kamu bisa approval online aja kalau misal enggak bisa. Karena aku dikasih tahu asistenku kamu butuh cepet ya," ujar Laura tak menatap, dan hanya membereskan tabnya setelah meeting singkat untuk pra-design tadi.
Tanpa harus mendengar jawaban Timur, Laura melangkahkan kaki meninggalkan kafe kecil dengan nuansa mirip toko buku kecil.
Timur memutuskan untuk duduk lagi, menatap cangkir kopi yang telah kosong.
("Sejak kapan dia jadi begitu kecanduan kopi? Ini kayak bukan Laura yang aku kena" )
Pikiran Timur ditarik kembali ke dunia nyata saat ponselnya bergetar. Pesan dari kekasihnya yang tak lama lagi akan berganti status sebagai istri itu.
"Kamu jadi jemput?" Timur membalas dengan cepat "Iya, sebentar ya."
Pikirannya masih terbang di momen pertemuan kilat bersama Laura beberapa jam lalu, sampai Timur tak menyadari bahwa calon istrinya kini sudah duduk manis di dalam mobil mengamatinya.
"Are you okay bae?" tanya perempuannya yang menarik Timur dari dunianya.